
Pagi ini Nia kembali memakai seragam khusus untuk pelayan di mansion itu, seragam yang sudah beberapa hari ini tidak ia gunakan. Pelayan yang lain berbisik-bisik dengan kembalinya Nia memakai seragam itu setelah kepergian nyonya besar mereka dan menerka-nerka apa yang terjadi antara Nia dan juga tuan muda mereka.
"Sudah, tidak perlu dihiraukan! " Halima tau persis dengan perasaan Nia saat itu. Nia pun tersenyum kepada Halima menandakan ia baik-baik saja.
"Pagi pak Gus..." sapa Nia kepada pak Agus yang baru saja datang dari belakang mansion. Pak Agus hanya menghela nafasnya melihat Nia berada bersama para pelayan yang lainnya sedang berbaris disana menunggu perintah dari sang kepala pelayan di mansion itu yang tak lain adalah pak Agus sendiri.
Sebenarnya pak Agus tau dibalik kembalinya Nia kekamar Halima tadi malam dan pagi ini nyonya itu kembali memakai seragam pelayan itu pasti tuan Gael dibalik itu semua.
"Baiklah untuk hari ini seperti biasa kalian mengerjakan pekerjaan kalian seperti biasa! " perintah pak Agus.
Satu persatu mereka pun mulai membubarkan diri dan mulai melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Tak terkecuali Nia, ia juga mulai pada pekerjaan seperti biasa yang ia lakukan.
"Pagi tuan... " sapa Nia sambil membungkuk badannya kepada Daren yang baru saja tiba untuk menjemput tuan Gael.
"Nyonya? kenapa anda melakukan ini dan seragam ini? " cecar Daren menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Nia.
"Daren.. Kau kemari bukan untuk mengurusi hal yang tidak penting kan? " Gael yang tiba-tiba datang dengan suara datarnya. Membuat Daren dan Nia menoleh secara bersama-sama kepadanya.
"Maaf tuan. " Ucap Daren kemudian meninggalkan Nia disana yang sedang membersihkan meja diruang keluarga dan mengikuti tuannya itu dari belakang.
Nia hanya menghela nafasnya kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
Didalam mobil menuju perusahaan AGL Residence Daren menanyakan hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Tuan, kenapa nyonya Nia memakai seragam itu? "selidik Daren melirik tuannya itu dari kaca mobil yang didepannya.
"Bukankah sebelumnya ia memang memakai seragam yang sama dengan apa yang dipakai nya sebelumnya? " tanya balik Gael.
"Bukan itu maksud saya tuan. " Ucap Daren.
"Biarkan saja dia melakukan apa pun sesukanya!" tegas Gael. "Tapi tuan... " Daren mencoba kembali berbicara. "Aku tidak ada waktu Daren membahas masalah pelayan itu. " ketus Gael.
"Tuan, seperti apa pun keadaan nya nyonya Nia adalah istri tuan! " peringat Daren. "Kau bisa saja berkata seperti itu karena bukan kau yang berada diposisi ku saat ini, menikah dengan orang yang tak aku kenal sebelumnya dan tidak aku cintai." Lirih Garl.
"Tapi setidaknya tuan bisa mencoba membuka hati tuan dan menerima nyonya Nia sebagai istri tuan." Daren memberikan saran kepada tuannya itu.
__ADS_1
"Entahlah aku sendiri bingung harus berbuat apa?" Gael menyandarkan punggungnya di sandaran mobil mewahnya itu.
Prang
Nia yang tak pokus pada pekerjaan nya menjatuhkan pas bunga yang ada diruang tengah mansion itu dan ternyata mengenai kaki kanannya.
"Ada apa ini? " Pak Agus datang menghampiri Nia.
"Maaf pak Gus a aku tidak sengaja menjatuhkannya. " Nia berkata dengan terbata-bata takut terkena masalah karena keteledoran nya.
"Berhati-hatilah ketika sedang bekerja dan cepat dibereskan semua ini! " perintah pak Agus kepada Nia dan meninggalkan Nia begitu saja.
Nia membersihkan satu per satu pecahan pas bunga tersebut dan baru ia menyadari bahwa kakinya mengeluarkan darah.
"Nia berikan pada ku biar aku yang melanjutkan membersihkan ini semua kau obatilah kaki mu dulu! " suruh Halima yang melihat kaki Nia yang terus mengeluarkan darah.
"Terima kasih. " Ucap Nia merasa tidak enak sudah menyusahkan Halima karna perbuatan nya.
"Kau kenapa masih berdiri disitu? pergilah obati luka yang ada dikaki mu itu! " suruh Halima lagi.
"Baiklah. " Nia pun menuruti perintah Halima dan mengambil kotak p3k kemudian mengobati lukanya itu.
"Dia siapa tuan? " tanya balik pak Agus.
"Siapa lagi kalau bukan pelayan itu! " Ucap Gael. "Nia tuan! " terang pak Agus. "Ya Nia kau panggilkan dia ! " suruh Gael. "Baik tuan. " Pak Agus pun segera memanggil Nia dikamarnya setelah meletakkan jas dan tas tuannya itu di atas sofa yang ada dikamar tuannya.
"Nyonya... " Panggil pak Agus sambil mengetuk pintu kamar Nia dan juga Halima.
"Ada apa pak Gus? " ucap Nia membukakan pintu kamarnya. "Tuan memanggil Anda nyonya beliau ada dikamarnya sekarang! " pak Agus menyampaikan pesan tuannya itu.
"Baiklah! " ucap Nia kembali masuk kemudian mengikat rambut panjangnya memperlihatkan tengkung jenjangnya sebelum ia menemui tuannya.
Dengan langkah sedikit pincang Nia berjalan menuju kamar Gael.
Tok
__ADS_1
tok
Nia mengetuk pintu itu dengan perasaan yang tidak menentu karna tidak biasanya tuan Gael memanggilnya.
"Ada apa tuan? " tanya Nia begitu ia sudah masuk didalam kamar itu.
"Aku ingin mandi sekarang! " Terang Gael.
"Lantas kenapa tuan memanggil ku jika tuan ingin mandi? " Nia yang tak mengerti maksud dari ucapan Gael.
"Kau siapkan air hangat untuk ku! " perintah Gael dengan suara datarnya tanpa menoleh ke arah Nia yang berdiri di dekatnya.
"Baik tuan. " Nia pun berjalan melewati Gael menuju kamar mandi dengan kakinya pincang nya.
"Tunggu! " Gael melihat kearah jaki kanan Nia.
"Ada apa tuan? " tanya Nia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap tuannya itu.
"Kenapa dengan kaki mu? " selidik Gael untuk pertama kalinya memperhatikan Nia.
"Kaki ku? a.. ini hanya luka kecil tuan. " Jelas Nia.
"Kenapa dengan kaki mu? " Gael mengulangi pertanyaannya.
"Kaki dicium pas bunga yang ada diruang tengah tuan! " Seloroh Nia namun berbeda dengan Gael yang menganggap serius ucapannya.
"Dicium? apa bisa? " Gael kebingungan.
"Tentu saja ini buktinya! " Nia mulai terpancing mengerjai tuan sekaligus suaminya itu.
"Benar kah? " Gael mengkerut kan alisnya menatap bingung kepada Nia.
"Sudah lah jika tuan tidak percaya! " Pekik Nia kemudian ia membalikkan badannya dan masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat seperti perintah tuannya itu.
Sementara Gael masih memikirkan ucapan Nia. "Apa maksud nya sebenarnya? " Gumam Gael yang belum mengetahui maksud dari perkataan Nia.
__ADS_1
"Dasar tuan es balok, begitu saja ia tidak mengerti! makanya jangan hanya pergi pagi pulang malam jadinya otaknya sedikit lemot. Masak ia tuan seperti mu tidak mengerti maksud ucapan ku itu. Hapus dulu file yang tidak diperlukan dari otak mu itu tuan agar tidak lemot! " gerutu Nia berbicara sendiri.
"Apa kau bilang? "