Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Daren bertemu Ica


__ADS_3

Sore ini Ica dan yang lainnya bergegas untuk pulang karna jam kerja mereka hampir selesai. Ica yang sibuk tidak memperhatikan sebuah mobil berhenti tepat didepan toko.


Seorang pria masuk kedalam toko mencari-cari Ica diantara ketiga wanita yang memakai seragam sama. Rika yang menyadari kehadiran pria itu segera berjalan mendekat. "Ada yang bisa saya bantu? " tanya Rika.


"Rika cepatlah layani pelanggan itu dan segera bantu aku mengangkat ini. " Suruh Ica tanpa sadar siapa yang datang.


"Aku ingin menemui dia. " Tunjuk pria tampan yang tak lain adalah Daren.


"Ica? " tanya Rika menoleh mengikuti jari telunjuk Daren.


"Ada apa? " selidik Ica mendengar namanya disebut oleh Rika. Ketika Ica membalikkan badannya menghadap kearah Rika dan pandangan matanya menangkap sosok Daren yang berdiri disamping Rika.


Deg


Ica diam mematung, jantungnya berdetak kencang. Tidak bisa dipungkiri jika Ica sangat merindukan sosok Daren. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk Daren namun ia masih bisa menahan perasaannya tersebut. Memilih memberikan senyumannya kepada Daren.


"Apa kabar? " sapa Ica merasa canggung dengan situasi seperti itu bertemu ketika hatinya belum siap.


"Kabar baik. " Daren mendekati Ica dan mengulurkan tangannya kemudian Ica menerima uluran tangan Daren.


"Ada waktu sebentar? " tanya Daren penuh harap.


"Jika tidak keberatan tunggulah sebentar aku dan yang lainnya akan menutup toko." Pinta Ica.


"Baiklah aku tunggu diluar. " Daren keluar dari toko dan menunggu Ica didalam mobilnya.


Rika dan Vira mencecar Ica dengan berbagai pertanyaan. "Siapa dia? dia pacar mu? " Selidik Rika dan Vira bergantian.


"Dia itu teman aku dan kami sudah lama tidak bertemu. " Jelas Ica.


"Teman apa teman? " ejek Vira.


"Tapi aku rasa lebih dari itu. " Ucap Rika menimpali.


"Sudahlah, cepat tutup tokonya! " suruh Ica mengalihkan pembicaraan.


Daren keluar dari mobilnya begitu melihat Ica keluar dari dalam toko.


"Ayo! " ajak Daren.


"Ha? " Ica bingung.


"Aku akan mengantarkan mu pulang. " Terang Daren.


"Tidak perlu aku bawa motor. " Tolak Ica.


"Biar aku saja yang bawa motor ku pulang. " Ucap Rika yang baru keluar dari dalam toko bersama dengan Vira.


"Sudah sana. " Vira mendorong punggung Ica sampai kedepan Daren.


"Maaf jadi merepotkan. " Ucap Ica kepada Rika.


"Tidak apa, kau pergilah! " suruh Rika.


Daren membukakan pintu mobil untuk Ica. "Terima kasih. " Ujar Ica kemudian masuk kedalam mobil. Daren menutup pintu mobil kemudian mengitari mobil dan ikut naik disebelah Ica.


Suasana terasa canggung dimana mereka berdua tidak ada yang mengeluarkan suaranya. "Kita mau kemana? " tanya Ica begitu menyadari arah jalan yang berbeda menuju tempat tinggalnya.

__ADS_1


"Kau sedang tidak terburu-buru kan? " Daren balik bertanya.


"Tidak, memangnya ada apa? "


"Aku hanya ingin bersama mu sebentar setelah bertahun-tahun lamanya aku tak bertemu dengan mu. " Terang Daren tanpa melihat kearah lawan bicaranya. fokus mengemudikan mobilnya melintasi jalan raya.


Di sebuah taman Daren dan Ica duduk bersama dikursi taman. Taman yang beberapa tahun lalu pernah mereka kunjungi bersama.


"Kenapa kau baru kembali sekarang? " suara Daren memecah keheningan yang sempat terjadi diantara mereka yang sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menikmati taman yang begitu nyaman untuk dipandang mata.


"Aku kembali karna sudah waktunya aku kembali ketempat ku. " Ucap Ica.


"Apa selama ini kau bahagia dengan pekerjaan mu? " Daren kembali bertanya.


"Aku menikmati hidup ku dengan baik dan aku sangat bersyurkur karna hanya dengan begitu aku bisa melewati hidup ku tanpa penyesalan. " Terang Ica menatap jauh kedepan.


"Aku tidak yakin aku mempunyai penyesalan didalam hidupmu. "


"Tentu saja aku punya penyesalan. Karna aku hanya manusia biasa. Lantas bagaimana dengan mu? apa hidup mu baik-baik saja selama ini? "


"Seperti yang kau lihat sekarang ini. Aku baik dan hidup ku harus terus berlanjut. " Pekik Daren penuh dengan arti.


"Ternyata kau juga menikmati hidup mu seperti ku Tapi kita berbeda jika aku menikmati hidup ku karena tidak ada pilihan lain. Sementara kau menikmati hidup mu karena hidupmu sangat pantas untuk menikmati hasil dari jerih payah mu. "


"Tidak juga. Aku melakukan semua karena aku mempunyai harapan yang indah dalam hidup ku. " Terang Daren.


"Harapan? " Lirih Ica.


"Ya harapan. Jangan bilang jika kau tidak mempunyai harapan didalam hidupmu.


"Harapan untuk bertahan hidup. " Lirih Ica.


Dret Dret


Suara ponsel Daren segera ia mengambil ponselnya dari saku kemejanya. Ternyata pesan masuk dari tuan Gael.


"Tuan, tidak bisakah kau sebentar saja tidak mengganggu ku? "


"Aku akan mengantar mu pulang. " Daren berdiri dari duduknya.


"Kau terburu-buru? " Selidik Ica karena melihat Daren yang mendapat pesan dan tiba-tiba mengajaknya pulang.


"Tidak, tapi aku ada urusan lain. "


"Kalau begitu aku pulang naik taksi saja. " Terang Ica merasa tidak enak takut jika dirinya merepotkan Daren.


"Tidak. Aku akan mengantarkan mu. " Tegas Daren tidak mau dibantah.


Ica hanya mengganggukkan kepalanya sebagai persetujuan dari ucapan Daren.




"Terima kasih sudah mengantarkan ku pulang. " Ucap Ica begitu Daren menghentikan mobilnya tepat didepan rumah tempat Ica tinggal.


__ADS_1


"Tidak masalah. Terima kasih juga atas waktunya. " Terang Daren.



"Kalau begitu aku turun. " Ica turun dari mobil Daren. "Hati-hati dijalan. " Ucap Ica sebelum ia menutup pintu mobil yang di anggukkan kepala oleh Daren.



Ica melambaikan tangannya kearah mobil Daren yang mulai bergerak menjauh darinya. Sementara Daren tersenyum melihatnya dari kaca spion mobilnya.



Tanpa sepengetahuan Ica ternyata tantenya sedang mengintip nya dari balik jendela.



"Siapa yang mengantarkan mu barusan? " selidik tante Sarah yang sedang duduk di sofa begitu Ica masuk kedalam rumah.



"Dia teman ku. " Ucap Ica tanpa basa-basi.



"Teman? " Sarah tidak percaya dengan ucapan Ica.



Ica tak memperdulikan ucapan tante Sarah. Memilih untuk pergi. "Kau mau kemana? tante belum selesai bicara. "



"Aku lelah dan ingin beristirahat. "



"Tunggu! Kau dekatilah teman yang kau maksudkan tadi dan hasilkan uang yang lebih banyak untuk ku. " Perintah tante Sarah.



"Apa tante tidak cukup dengan uang yang selalu aku berikan setiap bulannya? bahkan aku memberikan tante lebih besar dari gaji ku dari pada untuk ku gunakan. " Geram Ica.



"Kau pikir uang yang kau berikan setiap bulannya itu banyak ha? " bentak Sarah.



"Tante, berhentilah hidup seperti itu. Aku lelah bekerja dan semua hasil jeripayahku selalu habis untuk memenuhi semua kebutuhan hura-hura tante. "



"Ini balasan mu kepada ku selama ini sudah membesarkan mu ha? " alasan yang selalu saja digunakan oleh Sarah membuat Ica tak berdaya melawannya.



"Terserah tante. " Ica masuk kedalam kamarnya meninggalkan Sarah dengan emosinya.

__ADS_1



"Kapan aku bisa hidup dengan tenang tanpa memikirkan perilaku buruk tante Sarah. " Lirih Ica sambil terisak.


__ADS_2