
Setelah beberapa hari dari kejadian malam itu, akhirnya Daren berhasil meyakinkan niatnya kepada Ica untuk bertanggung jawab kepada wanita yang sudah ia renggut kehormatannya.
Ica akhirnya bersedia menikah dengan Daren. Setelah menemui tante Sarah terlebih dahulu bersama dengan Daren. Tentu saja tantenya Sarah menyetujui rencana pernikahan Daren dan Ica.
Sarah berpikir akan mendapatkan keuntungan dari pernikahan tersebut dengan meminta uang kepada Ica setiap kalinya membutuhkan uang untuk kesenangannya, namun Ica tidak tinggal diam. Ia tau kebiasaan dari Sarah yang akan terus menguras keuangannya. Dan Ica pun memperingatkan Sarah dengan tegas jika Ica tidak akan lagi menuruti permintaan dari Sarah setelah ia menikah.
Sarah pun akhirnya hanya bisa pasrah karna tidak mungkin memaksa Ica seperti dulu lagi. Ia sadar betul Daren tidak akan tinggal diam jika ia berbuat sesuatu kepada Ica.
Gael sedikit terkejut dengan berita yang baru saja disampaikan oleh Daren kepadanya dimana Daren akan menikah dalam waktu dekat ini. Dan mau tidak mau akhirnya Daren pun menceritakan apa yang sudah terjadi.
Gael hanya bisa mendukung apa pun keputusan Daren selama itu demi kebaikan dari asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Ternyata dibalik tampang dingin mu itu tersembunyi pemikiran yang cepat demi mendapatkan wanita yang selama ini kau cintai secara diam-diam. " Seloroh Gael tersenyum mengejek cara Daren menikahi wanita itu.
"Dan itu semua karna saya terinspirasi dari anda tuan! " Seru Daren membalas olokan Gael kepadanya.
"Kau ini? " Kesal Gael namun semua yang dikatakan oleh Daren memang ada benarnya. Bahwa keduanya menikahi wanita mereka karna melakukan sebuah kesalahan terlebih dahulu. Bedanya Daren memang sudah mempunyai perasaan terhadap Ica selama ini sementara Gael menikahi Nia diwaktu Gael belum jatuh cinta kepada Nia.
"Tapi benarkan begitu tuan? " ucap Daren lagi.
"Ya, kau benar! dan aku merasa beruntung malam itu pernah terjadi jika tidak, mungkin aku tidak pernah sebahagia seperti sekarang ini. " Seru Gael menarik sudut bibirnya memberikan senyuman di wajahnya sambil membayangkan wanitanya itu.
"Sudah, sekarang aku mau pulang! kau mengingatkan ku kepada wanita ku. " Tegas Gael berdiri dari duduknya. "Tapi tuan setelah makan siang kita ada rapat. " Cegah Daren agar tuannya itu tidak pergi meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Gael menatap jam tangan di pergelangan tangannya. "Masih banyak waktu untuk itu. " Ucap Gael tak perduli dengan jadwal yang diberitahukan oleh Daren barusan. Yang ada didalam pikiran Gael saat ini hanya ingin menemui wanitanya itu.
Daren menghela nafasnya panjang melihat tingkah laku tuannya yang jauh berbeda jika sudah menyangkut istri tercintanya tersebut. "Beruntung hanya aku yang melihat kegilaan mu tuan." Seru Daren menatap kearah pintu mengikuti punggung tuannya sampai tak terlihat dibalik pintu.
Sementara itu Daren memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengurus pernikahannya dengan Ica. Memastikan kembali semua berjalan sesuai dengan rencana. Daren menyiapkan semua nya sesuai dengan keinginan Ica. Dimana Ica menginginkan pernikahan yang tidak terlalu mewah dan Ica menginginkan acara pernikahan mereka diadakan diluar ruangan. Setelah memutuskan bersama maka acara pernikahan mereka akan diadakan di bali dan akan di hadir tamu undangan dari kerabat kedua belah pihak dan beberapa rekan bisnis dari tuan Gael.
Hari bahagia yang ditunggu-tunggu akhirnya tibanya juga, dimana pasangan itu akan meresmikan hubungan mereka didalam satu ikatan pernikahan.
__ADS_1
Ica sangat terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih yang ia kenakan, ia terlihat sangat bahagia berjalan menuju tempat dilaksanakan nya ijab cabul dengan didampingi teman dari Ica yaitu Rika dan Vira yang selalu setia mendampinginya. Dimana Daren telah menunggunya disana, Mata Daren tak berhenti menatap Ica dari kejauhan hingga Ica sudah berada tepat disampingnya.
Sungguh Daren terpesona akan paras cantik dari wanita yang ia cintai itu. Wanita yang telah berhasil membuat hatinya terpikat dan hanya ada satu nama didalam hatinya. Yaitu Ica yang sudah berhasil memberikan kebahagiaan kepadanya.
Sama halnya dengan Daren yang merasakan hal yang sama dengan perasaan wanita nya itu. Setelah sekian lama ia mencintai Ia dan kini mereka akan menjadikan satu sama lainnya menjadi miliknya seutuhnya. Daren tersenyum mengingat dan sekaligus bersyukur kejadian malam itu terjadi dengan demikian mempercepat dirinya untuk memiliki Ica.
Walaupun awalnya mendapat penolakan dari Ica namun kenyataan nya Ica mau menerima Daren sebagai suaminya setelah Daren meyakinkan wanitanya itu. Ica tersipu malu dimana Daren terus menatapnya tanpa memperdulikan orang-orang yang ada disekitarnya pada saat itu.
Sampai Gael yang melihat hal itu berdehem. "Ehem! mau sampai kapan kau hanya diam seperti itu? " Ketus Gael menyadarkan lamunan Daren. Daren membalikkan badannya menoleh kepada tuannya yang tepat berada dibelakangnya.
"Kau kenapa? " Selidik Gael memalingkan wajahnya dari Daren menatap wajah Nia yang duduk tepat disampingnya. Bukannya menjawab Nia hanya tersenyum kepada Daren sambil menganggukkan kepalanya canggung.
"Kau ini diamlah, acaranya akan segera dimulai. " Seru Nia menggenggam tangan Gael agar suaminya itu tidak berisik. Tak lama kemudian acara pun dimulai.
"Sah! " Suara tamu undangan terdengar setelah Daren berhasil mengucapakan ijab kabul. Kini keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Nia menatap kedua mempelai yang sedang duduk bersama didepannya dengan mata yang berkaca-kaca. Ingatannya kembali dimasa lalu diwaktu Gael menikahinya mengucapkan kalimat yang sama dan setelah itu ia pun sah sebagai istri dari Gael.
__ADS_1
"Sungguh beruntung Ica merasakan kebahagiaan seperti saat ini. " Ucap Nia menatap lurus kedepan.
"Kau benar, mereka berdua beruntung. " Tambah Gael menimpali ucapan dari Nia barusan. "Tapi tunggu, ada apa dengan mu? " Gael menangkup wajah Nia dengan kedua tangannya menghadap kepadanya.
"Kau menangis? " Selidik Gael bingung.
"Iss kau ini? "Nia mengambil kedua tangan Gael dari wajahnya. "Aku hanya ikut bahagia melihat mereka berdua bahagia." Kilah Nia.
"Benarkah? " Gael kembali bertanya memastikan jika Nia baik-baik saja. "Umm! " Sahut Nia tanpa menoleh kearah Gael.
Jauh di lubuk hatinya Nia tersentuh dengan suasana disekitarnya, suasana yang tak pernah ia rasakan. Bahagia dihari pernikahannya sendiri dan bisa tersenyum lepas seperti Ica pada saat ini. Berbeda dengan dirinya dimana pada hari pernikahannya Nia tidak merasakan kebahagiaan melainkan rasa cemas takut menjadi satu pada saat itu.
Menikah dengan pria yang tidak dicintainya rasanya sungguh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Ica saat itu. Nia perlahan menarik nafasnya kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak seharusnya aku memikirkan semua hal yang sudah berlalu. " Gumam Nia menyudahi perasaan melounya sendiri.
Kemudian menoleh kearah Gael yang masih menatap dirinya, memberikan senyuman terindah diwajahnya.
Bersambung!
__ADS_1