Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Mainan baru


__ADS_3

"Apa kau sudah puas menjadikan punggung ku sebagai mainan baru mu? " Suara Gael membuat Nia terkejut dan menghentikan gerakan tangannya.


"Maaf tuan. " Nia menggeser badannya menjauh bersiap jika Gael akan membalikkan badannya. Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Nia. Gael membalikkan badannya mengahadap kepadanya.


Deg


Pandangan mata keduanya bertemu, Gael menggeser badannya mendekati Nia. Sontak membuat Nia semakin menjauhkan kepalanya berharap bisa lepas dari Gael setelah apa yang sudah diperbuat olehnya.


"Habislah aku."


Gael menarik tangan Nia dan membawa Nia kedalam pelukannya. "Tidurlah. " Gael mengecup Puncuk kepala Nia dengan lembut. Sedikit merasa terkejut karna Sebenarnya ia sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk. namun justru yang dilakukan oleh Gael berbeda dengan yang ia takuti. Nia mendongakan kepalanya melihat wajah Gael yang sudah menutup matanya. "Kenapa kau kadang berbeda dari dirimu yang sebelumnya? pelukan ini? aku takut semakin dalam perasaan ini. "


"Sudah selesai memandangi ku? " Gael berbicara tanpa membuka matanya. "Apa? " Nia menggerakkan badannya namun tangan Gael yang memeluknya dengan posesif mengunci tubuh Nia didalam dekapannya.


Nia menutup matanya dan membenamkan wajahnya kedada bidang Gael. "Semoga ini bukan mimpi. " Ucap Nia didalam hatinya.


Usapan tangan Gael dikepala Nia semakin lama semakin pelan dan pada akhirnya berhenti. Nafasnya yang teratur menandakan bahwa Gael sudah terlelap. "Selamat malam. " Ucap Nia memberanikan diri menempelkan bibirnya ke bibir tebal Gael.


Nia tersenyum menatap wajah tenang Gael. Menangkup wajah Gael dengan kedua tangannya. Memberikan sentuhan lembut mengelus pipi itu dengan lembut sebelum ia menutup matanya ikut memasuki alam mimpi.


Keesokan paginya Nia terbangun dari tidurnya sebelum Gael bangun. Membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum ia menyiapkan keperluan laki-laki yang berstatus suaminya.


Nia yang baru keluar dari dalam kamar mandi menatap Gael yang masih berada dibawah selimutnya. Mulai menggeliat kan badannya. Mengerjap-erjapkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya.


"Tuan sudah bangun? " Nia mendekati ranjang.


"Humm. "


"Apa tidak ada jawaban lain selain humm? "


Nia meraih selimut setelah Gael turun dari atas ranjang. Merapikan selimut yang baru di pakai oleh Gael.




Dentingan suara sendok bersahutan, tak ada yang memulai pembicaraan disaat jam sarapan. Gael melahap sarapannya tanpa bersuara. Sementara Nia yang sedang menikmati sarapannya sesekali melirik Gael.



"Ada apa? " rupanya Gael menyadari jika Nia terus memperhatikannya. "Ha? " Nia menatap Gael. "Tidak ada apa-apa tuan. " Nia merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa ia mencuri pandang kepada tuan Gael.



"*Aku terkadang bingung dengan mu. Kemarin kau sedikit diam dari biasanya. Tadi malam sebelum tidur kau bersikap manis. Dan pagi ini kau kembali dingin pada ku. Sebenarnya kau ini maunya apa? jika kau seperti ini aku bingung dengan perasaan ku sendiri*. "



Nia tak sengaja menjatuhkan sendok dari tangannya. Menghentikan lamunannya. Gael menatapnya dengan tatapan datar. "Maaf tuan. " Nia menundukkan pandangannya merasa tidak nyaman dengan sorot mata itu.

__ADS_1



Gael pergi meninggalkan mansion tanpa berbicara dengan Nia. "Kenapa aku merasa ada yang kurang? " Lirih Nia menatap mobil yang membawa Gael melewati gerbang utama mansion.



"Ah sepertinya aku terlena dengan perlakukan manis darinya beberapa hari ini. " Nia membalikkan badannya hendak memasuki mansion dan lagi-lagi Nia dikejutkan dengan kehadiran pak Agus yang masih berada tepat di depannya.



"Kenapa pak Gus selalu senang mengejutkan ku? " Nia berkata menahan rasa kesalnya.



"Maaf nyonya. " Pak Agus membungkukkan badannya.



"Bisa tidak jangan seperti ini lagi? " Nia mendesahkan nafasnya dengan kasar.



"Baik nyonya. "



"Astaga pak Gus bisa tidak menjawab itu jangan hanya berkata. Maaf nyonya. Baok nyonya. " Gerutu Nia sambil menepuk bahu Pak Agus dengan sedikit mengeluarkan tenaganya.




"Kenapa? " Nia mengkerut kan keningnya melihat pak Agus seperti sedang memikirkan hal lain.



"Maaf nyonya. Tapi sebaiknya anda jangan melakukan hal seperti barusan jika sedang dihadapan tuan Gael."



"Memangnya kenapa? " tanya Nia tanpa beban.



"Tuan Gael pasti akan sangat marah. " Terang pak Agus singkat.



"Bukan kah itu akan terlihat bagus?"

__ADS_1



"Bagus? " Pak Agus melihat kearah Nia sekilas kemudian menunduk kembali.



"Ia Bagus. Setidaknya dengan begitu aku tidak sendiri merasakan kemarahan dari tuan Gael. "Seringai dibibir Nia terlihat senang membuat pak Agus merasa tidak nyaman.



"Astaga. Ada apa dengan ku? " Nia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.



"Maaf. Bukan berarti aku tidak menghormati pak Agus yang jauh lebih tuan dari ku. Tadi terkadang pak Agus terlihat menyebalkan. " Gerutu Nia karena memang bukan kali pertamanya lagi pak Agus mendengarkan Nia ketika sedang membicarakan hati dan perasaannya secara diam-diam.



Entah memang sengaja atau tidak yang dilakukan oleh pak Agus hanya ia lah yang tau itu. Nia memilih pergi dari hadapan pak Agus menuju rumah belakang. Dan pak Agus yang melihat Nia mengikutinya tanpa sepengetahuan Nia. Dugaan pak Agus, Nia pasti akan menemui Halimah dan ia merasa perlu mengetahui apa saja yang akan nyonya mudanya itu lakukan dan melaporkan setiap apa yang dilihat dan didengarnya kepada tuannya.



"Mau kemana dia? "Pak Agus pikir Nia akan menemui Halimah namun ternyata Nia berbelok kearah lain dan itu menuju taman belakang.



Dari kejauhan pak Agus menyaksikan nyonya nya itu sedang menyapa pelayan yang sedang membersihkan taman itu.



"Seperti nyonya akan menghabiskan waktunya bersama dengan bunga-bunga yang ada ditaman. " Gumam pak Agus setelah memastikan Nia berada di taman belakang. Memilih membiarkan Nia dan kembali ke mansion utama ada hal yang harus ia lakukan sekarang.



Ternyata tanpa sepengetahuan Nia pak Agus selalu melaporkan semua yang terjadi antara dirinya dan juga tuan Gael kepada nyonya Mita yang sedang berada diluar negeri. Sengaja meninggalkan anak dan menantunya itu lebih lama.



Hanya ingin memberi ruang untuk keduanya. Melihat bagaimana Gael akan memperlakukan Nia dibelakangnya.



Setiap apa saja yang terjadi didalam mansion tentu itu semua tidak luput dari perhatian pak Agus dan memberitahukan kepada nyonya Mita.



Setelah melaporkan kepada nyonya Mita melalui sambungan telpon Pak Agus menggelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya dengan diri ku sendiri. Bagaimana bisa aku melakukan hal ini? jika tuan Gael tau maka tamatlah rawat ku." Pak Agus merinding sendiri dengan ucapannya.


__ADS_1


"Sungguh aku mempunyai keberanian diluar dugaan ku. Melakukan hal yang akan menyulitkan ku sendiri. Semoga tuan Gael tidak mengetahui perbuatanku ini. Dan jika suatu saat beliau mengetahui ini semoga keadaannya tidak seperti yang aku pikirkan. Semoga saja ia segera menyadari persaannya kepada nyonya Nia." Harapan pak Agus.


__ADS_2