
Dering suara alarm dari ponsel Daren membangunkannya. Mengerjapkan matanya mencari benda pipih sumber dari suara yang mengusik tidurnya pagi ini. Meraba-raba tempat tidur sampai menemukan ponselnya.
"Ah, ternyata sudah pagi. " Mematikan alarm di ponselnya. Mulai bergegas menuruni tempat tidur membersihkan diri sebelum berangkat menjemput tuannya ke mansion sebelum tuannya itu menunggu kedatangannya.
"Setiap hari seperti ini? ternyata melelahkan juga. " Mulai mengeluh ketika semua kebutuhannya harus ia siapkan sendiri sebelum berangkat. Dari membereskan tempat tidur, menyiapkan pakaiannya sendiri dan membuatkan sarapan untuknya sendiri.
Daren menikmati sarapannya. Sebuah roti dengan segelas kopi menjadi menu praktis setiap paginya. Mulai merasa kesepian dengan situasi kehidupannya. Kembali ia mengingat peristiwa dimasa lalu.
"Seandainya aku bisa mengutarakan perasaan ku jauh sebelum pada waktu itu."
Flash back
Tiga tahun yang lalu Daren bertemu dengan seorang wanita bernama Ica. Wanita yang bekerja ditoko kue. Pada waktu itu Ica mengantarkan kue pesanan karyawan ditempat Daren bekerja yaitu AGL grub yang tak lain tempat yang sama dengan saat ini ia bekerja.
Pada saat itu Ica yang terburu-buru, tidak sengaja menabrak Daren. Awalnya tidak ada yang terjadi diantara mereka namun Ica yang sering mengantarkan pesanan kue. Membuat mereka sering bertemu dan tanpa sadar Daren menyukainya.
Daren juga sering memesan kue dari toko tempat Ica bekerja dan meminta Ica yang mengantarkannya. Dengan begitu ia akan bertemu dengan Ica.
Dan lama kelamaan Daren mendapatkan nomor telepon Ica dengan alasan untuk mempermudahnya memesan kue. Tanpa menaruh rasa curiga apapun Ica memberikan nomor telponnya dan berawal dari saat itu Daren mulai mendekati Ica. Mereka cukup sering bertemu di luar jam kerja mereka.
Semakin hari Daren semakin menyukai Ica dan mulai tumbuh benih cinta dihatinya. Namun Ica tak menyadari perasaan Daren kepadanya.
Hingga pada suatu saat Ica ditugaskan untuk membuka cabang toko kue tempat ia bekerja didaerah lain. Ica memberitahukan Daren tentang kepindahannya ketika Ica sudah berada di bandara. Itu pun karena Daren menelponnya untuk mengantarkan pesanan kuenya.
Ica berpamitan kepada Daren setelah menjelaskan keberangkatannya. Pada saat itu juga Daren menyatakan perasaannya kepada Ica. Namun diluar dugaan Ica menolaknya dan tetap memilih pergi.
Daren yang kecewa pada saat itu tidak pernah lagi menghubungi Ica bahkan setiap pesan dan panggilan Ica ia abaikan. Sebenarnya Ica juga menaruh hati kepada Daren namun Ica tidak punya pilihan lain pada saat itu. Bagaimana pun juga ia membutuhkan pekerjaan itu. Jika mungkin Daren mengatakan perasaanya lebih cepat tentu Ica akan menerima cinta Daren.
Ketampanan dan kebaikan Daren kepadanya cukup membuat Ica jatuh hati pada sosok Daren.
Flash on
Daren menyudahi sarapannya dan bergegas menuju mansion keluarga tuan Gael. Dilampu merah Daren menghentikan mobilnya. ketika ia mengarahkan pandangannya keluar, ia melihat wanita yang baru saja ia pikirkan.
Daren merunkan kaca mobil memastikan ia tidak salah lihat dengan apa yang ada dihadapannya itu. Seorang wanita berparas cantik mengendarai motor metiknya.
"Ica. " Lirih Daren. Namun belum sempat ia memastikan itu adalah Ica. Wanita itu sudah lebih dulu melajukan motornya.
Tin.. Tin..
Pengemudi yang lain membunyikan klakson mobilnya karena Daren tak kunjung bergerak.
Daren melajukan mobilnya mengikuti sosok wanita yang mirip dengan Ica itu. Dan benar saja wanita itu berhenti tepat didepan toko kue yang dulu tempat Ica bekerja. Walaupun bangunannya sudah banyak berubah tapi Daren masih bisa memastikan jika itu adalah toko kue yang sama dengan toko kue tempat Ica bekerja dulu.
Daren ingin turun dan memastikannya sendiri.
Dret. Dret.
Ponsel Daren bergetar. "Ia tuan, saya sudah dalam perjalanan menuju mansion." Terang Daren.
Terpaksa Daren mengurungkan Niatnya untuk memastikan jika yang dilihatnya itu adalah Ica setelah mendapat telpon dari tuan Gael.
"Dari mana saja kau? " Gael melirik jam tangannya. Meskipun belum terlambat namun tuan Gael menyadari jika Daren tiba lebih lama dari biasanya.
__ADS_1
"Ada hal kecil yang harus saya selesaikan tadi tuan sebelum kesini. " Jelas Daren.
"Kau sarapan lah dulu. " Suruh Gael kepada Daren.
"Saya sudah sarapan sebelum datang kemari tuan. " Tolak Daren dengan halus.
"Ya sudah kalau begitu, tunggu aku sampai selesai dengan sarapan ku. " Perintah Gael.
"Baik tuan. " Seperti biasa Daren selalu membungkuk sopan setelah selesai bicara dengan tuannya itu.
"Daren, sudah saatnya kau mencarikan istri untuk mengurus semua kebutuhanmu. " Perintah mama Mita membuat semua orang menoleh kearah Daren.
"Maaf nyonya, saya rasa belum menemukan seseorang yang tepat. " Jawab Daren santai.
"Bagaimana jika aku yang akan mencarikan nya untuk ku? " Terang mama Mita.
"Saya rasa tidak perlu nyonya. " Tolak Daren.
"Maaf nyonya. " Hanya itu yang dikatakan Daren mewakili penolakannya.
"Mah. Jangan memaksanya. Biarkan dia seperti itu karena dia sedang menunggu seseorang. " Jelas Gael.
Nia dan mama Mita menoleh kearah Daren bersamaan. Sementara Daren tidak bersaksi apa pun tetap dengan wajah datarnya.
"Siapa? " Selidik mama Mita.
"Tentu saja sesorang yang sudah berhasil membuatnya betah dengan statusnya sekarang ini. " Ujar Gael.
"Wah, ternyata kau sedang menunggu seseorang? aku pikir kau tidak menyukai seseorang karna terlalu lama bersama dengan tuan Gael. " Ucap Nia menatap wajah Daren tanpa sadar dengan apa yang ia katakan barusan.
__ADS_1
Gael menoleh kearah Nia.
"Apa? " Selidik Nia.
"Apa maksud mu? " tanya Gael memasang wajah kesal.
"A-aku pikir Daren tidak punya waktu memikirkan kehidupannya karena sibuk sepanjang hari bekerja denganmu. " Terang Nia takut-takut jika Gael marah dengan ucapannya.
"Anda benar nyonya muda. Saya hampir melupakan kehidupan saya seperti ucapan anda. " Daren menimpali ucapan Nia.
"Daren.. " Gael yang mengerti arah pembicara dari Daren.
"Maaf tuan saya hanya meluruskan ucapan nyonya muda." Ujar Daren.
"Kau tunggulah diluar. Jika kau berada disini Nia tidak akan jadi memakan sarapannya karena akan terus berkata hal bodoh bersama dengan mu. " Usir Gael.
Seketika wajah Nia berubah menjadi kesal. Baru saja ia merasa senang dan ingin mendengar lebih banyak lagi tentang Daren namun semuanya berantakan karena ulah Gael yang menyuruh Daren untuk menunggunya diluar.
"Pelit. " Gumam Nia hampir tak terdengar oleh Gael.
"Apa? " tanya Gael.
"Tidak ada. " Ketus Nia kesal.
"Kau? " Belum sempat Gael mencecar Nia, mama Mita sudah menghentikannya.
"Sudah. Kalian lanjutkan makan kalian jangan berdebat lagi. "
Nia memanyunkan bibirnya kearah Gael sebelum kembali menikmati sarapannya.
__ADS_1
"Ck. Kau menggemaskan. " Ucap Gael menggoda Nia.