Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Kesal sekaligus malu


__ADS_3

Mentari pagi kembali memancarkan sinarnya. Semua orang sibuk memulai aktivitas terkecuali sepasang suami istri yang masih terus tidur dengan pulas saling memeluk dibawah selimut. Layaknya sepasang suami istri yang saling mencintai satu sama lain.


Gael terbangun dari tidur panjangnya. Menatap Nia yang masih berada di alam mimpinya. "Selamat pagi." Gael mengecup kening Nia dengan lembut. Merasa terusik dengan sentuhan Gael, Nia menggeliat kan badannya.


Gael turun dari atas ranjang. Kemudian membersihkan dirinya didalam kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual membersihkan diri Gael keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Nia masih terlelap dibawah hangatnya selimut.


Bergegas memakaikan pakaiannya kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. "Permisi tuan. " Pak Agus membawakan sarapan untuk tuan dan nyonya nya itu. Meletakkan nampan yang ia bawa di meja.


Setelah pak Agus keluar dari kamar Gael berjalan kearah jendela kaca membukakan horden kamar. Nia menggeliat merasa terusik dengan cahaya yang masuk melalui pantulan kaca. Nia mengerjapkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya.


Duduk diatas ranjang merentangkan kedua tangannya diatas kepalanya. "Kau sudah bangun? " Suara datar Gael membuyarkan pikirannya. Menoleh kearah sumber suara. "Astaga, kenapa aku ada disini? bukankah aku tidur di kamar Halima tadi malam? " Gumam Nia.


"Selamat pagi. " Gael mendudukan dirinya diatas ranjang bersama dengan Nia. Gael meletakkan jari telunjuknya di pipi kanannya.


"Apa? " Nia bingung maksud dari gerakan tangan yang dilakukan oleh Gael.


"Ciuman selamat pagi untuk ku." Ucap Gael bersikap biasa saja sementara Nia sudah salah tingkah mendengar ucapan Gael.


"Tidak mau."


"Jadi sekarang sudah berani tidak mendengarkan apa yang aku perintahkan? " Ucap Gael menatap tajam wajah Nia.


"Bukan begitu. " Nia menghela nafasnya. "Cup. " Sebuah ciuman di pipi kanan Gael.


Gael berusaha menyembunyikan rasa senang yang meliputi dirinya. Kembali meminta Nia untuk memberikan sebuah ciuman di pipi sebelah kirinya. Tanpa protes Nia segera mengikuti perintah dari Gael.


"Apa lagi? " Nia mengkerutkan keningnya ketika Gael masih diam ditempatnya. Menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk memberi isyarat lagi.


Nia yang sudah mengerti maksud dari gerakan itu segera mencium bibir Gael sekilas. Dari pada panjang urusannya lebih baik cepat dilakukan toh juga Gael akan tidak bergerak sebelum mendapatkan keinginannya. Pikir Nia.


"Mau kemana? " Gael menarik tangan Nia sehingga Nia terjatuh di pelukannya. "A-aku mau mandi. " Ucap Nia menarik badannya menjauh dari Gael.


Gael mengecup bibir Nia dengan lembut. "Pergilah! " Ucap Gael melepas pelukannya.


"Aneh. Ada apa dengannya? "

__ADS_1


Setelah selesai dari kamar mandi dan juga sudah berpakaian rapi Nia berjalan mendekati Gael yang sudah duduk diatas sofa sedari tadi menunggunya. Gael menepuk sofa disampingnya menyuruh Nia untuk duduk disebelah nya. "Kau makanlah! " Gael menyendokkan makanan. Aa.. Gael mendekatkan sendok itu kemulut Nia. "Buka mulut mu. " Paksa Gael karena Nia tak kunjung membuka mulutnya.


"Biar aku sendiri saja. " Nia hendak mengambil sendok yang ada ditangan Gael.


"Kenapa? " Gael menatap tajam kearah Nia membuat yang ditatap tak berkutik. Melepaskan tangannya dengan sendirinya tanpa bisa berkata apa-apa.


"Kau makan dan jangan banyak protes. Bukan kah sedari tadi malam kau belum memasukkan apa pun kedalam perut mu? "


Nia hanya diam karena apa yang dikatakan oleh Gael memang benar adanya. Dia melupakan makan malamnya hanya karena ingin melarikan diri dari tuannya itu. Melupakan satu hal. Bahwa tuannya itu pasti akan menenukannya.


"Apa tuan tidak makan? " Nia memberanikan dirinya untuk bertanya. "Setelah kau menghabiskan makanan mu aku akan memakan sarapan ku." Ucap Gael sambil mengusap bibir Nia membersihkan bekas makanannya.


Setelah selesai menyuapi Nia, Gael pun menyodorkan makanannya kepada Nia. Nia yang awalnya bingung kini mengetahui maksud Gael setelah ia membuka mulutnya meminta Nia menyuapkan makanannya.


"Dia bahkan bertingkah aneh sedari tadi. Kalau tau begini lebih baik aku sedari tadi makan sendiri dan kau juga makan dengan sendiri. Membuang waktu saja." Gerutu Nia didalam hati tapi karena ia juga tidak mempunyai keberanian untuk berkata secara langsung seperti itu.





"Ada apa sebenarnya ini? " Nia menggigit bibir bagian bawahnya sambil terus memikirkan ada apa dengan sikap Gael terhadapnya.



"Apa dia mulai menerima ku dan pernikahan kami? tapi rasanya itu tidak mungkin. Jelas-jelas dia berkata menikahi ku karena ingin menutupi kesalahan yang lainnya. Yang berarti sampai kapan pun dia tidak akan membuka hatinya untuk ku kan? " Nia bergejolak memikirkan semua yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini. Perlakuan Gael yang jelas terasa berbeda dari sebelumnya namun ia tidak ingin menduga-duga jika Gael mulai menerimanya dirinya.



"Itu bisa saja akan menyakitkan jika aku tau bahwa apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan. Mana mungkin tuan Gael menerima ku sebagai istrinya." Lirih Nia tak menyadari jika pak Agus masih berada dibelakangnya saat itu.



"Astaga! " Nia terkejut melihat pak Agus ketika ia. membalikkan badannya hendak masuk kembali kedalam mansion.

__ADS_1



"Pak Gus, sejak kapan berdiri di situ? "



"Sejak tadi saya sudah ada disini nyonya. Apa anda tidak menyadarinya? " Ucap pak Agus bersikap biasa saja. "Jangan bilang jika pak Agus mendengar apa yang aku katakan barusan. " tuduh Nia merasa kesal dengan dirinya sendiri. "Bagaimana aku tak menyadari jika pak Agus masih berada dibelakang ku. " Gumam Nia menatap pak Agus dengan perasaan kesal.



"Mendengar ucapan nyonya yang mana? apa ucapan nyonya yang itu bisa saja menyakitkan jika aku tau bahwa apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan? " Ucap pak Agus mengulangi ucapan Nia barusan sesuai dengan apa yang didengarnya.



"Kenapa pak Agus menguping ku?"



"Maaf nyonya, saya tidak bermaksud demikian. Hanya saja saya tidak sengaja mendengar ucapan nyonya yang tak menjadi keberadaan saya." Ucap pak Agus membela diri.



"Is." Nia merasa kesal dengan ucapan pak Agus yang memang benar adanya. Memilih pergi meninggalkan pak Agus sambil terus menggerutu. "Bodoh. Bagaimana bisa aku tidak menyadari jika dia masih berada disana." Nia merutuki dirinya sendiri sambil berjalan menuju kamarnya. Lebih baik menjauh dari pandangan pak Agus dari pada harus menahan malu dengan ucap annya sendiri.



Bersembunyi untuk sementara waktu dari hadapan pak Agus. Pikir Nia.



Sementara berbeda dengan pak Agus yang tersenyum dengan sikap nyonya nya itu. Dimana Nia tidak mengetahui perasaan tuan Gael kepada nya. Padahal perubahan sikap Gael kepadanya begitu terlihat jelas.



Hai.. Yuk follow akun author ntar author folback deh. Loveupull semuanya dan Terima kasih dukungan kalian.

__ADS_1


__ADS_2