
"Baru saja aku terlepas darinya kini ia sudah memanggil ku kembali kekamar menghadapnya. " Gerutu Nia mengikuti langkah kaki pak Agus yang berjalan lebih dulu.
"Silahkan nyonya. " Pak Agus membukakan pintu kamar untuk Nia. Berjalan memasuki kamar tanpa melihat kearah pak Agus. Pokus Nia adalah Gael yang sedang duduk disofa.
"Ada apa? " Nia sudah berdiri disamping tempat Gael duduk.
"Kau dari mana saja? " selidik Gael menoleh kearah Nia.
"Astaga kau ini lupa apa bagaimana? " pekik Nia didalam hati.
"Aku tadi dari kamar mama. Tadi kan aku sudah mengatakan jika aku mau menemui mama. " Jelas Nia masih bersabar.
"Benarkah? " Selidik Gael menautkan kedua alisnya.
"Tanyakan saja kepada Pak Agus. Dia tadi memangil ku ketika aku sedang bersama dengan mama. " Nia menoleh kearah pak Agus dengan tatapan seolah mengatakan katakan bahwa apa yang aku katakan benar adanya. Begitulah kira-kira arti dari tatapan Nia.
"Benar tuan. " Terang pak Agus begitu tuan Gael menatapnya.
"Ya sudah. Siapkan makan malam." Ucap Gael kepada pak Agus.
"Baik tuan. " Pak Agus keluar dari dalam kamar meninggalkan kegilaan tuannya. Sementara Nia juga hendak mengikuti langkah pak Agus menghindari Gael.
"Kau mau kemana? " Gael menghentikan langkah kaki Nia yang hendak mengarah ke pintu kamar. "Mau mengikuti pak Agus. " Jawab Nia singkat kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Kau dilarang keluar kamar ini tanpa seijin ku." Tegas Gael.
Deg
"Tamat riwayat ku." Lirih Nia hampir tak terdengar oleh Gael.
"Apa? " Gael yang mendengar samar-samar gumaman Nia. "Bukan apa-apa. " Elak Nia.
"Kemarilah? "suruh Gael.
Nia terpaksa menggerakkan kakinya mendekati Gael. Menepuk pahanya sebagai isyarat agar Nia duduk disana.
__ADS_1
"Ha." Nia menatap bingung wajah Gael dengan ekspresi datarnya.
Menepuk sekali lagi bagian pahanya. "Kemari. " Kali ini Gael mengulurkan tangannya karna Nia tak kunjung mengikuti perintahnya.
Nia meraih tangan Gael kemudian duduk diatas paha Gael. Gael melingkarkan kedua tangannya mendekap tubuh Nia. "Bagaimana ini? apa yang akan dia lakukan kali ini? " Gumam Nia merasa khawatir jika Gael kembali menyerangnya.
Menyandarkan kepalanya dibahu Nia. Sesekali Gael menciumi rambut panjang Nia yang dibiarkan terurai olehnya. "Apa yang dia lakukan? " Nia memberanikan diri untuk memutar kepalanya menghadap Gael.
"Aku mohon hentikan kegilaan ini. " Nia merasa bingung dengan perlakukan Gael. Menggigit bibir bawahnya ketika merasakan sesuta yang mulai menonjol dibawah sana.
"Sebaiknya kita turun. Mungkin pak Agus sudah selesai menyiapkan makan malamnya. "Ujar Nia berharap Gael akan menghentikan kegilaannya yang terus menciumi rambut dan bahu Nia.
Bukannya berhenti Gael malah menggesek-gesekan hidungnya di lengan Nia. Kenapa lagi dia? Gumamnya.
"Sepertinya mama sudah menunggu kita dibawah. " Nia berusaha berdiri namun tangan Gael menahan pergerakannya hingga kembali terduduk diatas paha Gael.
"Sebentar lagi. " Ucap Gael tanpa menghentikan gerakannya. Kali ini bibirnya sudah menempel di tengkuk leher Nia.
Nia tiba-tiba berdiri membuat gerakan yang dilakukan oleh Gael terhenti. "Ada apa? " tanya Gael.
"Ayo kita turun. " Menarik tangan Gael agar mengikutinya. Sementara Gael hanya pasrah mengikuti tarikan Nia. Tanpa Nia sadari keduanya berjalan menuruni tangga menuju meja makan dengan kedua tangan mereka masih saling bertautan. Tapi tidak begitu dengan Gael dia menikmati sentuhan tangan Nia.
"Maaf mah membuat mama menunggu. "Ucap Nia mengangkat tangannya hendak menarik kursi untuknya duduk. Pergerakannya terhenti ketika menyadari tangannya dan tangan Gael masih saling menempel.
Tersenyum kaku kearah mama Mita yang melihat hal itu. Sementara Gael berpura-pura tidak mengerti akan senyuman Nia. "Apa? " Ucapnya ketika Nia menatapnya.
Berusaha melepaskan tangannya dari tangan Gael. Namun Gael malah mempererat tangannya menggenggam tangan Nia. "Mau sampai kapan kalian berdiri disitu? " Ujar mama Mita.
"Lepas. " Ucap Nia dengan suara tertahan.
Gael tersenyum sebelum ia melepaskan tangannya. Senyuman yang pertama kali Nia lihat. Senyuman yang begitu memukau, menghipnotis Nia sejenak.
Gael melepaskan tangannya. Nia kelabakan menyadari dirinya yang terpesona oleh senyuman suaminya.
Dengan gugup Nia ikut duduk disamping Gael. Suasana makan malam sangat menyenangkan bagi Gael namun tidak dengan Nia. Ia sesekali melirik Gael yang sedang menunggu Nia mengisi piringnya.
__ADS_1
"Terima kasih. " Gael manatap Nia sambil tersenyum. "Lagi-lagi dia tersenyum." Batin Nia.
Dentingan sendok bersahutan tak ada yang mengeluarkan suara. Jika Gael sedang menikmati makan malamnya lain halnya dengan Nia. Ia merasa aneh dengan sikap Bastian.
"Kenapa dengannya? Apa dia sedang memerankan perannya didepan mama? " Gumam Nia melirik Gael. Sementara mama Mita sedang memperhatikan keduanya. "Apa kalian sudah menyelesaikan masalah kalian? " selidik Mita memastikan apa yang ia pikirkan.
"Seperti yang mama lihat. " Ujar Bastian singkat.
"Baguslah. " Mita tersenyum kearah Gael dan Nia.
Nia hanya diam saja tak mengeluarkan suaranya. Menikmati makan malamnya.
"Semoga saja kali ini kalian tidak lagi bersandiwara didepan mama. " Lirih Mita dalam hati yang mengetahui semua yang dilakukan oleh putra dan menantunya itu dibelakangnya. Bahkan Mita tau setiap detil apa yang terjadi selama ia tidak berada di mansion.
Tentunya Mita mendapatkan semua informasi tentang Gael dan Nia dari orang berada di mansion. Dan orang itu adalah pak Agus.
Memberitahukan semua kejadian di mansion tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun kepada Mita. Tentunya tanpa sepengetahuan tuan Gael dan juga Nia.
Begitu selesai makan malam Gael meninggalkan Nia dan mama Mita dimeja makan. Menuju ruang kerjanya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena kedatangan mama Mita.
"Apa kau baik-baik saja? " Mita mengamati wajah menantunya itu.
Tersenyum sebagai jawabannya. "Apa Gael marah karena pil itu? " Korek Mita ingin mengetahui apa yang terjadi diantara Nia dan Gael. Yang diminta olehnya untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Gael tidak marah kok mah. " Jawab Nia
"Baguslah kalau begitu. " Ucap mama Mita merasa lega.
"Lantas Apa yang dikatakan oleh Gael kepada mu tadi didalam kamar? " Masih berusaha mendapatkan informasi yang lebih lagi dari Nia.
" Tidak ada mah. " Nia kembali menjawab hanya dengan kata tidak, membuat Mita kurang puas karena tidak dapat mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Merasa sedikit heran. Karena Gael terlihat tenang setelah keluar dari kamar.
Merasa tak akan mendapat jawabannya, Mita memilih untuk berhenti menanyai menantunya itu dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Kalau begitu Nia duluan kekamar mah. " Pamit Nia. "Ia sayang duluan saja mungkin Gael sudah menunggumu dikamar." Ujar Mita tersenyum sementara Nia juga tersenyum namun senyumannya sangat kaku dengan ucapan Mita.
Mita tersenyum bahagia setelah Nia meninggalkan meja makan.