Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Perubahan sikap Nia


__ADS_3

"Kenapa kau tak datang ke rumah sakit hari ini? bukankah kau sudah berjanji untuk datang hari ini? " Tanya Gael kepada Nia.


"Bagaimana kau bisa tau jika aku tidak datang ke rumah sakit? " tanya balik Nia.


"Kiren menanyakan keberadaan mu tadi. " Sahut Gael melonggarkan dasinya.


"Oh. " Nia ber oh ria.


"Kenapa? " Gael mengkerut kan keningnya.


"Tidak ada apa-apa." Ucap Nia meninggalkan kamar. "Jelas saja kau tau aku tidak datang seharian ini kau hanya bersamanya. " Gumam Nia didalam hati.


"Ada ada dengannya? apa di masih marah pada ku? " Gael bertanya pada dirinya sendiri.


Gael turun dari kamarnya. "Dimana Nia? " Gael menarik kursi untuk nya sebelum duduk. "Nyonya ada dibelakang tuan, katanya beliau tidak lapar." Jelas pak Agus.


"Tidak lapar? memangnya dia makan apa sebelumnya? " selidik Gael sebelum menyuapkan makanannya kedalam mulutnya.


"Saya kurang tau tuan. " Terang pak Agus.



"Kau sudah makan? " tanya Gael kepada Nia begitu Nia kembali masuk kedalam kamar. "Sudah. " Jawab Nia singkat.



"Kapan? "



"Tadi."



"Tadi kapan maksudmu? "



Nia enggan mengatakan jika dirinya tadi makan malam bersama dengan Halima di dapur belakang khusus untuk pelayan mansion. Ia memilih untuk segera berbaring ditempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.



"Harus bagaimana lagi agar aku bisa berbicara dengan mu, jika kau selalu menghindar dari ku.? " Gumam Gael menatap Nia sambil berdecak pinggang.



"Nia, dimana pakaian ku? " Gael yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di bagian pinggangnya.


"Kau ambil lah sendiri, aku sedang menyisir rambut ku. " Jawab Nia acuh. "Apa kau bilang? " Gael tak. percaya jika Nia mengacuhkannya.


"Aku bilang kau ambil lah sendiri. " Nia mengulangi kata-kata nya. "Apa kau sungguh Nia? " Selidik Gael mendekati Nia dimeja riasnya.


"Ya, aku Nia. Kau pikir siapa ha? " Nia menoleh kearah Gael.


"Kalau begitu siapkan pakaian ku. " Suruh Gael.


"Mulai sekarang kau harus terbiasa menyiapkan pakaian mu sendiri. Jika sudah saatnya aku pergi, kau tak merasa kehilangan atau terbiasa dengan apa yang aku lakukan pada mu. " Ucap Nia sambil mengoleskan lipstik di bibirnya.


"Kau sungguh-sungguh dengan ucapan mu? "

__ADS_1


Nia berdiri dari duduknya menghadap kearah Gael. "Apa aku terlihat sedang bercanda? " Nia menatap tajam wajah Gael.


"Ini kah jati diri mu sesungguhnya? aku hampir saja tertipu dengan wajah polos mu itu. " Gael memutar badannya membelakangi Nia. Sungguh Gael tak percaya dengan ucapan Nia yang begitu berbeda dengan Nia yang sebelumnya.


Nia pergi begitu saja dari dalam kamar meninggalkan Gael sendiri. Tangannya bergetar ketika menarik knop pintu kamar dan begitu Nia Menutup kembali pintu itu ia tak bisa lagi menahan air matanya.


Nia menyandarkan punggungnya dipintu itu sambil menangis. Hatinya ikut terasa sakit harus berkata kasar kepada Gael. "Maaf, aku harus melakukannya. Aku harus membangun sebuah tembok diantara kita dengan begitu jika waktunya kita mengakhiri semua ini hati ku tidak berat meninggalkan mu. " Lirih Nia terisak.


"Ada apa nyonya? kenapa anda menangis? " Daren yang tiba-tiba datang mendapati Nia dalam keadaan menangis.


"T-tidak ada apa-apa." Nia memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya. "Kau ingin menemui tuan Gael? " tanya Nia mengalihkan pembicaraan. "Dia ada didalam kau tunggu lah. " Nia berlalu meninggalkan Daren.


"Kenapa nyonya begitu pintar mengalihkan pembicaraan? " ucap Daren sambil menatap punggung isti tuannya tersebut.


"Ada apa sebenarnya? apa mereka bertengkar? " Daren mencoba menerka-nerka.


"Kau ini mengagetkan saja. " Ucap Gael begitu membuka pintu dan mendapati Daren hendak mengetuk pintu kamarnya.


"Maaf tuan. " Daren memundurkan langkahnya memberi ruang untuk tuannya tersebut. Begitu Gael berjalan lewati nya baru Daren ikut berjalan dibelakang tuannya.


"Tuan, ada apa dengan nyonya? " tanya Daren sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Gael. "Kau tidak ada pekerjaan lain? " ucap Gael tanpa melihat kearah Daren.


"Maaf tuan. " Daren kembali berjalan dibelakang tuan Gael.


"Anda tidak sarapan terlebih dulu tuan? " tanya pak Agus melihat tuannya itu turun dari tangga langsung menuju kearah keluar mansion.


"Aku sarapan dikantor. " Ucap Gael tanpa menghentikan langkah kakinya.


Nia yang sudah berada di meja makan menundukkan kepalanya mendengar Gael tidak sarapan dimansion pagi ini. "Ada apa nyonya? " Pak Agus yang baru kembali dari mengantarkan tuannya itu sampai kedepan mansion. "Tidak ada apa-apa. " Ucap Nia menutupi perasaannya saat itu berusaha tersenyum seperti biasanya.


"Aku ingin menjauhi mu, memberi jarak diantara kita berdua namun hati ku sakit dengan perbuatan ku sendiri." Lirih Nia sambil mengaduk-aduk makanan nya.




"Ada apa tuan? sepertinya dari tadi tuan sedang memikirkan sesuatu." Tanya Daren kepada tuannya itu.



"Aku hanya bingung dengan perubahan sikap Nia. Biasanya dia tidak pernah membantah ku tapi tadi pagi ia mengabaikan ku. " Terang Gael menyandarkan punggungnya sambil menghembus nafasnya kasar.



"Apa anda melakukan kesalahan? " Selidik Daren.



"Ntahlah. " Sahut Gael namun ia mulai berpikir perubahan sikap Nia apa karena ia memaksa Nia untuk melakukannya. Karna memang perubahan sikap nya dimulai pada saat itu. Pada saat Gael menyentuhnya untuk kedua kalinya.



"Tuan. " Panggil Daren. 'Tuan. " Panggil Daren sekali lagi. "Ya" Gael tersentak dari lamunannya.



"Ada apa tuan? "


__ADS_1


"A. Tidak ada apa-apa." Sahut Gael.



"Maaf tuan, Apa anda sudah tau kemana nyonya Nia pergi pada malam itu? " tanya Daren karena menurutnya sejak saat itu hubungan antara Gael dan Nia semakin menjauh.



"Tidak, Lagian dia sudah kembali. Aku rasa itu tidak penting karena sudah jelas ia pergi menemui laki-laki yang dia katakan sebagai sahabatnya itu. " Jelas Gael.



"Tuan mengetahuinya? " Selidik Daren.



"Tentu saja aku mengetahuinya. Karna aku melihat sendiri dengan mata kepala ku laki-laki itu mengantarkan Nia kembali ke mansion."



"Apa tuan tidak takut jika nyonya dan laki-laki itu.. " Ucapan Daren terhenti ketika Gael memotong ucapannya. "Apa yang perlu aku takuti? selama Nia masih bersama ku. " Ucap Gael.



"Tuan, apa anda sudah menerima nyonya sebagai istri tuan? " Daren mencoba mengorek perasaan tuannya itu.



Gael terdiam, tak tau harus berkata apa. "Tuan, menurut ku sebaiknya anda harus menunjukkan kepada nyonya jika tuan mencintai nyonya. Jangan sampai nyonya menyerah dengan pernikahan kalian. " Peringat Daren.



"Apa maksud mu? " Gael mengkerut kan keningnya.



"Tuan, apa anda tidak tahu jika nyonya tadi pagi menangis didepan pintu kamar tuan. Aku melihatnya dengan jelas. Tapi nyonya berusaha menutupinya dari ku." Ucap Daren.



"Menangis? " Gael yang tak tau kebenarannya. "Apa dia sengaja melakukan nya tapi kenapa? " Lirih Gael.



"Daren, aku pulang sekarang. Kau atasi semua pekerjaan ku. "



"Tapi tuan, ceo dari perusahaan compeny sebentar lagi akan tiba. Kita tidak bisa mengundur lagi pertemuan nya. " Jelas Daren.



Aghh



Terpaksa Gael mengurungkan Niat nya tersebut.


__ADS_1


"Kau boleh kembali ketempat mu. " Suruh Gael.


__ADS_2