Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Daren merusak suasana


__ADS_3

Keesokan harinya Ica bersiap berangkat ke toko tempat ia bekerja. Merapikan pakaiannya didepan cermin sebelum beranjak meninggalkan kamarnya.


"Kau sudah mau berangkat? " Sarah yang baru keluar dari dalam kamarnya menyapa Ica yang hendak keluar rumah.


Ica membalikkan badannya menghadap tante Sarah. "Ia. Aku berangkat dulu. " Ucap Ica singkat karena merasa tidak perlu berbicara panjang lebar dan berujung tentang uang.


Ica pergi dengan begitu saja tanpa menghiraukan Sarah yang sepertinya ingin berbicara kepadanya.


"Dasar anak itu. " Kesal Sarah.


Pagi ini Ica berangkat menggunakan ojek berhubung motor metiknya dibawa oleh Rika. Begitu tiba di toko ternyata Rika dan Vira sudah tiba lebih dulu. Mereka sudah mulai merapikan toko.


"Pagi. " Sapa Ica berjalan masuk menuju ruang ganti di belakang. "Pagi. " Sapa Rika dan Vira secara bersamaan.


Setelah mengganti pakaiannya Ica pun ikut bergabung dengan temannya yang lain dan mulai membuka toko itu.




Gael memaksa Nia untuk ikut bersamanya kekantor hari ini. Dengan alasan Nia akan merasa bosan berada dirumah sepanjang hari dan untuk menghilangkan rasa bosan tersebut Gael mengajaknya ikut bersamanya.



Nia yang awalnya menolak namun dengan terpaksa ia menuruti perintah Gael yang tidak ingin dibantah. Satu harian ikut bersama dengan Gael membuat Nia merasa lebih bosan dari pada berdiam diri di mansion sepanjang hari.



Nia hanya duduk diam memperhatikan Gael yang sedang sibuk dengan semua pekerjaannya. Sementara Nia hanya bisa berdiam diri dan sesekali mengusir rasa bosannya dengan membuka ponselnya.



Namun tetap saja Nia merasa tidak nyaman di suasana seperti ini. Nia menggerutu didalam hati namun tidak bisa berbuat apapun. Hanya bisa menuruti keinginan suaminya itu.



Gael sesekali melirik Nia, dia tau betul jika Nia merasa bosan tanpa melakukan apa-apa. Namun Gael malah tersenyum melihat Nia sedang gelisah.



"Kemarilah. " Panggil Gael kepada Nia.



Nia hanya menurut saja, berjalan mendekati Gael kemeja kerjanya. "Ada apa? " tanya Nia sudah berdiri disamping Gael.



Gael menarik tangan Nia dan mendudukkan Nia diatas pangkuannya. Nia tersentak dan ingin kembali berdiri namun Gael lebih cepat menahan tubuhnya.



"Apa kau bosan? " tanya Gael berbicara didekat telinga Nia. "Sedikit." Jawab Nia. Gael memeluk tubuh Nia dengan erat, membenamkan wajahnya di punggung Nia.



Kruk kruk

__ADS_1



"Kau lapar? " tanya Gael kepada Nia mendongakkan kepalanya.



"Humm. " Sahut Nia malu-malu sambil menganggukkan kepalanya.



Gael melirik jam tangannya ternyata sudah hampir menunjukkan jam makan siang. Kemudian Gael mengambil ponselnya yang terletak di atas meja kerjanya dan mengetikkan sesuatu kepada Daren.



Selesai memberi perintah kepada Daren, Gael kembali meletakkan ponselnya. Nia menoleh kearah Gael. "Ada apa? " tanya Gael dengan santainya.



"Aku mau turun dan duduk disofa. " Tunjuk Nia kerah sofa tersebut yang sebelumnya tempat ia duduk.



"Disini saja. " Gael tak mau melepaskan Nia. Sementara Nia sudah merasa tidak nyaman merasa ada sesuatu yang menonjol dibawah sana.



"Sebaiknya aku duduk disofa, lanjutkan saja pekerjaan mu. " Nia melepaskan kedua tangan Gael yang sedang memeluknya dari belang dan hendak berdiri. Namun Gael kembali narik tubuh Nia sehingga tubuh Nia kembali terduduk diatas pangkuannya.



"Kau mau kemana ha? " Gael memeluk erat tubuh Nia.




"Hentikan! "Nia berusaha menahan tangan Gael agar berhenti. Namun Gael tidak menghiraukan ucapan Nia, ia terus menggelitik Nia sampai Nia benar-benar tidak tahan lagi menahannya.



Nia terus menggerakan badannya sambil tertawa menahan rasa geli dari jemari Gael yang terus menggelitik Nia. Nia berusaha melepaskan diri dari Gael. Sementara Gael yang sedang tertawa menikmati suasana bersama dengan Nia lebih tepatnya sedang menjahi istrinya itu.



Gael bergerak mengikuti Nia yang berusaha berdiri dari pangkuan Gael dengan perlahan melangkahkan kakinya sambil berusaha melepaskan diri menuju sofa.



"Geli. Hentikan! " ucap Nia di sela-sela tawanya. Gael melepaskan tangannya sejenak namun langkah kakinya mengikuti Nia yang kini berjalan mundur menghindari dan bersiap jika Gael kembali menyerangnya.



"Sudah cukup, aku lelah. " Memohon agar Gael tidak lagi menggelitiknya sambil menepis tangan Gael namun Nia yang tak sadar jika ia sudah berada di dekat sofa dan kini kakinya membentur sofa dan terjatuh keatas sofa.



Gael tersenyum puas, dengan cepat ia kembali menggelitik Nia. Tubuh Nia merosot hingga terbaring disofa, Gael ikut naik keatas sofa kemudian berpindah keatas tubuh Nia. Seketika pandangan mata keduanya bertemu dan gerakan tangan Gael terhenti dengan sendirinya.

__ADS_1



Perlahan Gael mendekatkan wajahnya kearah wajah Nia. Matanya tertuju pada bibir Nia yang sedikit terbuka dengan nafas tersengal.



Cup.



Gael mencium bibir Nia yang menjadi pusat pandangan matanya. Hendak memperdalam ciumannya namun suara ketukan pintu merusak suasana yang hendak tercipta diruangan itu.



Gael berusaha tidak menghiraukan ketikan pintu tersebut namun Nia mendorong tubuh Gael menjauh darinya. Mengisyaratkan untuk berhenti. Gael mendesah kesal dan turun dari atas tubuh Nia yang diikuti oleh Nia mendudukkan dirinya bersamaan dengan Gael.



Nia merapikan rambut nya dan Gael ikut membantunya merapikan pakaian Nia yang sedikit berantakan sambil tersenyum.



"Masuk! " Perintah Gael kepada sipengetuk pintu. Daren pun membuka pintu dan masuk dengan membawa bungkusan di tangannya.



"Maaf tuan, ini pesanan anda. " Daren meletakkan bungkusan tersebut diatas meja tepat di depan tuannya itu.



"Terima kasih dan kau keluarlah! kau merusak suasana." Ucap Gael dengan santainya. Nia melotot kan matanya kearah Gael seolah meminta Gael untuk tidak berbicara lagi.



"Apa? " Selidik Gael mendapat tatapan dari Nia.



Maaf tuan kalau begitu saya permisi. " Ucap Daren yang sudah mengerti akan arti dari ucapan tuannya itu.



"Kau ini. " Kesal Nia.



"Memangnya kenapa? " Gael kembali mempertanyakan Nia kemudian Gael membuka bungkusan yang baru dibawakan oleh Daren.



Sementara Daren yang masih bisa mendengar semua pembicaraan tuannya itu dengan perlahan menutup pintu ruangan tuannya. "Dulu menolak tapi sekarang lihatlah diri mu tuan. Kau tergila-gila kepada nyonya." Gerutu Daren masih berdiri didepan pintu.



Sementara sepasang suami-istri yang berada di dalam ruangan itu sedang menikmati makan siang mereka yang dibawakan oleh Daren barusan. Gael memaksa untuk menyuapi Nia walaupun Nia sudah menolaknya namun seorang Gael tidaklah ingin dibantah dan akhirnya Nia pun menuruti keinginan suaminya itu.


__ADS_1


Dengan mulut penuh Nia mengunyah makanannya sambil tersenyum dengan perlakuan Gael yang semakin hari semakin membuat hatinya menghangat. Berharap hubungan mereka akan lebih baik lagi kedepannya.


__ADS_2