
Nia termenung entah apa yang sedang ia pikirkan. sampai-sampai Nia tak menyadari kehadiran Gael.
Ehemm..
Nia tersadar dari lamunannya. Melirik kearah Gael, kemudian Nia membereskan kotak obat yang baru ia gunakan dan mengembalikannya ketempat nya kembali.
"Kenapa kau kembali? " Gael mendekati Nia.
Nia mengacuhkan Gael. Ia memilih meninggalkan Gael namun Gael yang tidak terima diacuhkan begitu saja olehnya.
"Kau tidak dengar aku sedang bertanya pada mu ha? " teriak Gael menghentikan langkah kaki Nia.
Nia membalikkan badannya menghadap kearah Gael. "Apa ada yang salah jika aku kembali? " Nia malah bertanya balik.
"Kau kembali karena tidak mempunyai tujuan lain selain kembali kesini kan? "
"Ya, aku tidak mempunyai tujuan. Apa kau puas? " ucap Nia tak kalah sengit.
Setelah kejadian itu, Nia dan Gael tidak pernah lagi saling bicara satu sama lain. Jika Gael berada didalam kamar maka Nia akan keluar. Nia sengaja menghindar dari Gael mencoba membangun tembok diantara mereka berdua.
🍀🍀🍀
Tian datang ke mansion Gael untuk menemui Nia. "Kak Tian... " Nia kegirangan begitu melihat Tian datang ke mansion.
"Aku ingin mengajak mu kerumah sakit menjenguk tunangan ku yang sedang sakit. Apa kau bersedia? " tanya Tian.
"Ia, aku mau kak, tunggulah sebentar aku ganti pakaian ku dulu. " Nia pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua mansion. Membuat Tian bertanya-tanya didalam hatinya.
"Nia tadi bilang mau ganti pakaian tapi dia naik ke lantai dua. Wahh ternyata Gael memperlakukannya dengan sangat baik. Tidak salah jika mama dulu meminta tante Mita untuk memperkerjakan ibunya. " Gumam Tian dalam hati yang tak mengetahui kebenarannya.
"Ayo kak, aku sudah siap!" ucap Nia begitu turun dari tangga.
"Pak Agus saja ijin keluar dengan Nia. "
"Tapi tuan saya harus ijin terlebih dahulu kepada tuan Gael. " Terang pak Agus.
"Tidak perlu pak Agus, Gael ada dirumah sakit menemani tunangan ku dan kami juga akan kesana. " Jelas Tian.
"Kalau begitu silahkan. " Pak Agus membungkuk kan badannya kepada nyonya nya itu sebelum mereka meninggalkan mansion.
"Bagaimana kabar ibu mu? " tanya Tian sambil fokus menyetir mobilnya. "Ibu sudah meninggalkan kak. " Terang Nia menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf Nia, aku sungguh tidak tahu jika ibu mu sudah tiada. " Tian merasa tidak enak hati sudah bertanya seperti itu.
"Tidak apa-apa kak. " Ucap Nia menatap Tian yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Andai saja kak yang menjadi suami kini itu adalah kamu. Aku pasti akan bahagia berada disamping mu. " Gumam Nia namun sejurus kemudian Nia menggelengkan kepalanya menepis pikirannya tersebut.
"Ada apa? " Tian menoleh kearah Nia.
"Tidak ada apa-apa kak. " Bohong Nia.
🍀🍀🍀
"Ayo turun!" ajak Tian setibanya di parkiran rumah sakit.
"Umm. " Nia menganggukkan kepalanya.
Nia berjalan mengikuti Tian dari belakang menuju ruang rawat Kiren.
Clek
Tian membuka pintu ruang rawat Kiren tanpa mengetuk pintu.
"Kau sudah datang? " ucap Kiren dan membuat Gael juga ikut menoleh kearah pintu.
Pandangn mata Gael dan Nia bertemu satu sama lain. Sejenak Nia mematung. Ia melupakan bahwa Tian sudah mengatakan kepada pak Agus bahwa Gael sudah berada dirumah sakit.
"Nia.. Kemari lah. " Panggil Tian yang sedang berdiri disamping ranjang rumah sakit yang ditempati oleh Kiren.
Nia pun mendekati keduanya, sementara Tian yang sedang duduk di sofa yang ada diruangan itu terus menatap Nia dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh Nia.
Nia menelan salivanya dengan susah. "Setelah ini akan ada apa lagi yang terjadi? " Gumam Nia dalam hati ketika berjalan melewati tempat duduk Gael.
"Hai.. Mba, kenalkan aku Nia. " Nia mengulurkan tanganya kepada Kiren. "Kiren. " Sahut Kiren membalas uluran tangan Nia.
"Tian banyak bercerita tentang mu. Dan ternyata kau jauh lebih cantik dari yang ku bayangkan." Puji Kiren membuat Nia tersenyum dengan pujian yang dilontarkan oleh Kiren kepadanya.
"Maaf karna waktu dipantai. kemarin itu aku tidak sempat menyapa mu. " Terang Kiren.
"Aku yang seharusnya minta maaf mba, karna aku pergi begitu saja pada waktu itu. " Ucap Nia tidak enak hati.
"Oya Nia, apakah pria yang bersama mu itu adalah pacar mu? "
__ADS_1
Nia melirik sejenak kearah Gael. "Bukan mba. Dia itu sahabat yang sudah seperti kakak ku sendiri. " Jelas Nia.
"Benarkah? aku iri dengan mu bisa bersahabat dengan pria. Karna setahu ku hal itu akan sulit, dan biasanya salah satu diantar nya pasti akan ada yang memendam perasaan nya. Ingat Nia, laki-laki dan perempuan itu tidak akan pernah berteman secara murni. " Peringat Kiren.
"Aku yakin dia tidak seperti itu mba. " Tepis Nia sementara Gael sudah terpancing dengan ucapan Kiren barusan.
Matanya menatap tajam akan Nia, hatinya bergejolak mendengar pembicaraan diantara keduannya.
"Mba.. rasa nya sakit ya? " Nia menggenggam tangan Kiren yang terpasang jarum impus ditangan nya.
"Rasa nya tidak sakit, karena ada mereka berdua yang selalu menjadi semangat ku untuk berjuang sembuh. " Terang Kiren manatap Tian dan Gael secara bergantian.
Nia memaksakan senyumannya kepada Kiren. Entah harus senyum atau apa yang harus ia lakukan di situasi seperti itu.
"Nia, kau seringlah datang kemari menemui ku. Karna menurut ku kau lebih menyenangkan di ajak bicara dari pada kedua orang ini. Lihatlah Gael sedari tadi hanya dian saja. " Tunjuk Kiren memuncungkan bibirnya.
"Ia, aku akan usahain untuk datang sesering mungkin. " Jawab Nia tidak ingin membuat Kiren kecewa.
"Benarkah? aku anggap itu adalah sebuah janji. " Tegas Kiren.
"Janji! " Nia mengangkat jari kelingking nya dan menyatukan nya ke jari kelingking Kiren.
"Ya sudah kalau begitu aku antarkan Nia pulang. " Tian hendak bangkit berdiri dari duduknya. "Tidak perlu, biar dia pulang bersama ku saja! " Ucap Gael.
"Baiklah kalau begitu. " Terang Tian duduk kembali ditempat duduknya.
"Ayo! " Ajak Gael kepada Nia.
"Mba Kiren, aku pulang dulu ya. " Pamit Nia.
"Kalian hati-hatilah dan jangan lupa besok kau harus kesini lagi menemani ku! "
"Sip. " Nia mengacungkan jempolnya.
"Kak Tian Aku pulang. " Pamit Nia mengikuti Gael kearah pintu.
"Gael, aku titip Nia. " Ucap Tian yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Gael.
Nia mengikuti Gael sampai ke parkiran rumah sakit. "Naiklah! " suruh Gael dengan suara datarnya.
Nia pun mengikuti ucapan Gael. Nia membuka pintu belakang mobil. "Siapa yang menyuruhmu untuk naik dibelangkang? aku bukan supirmu, pindah kedepan! " perintah Gael dan lagi-lagi Nia mengikuti apa yang di perintah kan Gael kepadanya.
__ADS_1
Nia hanya diam tak mengeluarkan suara nya sedikit pun. Nia memilih fokus melihat kearah luar mobil melalui kaca mobil tersebut. "Seberapa dekat hubungan mu dengan Tian? " Selidik Gael tanpa menoleh kearah Nia.
"Bukan urusan mu! "