Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Salah faham.


__ADS_3

Daren melirik tuannya dari kaca depan mobil. "Apa ada masalah tuan? " tanpa menoleh kebelakang dimana Gael duduk dikursi penumpang.


"Aku sengaja mendiamkan Nia. Agar dia tau kesalahannya. "


"Astaga tuan, aku pikir masalah perusahaan ternyata masalah perasaan."


"Apa tidak sebaiknya tuan mengatakan secara langsung saja. "


"Tidak perlu biarkan saja seperti ini. " Ucap Gael. "Mana mungkin aku mengatakan kepadanya jika aku cemburu akan kedekatannya dengan Tian. " Gumamnya dalam hati.


"Apa anda sudah mulai menyukai nyonya muda. " Daren bertanya melihat dari kaca depan mobil. "Entahlah. Aku sendiri bingung dengan perasaan ku padanya. " Masih belum menyadari perasaannya sendiri.


"Jika tuan sudah membuka hati untuk nyonya sebaiknya cepat nyatakan perasaan anda. Karna wanita butuh pernyataan secara langsung. Dengan sikap tuan begini hanya akan membuat beliau bingung. " Peringat Daren.


"Ck seperti kau sudah paham betul dalam urusan perasaan."


"Walaupun saya masih sendiri. Saya cukup tau akan hal itu tuan. " Daren membela dirinya.


"Terserah kau saja mau berbicara apa." Gael masih belum terima dengan saran yang diberikan oleh Daren.


"Tapi tuan, nyonya pasti sedang bingung dengan sikap tuan saat ini. "


"Biarkan saja. Dengan begitu dia akan tau kan bagaimana perasaan ku yang sesungguhnya? "


"Tapi saya rasa tidak demikian tuan. " Gael tidak lagi menanggapi perkataan Daren. Terdiam sembari berusaha memikirkan apa yang telah dikatakan Daren kepadanya.


"Kapan mama akan pulang? " Gael mengalihkan pembicaraan. "Jika tidak ada perubahan maka nyonya besar akan kembali lusa tuan. " Daren memberikan informasi kepulangan nyonya Mita.


"Apa ada masalah tuan? " Daren kembali melihat tuannya itu melalui kaca depan mobil. "Tidak ada. " jawab Gael singkat.




"Tuan sepertinya nyonya muda sedang berada di diluar mansion. Baru saja beliau mengirimkan pesan jika nyonya akan keluar sebentar. " Daren memberi tahu kan kepada tuannya.



"Kemana? " Gael masih sibuk dengan pekerjaannya.



"Beliau tidak memberitahukan pergi kemana. Hanya saja nyonya mengatakan menemui temannya." Jelas Daren.



"Biarkan saja. "



"Baik tuan. "



"Tuan, satu jam lagi ada jadwal bertemu dengan pihak Asen Grup. "



"Humm. Siapkan berkasnya setelah itu kita segera berangkat. " Perintah Gael. "Baik tuan. " Daren keluar dari ruangan itu menyiapkan semua berkas seperti yang telah dikatakan oleh tuannya.


__ADS_1


Cafe Jexti



"Kamu tidak apa-apa keluar dari mansion? " Pirdo bertanya ragu apakah Nia sudah mendapat ijin. "Aku sudah memberitahukan kepada Daren sebelum aku kemari. " Nia meneguk jus yang ada didepannya.



"Ada apa kau mengajak ku bertemu? " kali ini Pirdo menayangkan maksud dari Nia ingin menemuinya. "Aku hanya merasa bosan di mansion. " Terdengar suara Nia tidak bersemangat. "Ada apa? katakanlah. " Pirdo menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tempat ia duduk. Menatap wajah Nia lekat.



"Aku hanya takut jika aku tak bisa mencegah perasaan ku terhadap tuan Gael."



"Kenapa? bukankah seharusnya memang demikian. "



"Tapi jika aku terus seperti ini pada akhirnya aku akan terluka." Lirih Nia menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.



"Aku tau yang kau alami ini sangatlah sulit. Tapi bagaimana pun juga tuan Gael adalah suami mu. Sudah sepantasnya kau mencintainya." Terang Pirdo memberi masukan kepada Nia.



"Tidak semudah itu. Aku tau sampai kapan pun aku tidak akan bisa mengubah hubungan kami. Jika waktunya tiba aku akan meninggalkan mansion. "



"Haha.." Nia tertawa. "Kau pikir semudah itu apa. Sedari awal tuan Gael sudah membenci ku bagaimana bisa aku berharap lebih dengan berusaha mendapatkan cintanya. " Nia menghela nafasnya.



"Terkadang aku bingung dengannya. Ada waktu tuan Gael bersikap begitu baik kepada ku dan ada saatnya juga dia seperti tidak mengganggap ku ada. " Menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihannya dari Pirdo. Meskipun usahanya itu hanya sia-sia saja. Pirdo tau betul apa yang sedang dirasakan olehnya.



"Bersabarlah. Aku yakin kau bisa melewati ini semua. " Pirdo meraih tangan Nia menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya. Nia menganggukan kepalanya. Mengangkat wajahnya menatap wajah Pirdo sambil tersenyum. Seperti mendapatkan kekuatan baru baginya.



Dari kejauhan Sorot mata penuh dengan amarah menatap keduanya. Mengepalkan kedua tangannya bahkan rahangnya mengeras menahan amarah yang sudah tidak bisa ia kendalikan.



"Daren. Urus semuanya. "


"Tapi tuan. " Daren mengikuti arah pandangan mata tuannya. Melihat Nia yang sedang bersama dengan Pirdo didalam ruangan yang sama dengan mereka.



Daren tidak bisa lagi berkata apa-apa ketika Gael tak menghiraukan ucapannya. Bangkit dari duduknya mendekati meja Nia. Berdiri tepat disamping meja Nia dan Pirdo menatap tangan yang mesih saling bersentuhan diatas meja itu.



Nia mendongakan kepalanya. Gerakan tangan Nia menarik cepat tangannya dari tangan Pirdo merasa terkejut sekaligus takut bercampur menjadi satu.


__ADS_1


"T-tuan. " Nia terbata dengan ucapannya.



"Pulang. " Suara datar Gael terdengar sangat menakutkan di telinga Nia. Menatap Gael dan Pirdo secara bergantian.



"Kau punya telinga tidak. " Kali ini Gael sudah meninggikan suaranya.



Dari kejauhan Daren mulai takut terjadi sesuatu berjalan mendekati tuannya itu. "Tuan. Saya harap tuan dapat mengendalikan amarah tuan. " Ucap Daren sedikit berbisik.



Gael tak menghiraukan peringatan dari Daren justru ia semakin merasa kesal ketika Nia tak kunjung berdiri dari duduknya.



Dengan susah payah Nia menelan salivanya takut dengan raut wajah Gael yang menahan kemarahan. "*Ah, aku seperti sedang ketahuan selingkuh saja. Bahkan orang-orang kini pasti sudah berpikiran buruk terhadap ku*. "



Lamunan Nia terhenti ketika Gael menarik tangannya dengan paksa. "Aw.. " Rintih Nia merasa sakit di pergelangan tangannya. "Hentikan! " Pirdo menahan tangan Gael. "Jangan ikut campur! " Gael melempar tatapan membunuhnya kearah Pirdo.



"Tuan bisa saja melukai Nia. " Berusaha melepaskan tangan Nia dari cengkraman tuan Gael.



Bruk



Gael melayangkan pukulan tepat di sudut bibir Pirdo. "Hentikan! " Nia berteriak dan menghampiri Pirdo yang sudah terjatuh ke lantai akibat pukulan yang menghujam wajahnya. Sementara orang-orang yang berada ditempat itu melihat kejadian itu dengan tatapan yang berbeda-berada sambil berbisik-bisik namun memilih untuk tidak ikut campur.



"Kau tidak apa-apa? " Nia membantu Pirdo untuk berdiri. Lagi-lagi hal itu membuat Gael semakin tersulut emosi.



Menarik tangan Nia menjauh dari Pirdo. "Lepaskan. " Nia menghempaskan tangan Gael dengan kasar. "Kau? " Gael kembali meraih tangan Nia. "Kita pulang! " Gael menatap wajah Nia penuh dengan amarah. Menguatkan genggaman tangannya sampai Nia meringis menahan sakit dibagian pergelangan tangannya.



"Nanti aku akan menghubungi mu. " Ucap Nia menoleh kebelakang sambil mengikuti langkah tuan Gael yang menyeretnya menuju pintu keluar.



"Pirdo mengusap sudut bibirnya. Apa anda baik-baik saja? " Daren memberikan tisu kepada Pirdo.



"Aku baik-baik saja. " Menerima tisu dari tangan Daren. "Maaf tuan Gael sepertinya salah faham dengan anda. "



"Tidak apa. Aku bisa mengerti akan hal itu. " Ucap Pirdo kembali duduk di kursi yang didudukinya sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2