Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Alasan Tian menemui Gael


__ADS_3

Perlahan Nia membuka matanya, terusik pantulan cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar. Mengerjapkan bola matanya sambil mengumpulkan kesadaran nya. Menoleh kearah sampingnya berharap Gael masih berada disana.


Kekecewaan yang Nia dapat setelah mengetahui bahwa Gael tidak ada disampingnya pada saat itu. "Jam berapa ini? " Nia melihat kearah jam yang di dinding. Ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Aku bangun kesiangan, sungguh memalukan. Bagaimana bisa aku tertidur seperti orang pingsan tak menyadari tuan ku bangun terlebih dulu." Nia bergerak mencari-cari ponselnya, ternyata berada diatas sofa.


Tok tok


Nia terperanjat sejenak didalam hatinya takut jika itu adalah Gael.


Clek


Pintu kamar itu terbuka ternyata yang berada dibalik pintu itu adalah pak Agus membawa nampan berisikan sarapan untuk Nia.


"Permisi nyonya, ini sarapan untuk anda. " Terang pak Agus berjalan masuk kedalam kamar dan meletakkan nampan tersebut diatas nakas.


"Tidak perlu repot begini pak Gus, aku bisa turun dan mengambil sarapan ku sendiri. " Jelas Nia merasa tidak enak hati kepada pak Agus.


"Tidak apa nyonya, ini perintah tuan Gael. "


"Oya, apa tuan Gael sudah berangkat?" tanya Nia.


"Sudah nyonya. "


"Benarkah? "


"Ya nyonya. " jawab pak Agus lagi.


"Ya sudah kalau begitu, terima kasih pak Gus. "


"Sama-sama nyonya, saya permisi dulu nyonya. Jika membutuhkan sesuatu panggil saya saja. " Pamit pak Agus sambil membungkukkan badan.


Setelah selesai dengan sarapan nya Nia keluar dari kamar hendak kembali ke kamarnya bersama dengan Halima yang ada di belakang mansion.


"Nyonya, anda mau kemana? " tanya pak Agus menghentikan langkah kaki Nia.


"Aku mau kembali ke kamar ku. " Jelas Nia kemudian kembali melangkah kan kakinya.

__ADS_1


"Maaf nyonya, tuan melarang anda keluar dari kamar! " peringatan pak Agus. "Yang benar saja? aku harus ke kamar ku, membersihkan badan ku dan menggantikan pakaian ku ini. " Terang Nia sambil menunjukkan pakaian yang ia kenakan.


"Anda tidak perlu kembali ke kamar anda nyonya karena Halima akan segera membawa semua pakaian anda ke kamar. " Jelas pak Agus.


"Biar aku saja yang melakukannya! "


"Maaf nyonya! ini adalah perintah dari tuan Gael. Saya harap nyonya tidak mempersulit saya. " Tegas pak Agus.


"Baik lah, terserah pak Agus saja kalau begitu! " akhirnya Nia memilih untuk untuk pasrah dan mengikuti apa yang dikatakan oleh pak Agus.


Nia kembali masuk kedalam kamar tuan Gael dan benar saja tak lama kemudian Halima datang membawakan semua pakaiannya.


"Nyonya, saya membawakan pakaian Anda yang ada di kamar belakang. " Ucap Halima begitu pintu kamar majikannya itu terbuka.


"Apaan sih panggil nyonya segala. " Protes Nia mengerucutkan bibirnya.


"Masuklah! " suruh Nia membuka kan lebar pintu kamar tersebut.


"Maaf ya, aku jadi merepotkan mu. " Terang Nia mengambil tas yang berisikan semua pakaiannya itu dari tangan Halima.


"Ini sudah tugas ku jadi tidak perlu sungkan begitu! " terang Halima. "Oya, gimana tadi malam? " selidik Halima ingin tau apa yang terjadi antara Nia dan tuan Gael.


"Ih, udah deh tidak usah pura-pura tidak tau apa yang ku maksud barusan. "


"Halima, tidak ada apa-apa!" terang Nia.


"Bohong! " ucap Halima tidak percaya.


"Bagaimana mungkin? yang aku lihat tuan Gael begitu berbeda dari sebelumnya, apa tuan Gael sudah mulai menyukai mu? " cecar Halima penasaran.


"Mana mungkin tuan Gael menyukai ku? " tepis Nia.


"Lantas kenapa tuan Gael sampai menggendong mu seperti itu tadi malam? "


"Halima.." Nia hendak menjelaskan namun matanya menangkap bayangan pak Agus yang sedang berdiri didepan pintu kamar yang sedang terbuka karena Nia memeng tidak menutupnya sebelumnya.


Ehem

__ADS_1


Pak Agus memberikan kode panggilan untuk Halima dan Halima pun menoleh kearah sumber suara itu.


"Nyonya, saya permisi dulu. " Halima segera keluar dari kamar itu tanpa menunggu jawaban dari Nia karena sudah kepergok sedang membicarakan tuannya tersebut.


Halima berjalan melewati pak Agus dengan menundukkan pandangannya. "Nyonya, apa ada lagi yang Anda butuhkan? " tanya pak Agus.


"Tidak ada. " Jawab Nia tak bersemangat karena pak Agus sudah merusak pembicaraan nya dengan Halima.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. " Pamit pak Agus menutup kembali pintu kamar majikannya tersebut.


🍀🍀🍀


Sementara ditempat lain. Tian menerobos masuk kedalam kantor Gael. Tian tau bahwa Gael sengaja tidak mau bertemu denganya dan kali ini Tian sudah tidak memikirkan apa pun lagi, yang penting ia bisa menemui Gael dengan cara apa pun itu.


"Gael.. " Panggil Tian begitu ia sudah berhasil masuk ke ruang kerja Gael


"Daren aku sedang sibuk, kau urus dia! " perintah Gael kepada Daren.


"Baik tuan. "


"Tunggu! " Tian berusaha menjelaskan maksud kedatangannya menemui Gael.


"Apa kau benar-benar tidak ingin tau bagaimana keadaan Kiren? " perkataan Tian tidak membuat Gael merespon. Gael tetap berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku tau, kau marah kepada ku dan Kiren. Tapi setidaknya temui lah dia dimasa-masa terakhir hidupnya." Lirih Tian.


Gael mengangkat wajahnya menghadap Tian dengan wajah bingungnya. "Apa maksud mu? " terang Gael menatap wajah Tian. Wajah yang sudah sangat lama tidak ia lihat karena perselisihan dan salah faham diantara keduannya.


Dimana Gael beranggapan jika Tian dan Kiren bermain dibelakangnya, pada hal Tian dan Kiren hanya korban keegoisan orang tua mereka. Menjodohkan Tian dan Kiren, namun pada saat itu Tian tidak mengetahui jika Kiren adalah kekasih dari sahabatnya sendiri.


"Kiren." Tian menjeda sejenak ucapannya. "Dia sekarang berada dirumah sakit. Dia menderita kangker darah stadium akhir." Jelas Tian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kau tak perlu bersandiwara hanya agar aku mau menemui nya! " Tegas Gael tak ingin terpengaruh oleh ucapan Tian.


"Untuk apa aku bersandiwara? jika kau tak mempercayai ucapan ku, kau bisa lihat sendiri dengan mata kepala mu. Mungkin waktunya sudah tidak banyak lagi dan keinginan terakhirnya ingin meminta maaf kepada mu sebelum ia tidak merasakan sakitnya lagi. " Tian tak lagi bisa menahan air matanya, ia menangis didepan Gael membuang jauh wibawanya.


"Aku tau, kata maaf tidak akan menyembuhkan luka yang kami berdua lakukan tapi setidaknya ijinkan Kiren menebus rasa bersalahnya selama ini. Dengan begitu ia akan pergi dengan tenang. " Terang Tian sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Aku mohon temui lah Kiren untuk terakhir kalinya. " Mohon Tian sekali lagi sebelum ia meninggalkan Tian yang masih diam tak bereaksi apa pun.


Tian menghela nafasnya dalam kemudian ia berjalan menuju pintu keluar ruangan itu. "Jangan sampai kau menyesalinya nanti! temui dia di rumah sakit sebelum semuanya terlambat! " peringata Tian sebelum ia menarik knop pintu itu dan meninggalkan Gael dan Daren disana.


__ADS_2