
Nia terkejut beberapa pelayan sedang berada didalam kamar Nia dengan begitu banyak membawa barang belanjaan ditangan mereka bahkan kini kamar Nia penuh dengan paperbag yang berisikan pakain mahal dan barang lainnya. "Ada apa ini? " tanya Nia yang baru saja memasuki kamarnya karna sebelumnya ia berada dirumah belakang menemui Halima dan tak mengetahui kedatangan Daren yang memerintahkan kepada pak Agus untuk memberikan semua itu kepada Nia.
"Maaf nyonya, kami hanya ingin meletakkan semua barang ini. " Terang salah satu pelayan di mansion tersebut. "Ini apa? " Nia mendekat ke beberapa pelayan tersebut.
"Ini dari tuan Gael nyonya muda kami hanya ditugaskan oleh pak Agus membawa ini semua ke kamar anda. " Ucap pelayan itu lagi.
"Benar nyonya muda, baru saja tuan Daren mengantarkan semua barang ini dan ini semua atas perintah tuan Gael untuk diberikan kepada nyonya muda. " Tutur pak Agus yang baru saja memasuki kamar nyonya muda nya itu setelah melihat Nia kembali dari rumah belakang menuju kamarnya ia pun mengikuti langkah majikannya tersebut.
"Kau selalu saja seperti ini, tiba-tiba muncul dan mengagetkan ku. " Ketus Nia.
"Maaf nyonya saya tidak bermaksud seperti itu hanya saja nyonya yang tidak menyadari kehadiran saya. " Pak Agus memberi pembelaan dirinya.
"Iss, kau selalu saja tidak mau kalah dalam mencari alasan ketika berbicara dengan ku. " Ucap Nia mengerucutkan bibirnya.
"Maaf nyonya. " Pak Agus menundukkan kepalanya bahwa ia sungguh-sungguh dengan ucapannya. "Sudahlah tidak apa-apa. Oya ini semua untuk apa? " tanya Nia kepada pak Agus sambil menunjuk barang-barang itu semua.
"Maaf nyonya, saya tidak tau. " Ucap pak Agus. Ketika Nia hendak protes dengan jawaban pak Agus tiba-tiba ponsel pak Agus berdering. "Maaf nyonya saya harus mengangkat telpon dari tuan muda permisi. " Terang pak Agus berlalu tanpa menunggu jawaban dari Nia.
Nia yang tidak mendapat jawaban atas pertanyaan, kini beralih melihat beberapa tas mahal, gaun dan sepatu yang terlihat sangat mewah dan mahal tentunya. Kemudian pandangan mata Nia beralih menatap sebuah kotak berwarna merah dan segera membukanya ternyata sebuah kalung berlian.
Nia membelalakkan bola matanya menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. "Ini..? " Nia menatap kearah pelayan yang masih setia berdiri ditempatnya masing-masing menunggu perintah selanjutnya dari nyonya muda mereka.
__ADS_1
"Benar nyonya semua ini untuk nyonya. " Ucap pelayan yang merupakan pelayan yang lebih senior diantara yang lainnya. "Tapi untuk apa? " Nia yang merasa bingun dengan semua yang ada dihadapannya itu.
"Maaf nyonya kami hanya ditugaskan untuk membawakan semua ini. " Jelas pelayan itu lagi yang tidak mengetahui harus mengatakan apa atas pertanyaan nyonya muda nya itu.
Nia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, segera menghubungi Gael. Dan begitu sambungan telponnya terhubung Nia segera melontarkan serentetan pertanyaan.
"Apa kah kau yang membelikan semua barang ini? untuk apa semua ini aku tidak membutuhkannya dan lagi untuk apa aku menggunakan barang mewah seperti ini semua jika aku hanya berada didalam mansion. "
"Apa kau menyukainya? " Gael malah balik bertanya kepadanya.
"A aku.. " Belum sempat Nia melanjutkan ucapannya Gael memotong ucapannya. "Kau bisa berterima kasih setelah aku pulang nanti diatas ranjang. "Ucap Gael.
Nia menghela nafasnya panjang. "Dasar.. Yang ada dipikirannya hanya berbuat mesum saja! " Kesal Nia tanpa sadar dengan ucapannya yang didengar oleh para pelayan itu.
Begitu tersadar Nia menutup mulutnya dengan kedua tangannya kemudian tersenyum kaku kepada para pelayan tersebut. "Kalian tolong bantu aku membereskan semua ini. " Pinta Nia dan mau mengambil beberapa dan membawanya masuk kedalam walk in closet. Dengan sigap para pelayan itu pun mengikuti perintah Nia dan segera mereka membawakan barang-barang tersebut mengikuti langkah nyonya mereka itu.
Mereka mulai memasukkan satu persatu barang tersebut kedalam lemari kaca yang berukuran besar yang ada didalam ruangan itu. " Apa ini? " Tunjuk Nia terkejut dengan beberapa lingerie yang baru saja ia keluarkan dari dalam paperbag. Sontak semua mata menoleh kearahnya dan sepersekian detik Nia memasukkan kembali lingerie tersebut kedalam paperbag itu karena merasa malu kepada semua orang yang melihat kearahnya.
"Kalian lanjutkanlah aku ingin keluar sebentar. " Ucap Nia gugup dan meletakkan paperbag tersebut dilantai dengan begitu saja.
"Baik nyonya. " Ucap para pelayan itu secara bersamaan. Dengan langkah cepat Nia keluar dari dalam kamar sambil menggerutu kesal kepada Gael. Sementara para pelayan itu saling menoleh satu sama lain sambil tersenyum dengan tingkah nyonya mereka itu yang sedang merasa malu.
__ADS_1
"Huss.. Kalian sedang apa? " Peringat pelayan yang lebih senior itu kepada beberapa temannya. Dan mereka pun segera berhenti tersenyum dan kembali fokus dengan tugas mereka.
"Kau kenapa? " Selidik Mita yang baru saja datang dan melihat Nia yang sedang menggerutu didepan pintu kamarnya. "Tidak apa-apa mah. " Nia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung harus menjawab apa.
"Bagaimana? kau menyukai semua barang tadi? " Tanya Mita yang ternyata sudah tau tentang semuanya. "Bukan tidak menyukainya mah, tapi aku tidak terbiasa dengan barang mahal seperti itu dan terlebih lagi Gael membelikan terlalu banyak sampai aku harus dibantu dengan lima orang pelayan untuk membereskan semua itu. " Terang Nia jujur.
"Sayang, suami mu sudah membelikannya untuk mu dan mama harap kau menyukai semua itu dengan begitu Gael akan merasa senang sudah membelikan semua itu untuk mu. " Ucap mama Mita.
"Maaf. " Nia menundukkan kepalanya merasa sudah tak menghargai pemberian Gael padahal jauh didalam lubuk hatinya paling dalam ia sangat senang mendapatkan perhatian dari Gael hanya saja menurutnya semua itu berlebihan.
Tak lama kemudian para pelayan pun keluar dari dalam kamar Nia. "Kami sudah merapikan semuanya nyonya. Kalau begitu kami permisi. " Ucap salah satu dari mereka.
"Terima kasih banyak kalian sudah membantu. " Ucap Nia. "Itu semua sudah menjadi tugas kami nyonya. " Ucapnya lagi.
"Kalian kembalilah ke belakang. " Suruh Mita.
"Baik nyonya. " Kemudian mereka pun meninggalkan kedua nyonya mereka itu.
"Mah, aku masuk dulu. " Ucap Nia kepada Mita yang dibalas oleh anggukan kepala oleh Mita. Begitu Nia sudah berada didalam kamar Nia teringat akan kalung berlian pemberian Gael.
Nia tersenyum bahagia sambil menyentuh kalung yang masih berada didalam kotak berbentuk hati dan berwarna merah itu. "Aku bahagia dengan sikap mu belakangan ini terhadap ku tapi aku akan lebih bahagia jika kau mengatakan mencintai ku dan itu sudah lebih dari cukup untuk ku. " Lirih Nia yang menginginkan sebuah kalimat itu dari mulut Gael.
__ADS_1