Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Melihat dan mendengar


__ADS_3

Nia masih tertidur dengan nyenyak ketika Gael hendak akan berangkat ke kantor.


"Tolong antar kan sarapan untuk Nia kekamar. " suruh Gael kepada pak Agus ketika ia selesai dengan sarapannya.


"Baik tuan. "


"Kita berangkat. " Ucap Gael kepada Daren yang masih meminum kopinya. Dengan terpaksa Daren meletakkan gelasnya itu dan mengikuti perintah tuannya itu.


Bruk


"Maaf, maaf tuan saya tidak sengaja. " Halima yang tidak sengaja menabrak Daren. "Makanya jalan pakai mata! "Ucap Daren melampiaskan kekesalannya kepada Halima karena tuannya itu Daren belum sempat menghabiskan secangkit kopinya.


"Eh tuan Daren, anda itu bagaimana? berjalan itu menggunakan kaki bukan nya mata. " Terang Halima memprotes ucapan Daren barusan.


"Is, kau ini? sudah lah aku buru-buru dan tak bisa meladeni ucapan mu itu. " Daren meninggalkan Halima yang sedang tersenyum karna berhasil menggoda Daren yang sebelas dua belas dengan tuannya Gael.


"Halima sedang apa kau disana? "pak Agus menatap heran ke Halima yang berdiri disana. "Tidak ada pak Agus. " Halima berjalan melewati pak Agus yang kebingungan dengannya.


"Kalau dipikir-pikir tuan Daren itu sangat tampan. " Gumam Halima didalam hati. Astaga ada apa dengan ku? sadar Halima kau itu hanya seorang pelayan tidak pantas kau mengagumi tuan Daren. " Gerutu Halima pada dirinya sendiri.



"Pak Gus, aku mau kerumah sakit hanya sebentar tidak akan lama dan kembali sebelum tuan mu itu kembali ke mansion ini." Jelas Nia kepada pak Agus.



"Baik nyonya, tapi sebaiknya anda diantar oleh supir saja. " peringat pak Agus.



"Baiklah. " Nia mengiyakan ucapan pak Agus.



"Silahkan nyonya. " Pak Agus membukakan pintu mobil untuk Nia. "Terima kasih pak Gus. " Ucap Nia setelah masuk kedalam mobil.



Pak Agus menutup pintu mobil itu dan setelah itu ia berbicara dengan supir yang bertugas untuk membawa Nia. Setelah selesai berbicara supir tersebut. pun melajukan mobil nya menuju rumah sakit yang dimaksud oleh Nia.

__ADS_1



"Pak tunggulah sebentar aku tidak akan lama. " Ucap Nia kepada supir itu. "Baik nyonya. "


Nia melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Kiren meninggalkan parkiran mobil. Ketika Nia hendak membuka pintu kamar tempat Kiren dirawat, sayup-sayup ia mendengar percakapan orang yang sedang berada didalam ruangan tersebut.


"Gael, maafkan aku yang sudah pernah meninggalkan mu. "


"Kiren, bukan kah aku sudah pernah bilang jika aku sudah memaafkan mu sebelumnya. "


Nia merasa penasaran dan membuka sedikit pintu itu sehingga ia melihat dua orang yang sedang berada didalam sana.


"Ia aku tau, tapi aku masih mencintai mu. "


"Kau seharusnya tidak membicarakan ini Kiren, bagaimana pun sekarang sudah ada Tian sebagai tunangan mu. "


"Tapi aku tidak mencintainya. "


"Sampai kapan pun aku hanya akan mencintai mu. " Tegas Kiren.


"Sebaiknya kita tidak membahas ini. "


"Apa kau sudah tidak mencintai ku lagi? " Kiren meraih tangan Gael dan menggenggamnya. "Kiren, aku tidak ingin kau membuat keputusan yang salah untuk kedua kalinya." Peringat Gael meletakkan tangannya satu lagi diatas tangan Kiren.


Nia pergi meninggalkan tempat itu sebelum ia. menemui Kiren seperti janjinya kemarin. Ia tidak sanggup beada disana. Hati nya tentu sakit namun Nia berusaha untuk tegar karna pada dasarnya Gael tidak pernah mencintainya.


"Kiren, cobalah melupakan ku seperti aku melupakan hubungan kita. Sekarang ada Tian disisi mu tolong jangan kau sakiti perasaan nya. " Terang Gael.


"Tapi aku.. "


"Kau harus belajar mencintai nya seperti dia mencintai mu. Tidak kah kau melihat betapa besar cintanya kepada mu bahkan jauh lebih besar dari perasaan ku pada mu. Jangan kau hancurkan hatinya hanya karna masa lalu mu. Karna masa depan mu adalah Tian. " Jelas Gael.


"Apa kau berbicara seperti ini karna tidak ingin menyakiti perasaannya? " tanya Kiren menatap sendu wajah Gael.


"Tidak. Aku berbicara sesuai dengan apa yang aku lihat. Bagaimana dia memperlakukan mu dengan baik bahkan kan selalu setia disamping mu ketika berjuang melawan penyakit mu. "


"Kau benar, selama ini aku berusaha menutup mata ku akan rasa cintanya kepada ku. Itu semua karna aku masih berharap jika aku dan kau kembali bersama lagi. " Jelas Kiren mengakui semuanya.


"Mulai sekarang berikan Tian cinta mu sepenuh nya. " Pinta Gael. Kiren menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuannya dengan permintaan Gael kepadanya.

__ADS_1


Sementara Nia yang sudah berada diparkiran rumah sakit, segera naik kedalam mobil. "Kita pulang sekarang pak. " Ucap Nia begitu berada didalam mobil.


"Nyonya sudah selesai? " pak supir memastikannya.


"Ia pak, aku tidak jadi menemui teman ku sepertinya dia sedang tidak bisa diganggu. " Bohong Nia.


"Baik nyonya. "


"Selama perjalanan menuju mansion Nia terdiam mengingat kembali apa yang sudah dilihatnya barusan. Ternyata mereka pernah mempunyai hubungan dan sekarang pun mereka masih saling mencintai. Kenapa hati ku sakit? kenapa aku tak sanggup menerima kenyataan jika suami ku mencintai orang lain? " Tanpa terasa air mata Nia mengalir dengan sendirinya.


"Aku tidak bisa seperti ini. " Nia mengusap air matanya. "Sadar Nia pernikahan ini cepat atau lambat akan berakhir." Gumam Nia mengingatkan dirinya sendiri.


"Pak, tolong berhenti didepan sebentar. " Pinta Nia kepada sang supir.


"Baik nyonya. " Supir itu pun menepikin mobilnya dibahu jalan. Nia turun dari dalam mobil. "Pak tunggu sebentar ya. "


"Ia nyonya, silahkan. "


Nia melangkah kan kakinya memasuki sebuah apotik dengan langkah gemetar. Menarik nafas dalam sebelum ia masuk kedalam apotik tersebut. Dan tak berapa lama Nia keluar dari dalam apotik dengan sebuah kantong plastik ditangannya.


"Jalan pak. " Nia kembali duduk dibangku penumpang.


Setibanya Nia di mansion ia melihat Halima yang sedang membersihkan meja yang ada diruang tengah mansion.


"Sedang apa? " Nia tersenyum lebar kepada Halima dan duduk di sofa yang ada diruang tengah tersebut.


"Kau dari mana? " tanya balik Halima melihat kearah Nia sebentar kemudian kembali dengan pekerjaannya.


"Tadi dari rumah sakit. " Sahut Nia. "Siapa yang sakit? " selidik Halima menghentikan pekerjaannya dan ikut duduk disamping Nia.


"Kau ingat kak Tian yang pernah aku cerita padamu dan beberapa waktu yang lalu ia datang kemari menemui ku dan setelah itu kami berangkat ke rumah sakit? "


"Ia aku ingat, dia sakit? " tanya Halima penasaran.


"Bukan tapi yang sakit itu tunangannya. " Jelas Nia.


"Jadi barusan kau dari rumah sakit mengunjungi tunangan Tian? "


"Ummm. " Nia menyandarkan punggungnya disandaran sofa yang diikuti oleh Halima melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Ehem"


Pak Agus berdehem mengagetkan Halima dan Nia. "Dasar pak Agus tidak bisa lihat orang bersantai walau sebentar apa?" Gerutu Halima hampir tak terdengar oleh pak Agus yang sedang berdiri menatapnya.


__ADS_2