
"Masuk! " perintah Gael mendorong Nia masuk kedalam mobil. Nia hanya bisa pasrah. Mengikuti seperti apa yang dikatakan oleh Gael duduk disebelah Gael yang sedang mengemudikan mobil menuju mansion.
Mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Mencengkram stir mobil dengan kuat. Pandangannya lurus kedepan. Berusaha menguasi amarahnya sendiri agar tidak bertindak untuk membuatnya menyesal nantinya. Sementara Nia yang mulai merasa ketakutan hanya bisa berdoa didalam hati. "Semoga tidak akan terjadi apa-apa. "
Mencengkram ujung pakaiannya. namun tak berani mengeluarkan suaranya untuk sekedar meminta Gael mengurangi kecepatan laju mobil yang dikemudiankan oleh Gael.
Begitu tiba di mansion. Gael membukakan pintu mobil untuk Nia dan tanpa berkata apa pun menarik tangan Nia keluar dari dalam mobil dengan paksa.
Langkah kaki Nia berlari kecil mengimbangi langkah kaki Gael. Sedikit meringis menahan rasa sakit akibat cengkraman di pergelangan tangannya. Pak Agus dan beberapa pelayan yang menyaksikan hal tersebut tak berani berkata apapun.
Nia melemparkan tatapan memohon kepada pak Agus namun yang ditatap hanya menundukkan pandangannya. Seolah berkata maaf.
Membawa Nia menaiki tangga menuju lantai dua mansion tanpa memperdulikan langkah Nia yang terseok-seok mengikuti langkah kakinya. Begitu berada didalam kamar, Gael menutup pintu dengan membantinganya.
Nia terkejut namun tak bisa berbuat apa-apa di situasi seperti demikian. Gael menarik Nia hingga sampai ke sisi ranjang dan menghempaskan tubuh Nia dengan kasar keatas ranjang.
Nia merasa sakit namun tak berani mengeluarkan rintihannya. Memilih mendudukkan badannya dipinggiran ranjang sambil menunduk. Tatapan tajam mata Gael membuatnya semakin takut akan apa yang akan terjadi berikutnya.
"Kau tau apa kesalahan mu? " Berdecak pinggang tepat didepan Nia.
Berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. "Kau tak bisa bicara ha? " Mulai menaikkan nada suaranya.
"A-aku tak tau apa kesalahan ku. " Jawabnya dengan terbata-bata.
"Ck. Kau sungguh tak tau apa kesalahan mu? " Gael tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya itu. jelas-jelas dia marah karena melihat ia dan Pirdo bersama tadi.
Nia mengganggukan kepalanya masih dengan posisi menunduk. "Apa yang kau lakukan disana bersama dengan pria itu? " Suara datar Gael namun Nia mulai mengerti inti dari permasalahannya.
__ADS_1
"Aku dan Pirdo hanya.. "Ucapan Nia terhenti ketika Gael memotong ucapannya. "Hanya menemui laki-laki itu diam-diam dibelakang ku? " tegas Gael.
"Apa? " Nia mengangkat wajahnya melihat kearah Gael. "Kau harus bisa menjaga nama baik ku jika sedang berada di luar sana. "
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? aku tidak melakukan sesuatu yang memalukan. Dan juga Pirdo itu teman ku apa salahnya jika aku menemuinya? " bela Nia.
"Mulai sekarang kau tidak bisa bertemu dengannya sesuka hati mu lagi." Tegas Gael. "Yang benar saja. " Nia tertawa kecil.
"Mulai sekarang kau tidak diijinkan keluar dari mansion. " Peringat Gael. Membalikkan badannya hendak keluar dari kamar.
"Kenapa? Menjeda sejenak kalimatnya. Kenapa kau memperlakukan ku sesuka hati mu? tidak kah pernah kau berpikir dan merasa kasihan kepada ku? " Ucap Nia tanpa memandang kearah lawan bicaranya. Memandang jauh kedepan dengan tatapan sendu.
"Untuk apa aku merasa kasihan kepada mu? " Ucapan Gael sambil membalikkan badannya menghadap Nia. "Benar. Untuk apa? bahkan orang seperti ku tak pantas mendapat belas kasihan dari mu. " Lirih Nia namun terdengar berbeda di telinga Gael.
"Kau harus tau batasan mu! " peringat Gael.
"Jaga bicara mu itu! " Gael mulai tidak bisa menguasai emosi yang sedari tadi ia tahan.
"Untuk apa? " Nia berdiri dari duduknya mendekati Gael. "Katakan untuk apa aku harus menjaga bicara ku?
"Kau lupa bicara dengan siapa? "
"Ya aku lupa jika kau adalah suami ku yang harus aku hormati. " Menekan kata suami pada kalimatnya.
"Kau! " Mencengkram rahang Nia sampai Nia terdongak. "Lepaskan. " Nia meraih tangan Gael. "Kau dengan beraninya mengatakan aku suami mu tapi kau bertemu dengannya di belakang ku. Katakan apa kau sedang berselingkuh dengannya? " Melepaskan tangannya dari rahang Nia dengan kasar lalu memalingkan wajahnya. Tanpa disadari olehnya kuku jari tangannya melukai wajah Nia. Meninggalkan goresan disana.
"Aku tidak seperti yang kau tuduhkan itu. " Membela dirinya sambil mengusap wajahnya yang terasa perih.
__ADS_1
"Jika tidak berselingkuh lalu apa namanya? "
"Aku katakan tidak berarti ya tidak! " Nia meninggikan suaranya tersulut emosi.
"Lihat diri mu. Kau bahkan meninggikan suara mu kepada ku sementara kau bersikap manis kepadanya. " Terang Gael masih berdiri membelakangi Nia. "Lalu apa bedanya dengan diri mu ha? " pekik Nia mulai terbawa suasana hatinya yang sedang tidak baik.
"Aku tau pernikahan ini adalah sebuah kesalahan. Dan aku menyesalinya sekarang. Aku kehilangan kebebasan ku." Mengeluarkan semua isi hatinya.
"Apa kau benar-benar menyesal sekarang? " Ucap Gael merasa kecewa dengan ucapan Nia. Hatinya sakit mendengar ucapan itu. "Ya aku menyesal. " Akhirnya buliran bening itu tak bisa lagi ia tahan agar tidak membasahi pipinya. Mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan hatinya. Memukul dadanya yang terasa sesak dengan ucapannya sendiri.
Menarik nafasnya dalam sebelum kembali mengatakan keinginannya. "Aku mohon hentikan ini secepatnya. Aku janji setelah itu aku akan pergi dari kehidupan mu. " Entah kenapa hati Gael sakit mendengar Nia memohon kepadanya untuk melepaskan dirinya.
"Apa dengan begitu kau akan bahagia? " Membalikkan badannya menatap wajah Nia memastikan bahwa Nia yakin dengan ucapannya.
"Tentu aku bahagia. " Mengusap air matanya dari wajahnya.
"Bagaimana jika aku tidak mau melakukan seperti apa yang kau inginkan? " mencoba menggali perasaan Nia kepadanya.
"Lebih baik aku mati dari pada harus tinggal seperti ini bersama mu. Aku juga berhak untuk bahagia dan aku ingin mencari kebahagian ku. " Lirih Nia.
Ternyata seperti itu yang kau pikirkan. Apa tidak sedikit pun kau menyadari perasaan ku pada mu? Gumam Gael dalam hati.
Gael memutuskan meninggalkan Nia keluar dari kamar yang menyesakkan hatinya. Saat ini ia butuh tempat yang tenang untuk sendiri.
"Ada apa dengan ku? apa aku sudah melakukan hal yang benar? " gumam Nia menatap punggung Gael sampai tak terlihat dibalik pintu kamar.
"Aagghh. " mendendang sofa yang ada di ruang kerjanya bahkan kini semua benda yang ada diatas mejanya menjadi bahan pelampiasannya. Melemparkan apa saja yang ada diruangan itu menjadi tak berbentuk berhamburan dilantai. "Kau tak bisa keluar begitu saja dari kehidupan ku. " Menggusar rambutnya ke belakang merasa frustasi dengan perkataan Nia yang terus berputar di kepalanya. Memohon agar mengakhiri hubungan diantara mereka berdua.
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu. "