Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Episode 76. Daren dijebak part 2


__ADS_3

"Tolong aku kali ini! " Mohon Daren dengan wajah yang memerah terus mendekati Ica yang berusaha menghindar dari Daren. "Daren kau membuat ku takut. " Teriak Ica sambil terus memundurkan langkah kakinya kebelakang hingga tubuhnya tidak bisa bergerak lagi berbenturan dengan dinding kamar.


Daren tidak lagi menghiraukan ucapan Ica, ia merengkuh tubuh Ica mencium paksa bibir Ica dengan kasar. Ica tidak tinggal diam ia memberontak berusaha terlepas dari cengkraman Daren yang terus menyerangnya.


Bukan melepaskan Ica, Daren justru semakin bergairah mendekap tubuh Ica. Daren mengangkat tubuh Ica keatas ranjang kemudian segera menghimpit tubuh Ica dengan kedua pahanya.


Daren kembali mencium bibir Ica dengan paksa, gerakan tubuh Ica yang tidak mau diam semakin membuat Daren ingin menyentuhnya. Ciuman itu kini turun ke leher jenjang Ica dan meninggalkan bekas disana.


Daren menarik paksa pakaian yang digunakan Ica sampai sobek tak berbentuk kemudian membuangnya ke sembarang arah. Sontak Ica menutup tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya yang hanya menggunakan dalaman saja.


Daren semakin tertantang melihat tubuh mulus itu dan menarik kedua tangan Ica yang menghalangi pemandangan indah bagi Daren. Cengkraman tangan Daren yang begitu kuat membuat Ica tak berdaya, ia hanya bisa memalingkan wajahnya ketika Daren mulai menyentuh tubuh bagian atasnya dengan menciumi kedua gundukan tersebut.


Di sela-sela kegilaan Daren, Ica belum menyerah ia masih berusaha terlepas dari laki-laki yang berusaha mengambil kesuciannya namun usahanya itu hanya sia-sia bahkan kini Daren sudah berhasil melepas semua pakaian yang melekat pada tubuh Ica.


"Aku mohon jangan lakukan ini pada ku. " Mohon Ica penuh marah didetik-detik terakhir. Namun Gael yang sudah menahan sesuatu sedari tadi tidak lagi menghiraukan rintihan suara Ica yang memohon kepadanya.


Air mata Ica keluar dari kedua matanya ketika Daren memasuki bagian inti Ica. Hancur sudah hidup Ica dengan tega laki-laki itu mengambil sesuatu yang paling berharga dalam diri Ica. Mengambil kehormatannya tanpa adanya sebuah ikatan diantara keduanya.


Dibawah kungkungan Daren Ica hanya bisa pasrah baginya sudah tidak ada lagi gunanya terus berusaha melawan pria itu karna semuanya sudah terlambat. Satu yang pasti ia sesali mengapa ia tidak pergi saja dari tempat itu sebelum semuanya terjadi.


Kini ia hanya bisa meratapi nasibnya sendiri dengan sejuta penyesalan dalam dirinya. Daren yang sudah mendapatkan ke puasanya menjatuhkan dirinya disamping Ica dan tertidur setelah itu.


Sementara Ica yang sedang terisak berusaha mendudukkan tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya itu kemudian bergerak secara perlahan memungut pakaiannya yang berserakan dilantai kamar.


"Ck." Ica tertawa sinis mengejek dirinya sendiri sambil menatap pakaiannya yang sudah tidak berbentuk itu. Sepersekian detik Ica teriak histeris sambil melempar kembali pakaian itu dari tangannya.

__ADS_1


Ica berjalan tertatih memasuki kamar mandi dengan menahan rasa sakit dibagian bawahnya. Ica terus terisak sambil menatap pantulan dirinya dicermin yang ada didalam kamar mandi tersebut.


"Aku membenci mu! " Teriak Ica terus menerus, ia menumpahkan semua kesedihannya didalam sana. Cukup lama ia berada disana meratapi nasibnya kemudian Ica membersihkan dirinya.


Ica berjalan keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk sebagai penutup tubuhnya. Berjalan melewati tempat tidur dimana Daren terbaring lelap dengan tubuh polosnya. Ica mengambil pakaian untuk ia gunakan dari dalam lemari selesai itu ia keluar dari dalam kamar dan tidur disofa yang ada diruang tengah apartemen tersebut.


Ica membolak-balikan tubuhnya namun tak kunjung bisa terlelap, ia masih takut jika Daren kembali menghampirinya. Akhirnya ia melewati malam itu tanpa bisa memejamkan matanya sedetik pun walaupun tubuhnya terasa sangat lelah.


Pukul lima pagi barulah Ica memejamkan matanya melepas semua beban hidupnya sejenak sebelum matahari memancarkan sinarnya dan ia kembali kepada kenyataan yang tidak pernah ia inginkan akan berakhir seperti itu.


Daren perlahan terbangun dari tidurnya, mengerjapkan kedua matanya berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Ahh.. Kepala ku. " Daren memegangi kepalanya yang terasa berat.


Daren melihat kesemua arah merasa jika ia tidak sedang berada didalam kamar tidurnya. "Kenapa aku bisa disini? " Bertanya kepada dirinya sendiri sembari bergerak mendudukkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Mata Daren terkejut melihat tubuhnya dalam keadaan polos, seketika itu juga ia melihat seisi ruangan itu dan mendapati pakaian yang berserakan lantai kamar tak jauh dari tempat tidur.


"Sial! " umpat nya begitu mengingat apa yang sudah terjadi. Walaupun ia tidak terlalu mengingat secara detailnya apa yang sudah ia lakukan.


"Ica! " Lirih Daren mengingat wanita itu. Dengan cepat Daren turun dari atas ranjang mengambil pakaiannya dan memakainya kemudian Daren bergegas mencari Ica. "Dimana dia? " Daren mencari kedalam kamar mandi namun ia tak menemukan sosok yang ia cari tersebut.


Daren melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mencari keberadaan Ica, Daren takut jika Ica pergi meninggalkan dirinya setelah apa yang dilakukannya. Namun kini ia bisa bernafas dengan lega begitu melihat wanita itu terbaring diatas sofa yang ada diruang tengah.


Daren berjongkok mensejajarkan dirinya tepat dihadapan Ica yang masih terlelap. Daren membelai wajah teduh Ica dengan lembut. "Maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan kepada mu! " Seru Daren dengan suara yang begitu pelan agar Ica tidak terbangun dari tidurnya.


Daren mengangkat tubuh Ica hendak memindahkan wanita yang ia cintai itu kembali kekamar. Ica yang merasa tubuhnya melayang ke udara sontak membuka matanya dan begitu terkejut melihat wajah Daren yang begitu dekat dengan wajahnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? turunkan aku! " teriak Ica ketakutan.


"Diamlah atau kau akan jatuh. " Terang Daren terus berjalan menuju kamar.


"Aku tidak mau! " Ica menggoyangkan kedua kakinya agar Daren menurunkan tubuhnya namun Daren tidak memperdulikan itu ia tetap menggendong Ica dan menurunkan tubuh Ica diatas tempat tidur.


"Hari ini kau istrihatlah tidak perlu berangkat bekerja! " Ucap Daren menatap Ica. Sungguh ia tidak tahu harus mengatakan apa dan mulai dari mana.


"Aku tidak mau! " teriak Ica. "Memangnya siapa kau? setelah apa yang sudah kau lakukan pada ku dan sekarang kau dengan santainya seolah tidak terjadi apa-apa. " Lirih Ica sambil terisak.


Daren menarik nafasnya dalam. "Maaf kan aku. Aku tau perbuatan ku itu salah maka dari itu ijinkan aku bertanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat terhadap mu. " Pinta Daren.


Ica memalingkan wajahnya dari Daren dengan air mata yang terus terjun bebas dari kelopak matanya.


Daren menangkup wajah Ica dengan kedua tangannya menghadap kepadanya. "Dengar, aku akan menikahi mu secepatnya dan aku harap dengan begitu kau bisa memaafkan ku. " Tegas Daren.


"Aku tidak mau! " Ica menghempaskan kedua tangan Daren dari wajahnya.


Daren tau betul wanita itu sedang marah atas perbuatannya itu.


"Lantas apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ku? " tanya Daren.


"Aku tidak mau melihat mu lagi! " Ketus Ica.


"Tapi aku tidak akan melepaskan mu begitu saja! " Ucap Daren kemudian pergi meninggalkan Ica didalam kamar tak lupa ia mengunci Ica didalam kamar. Daren memilih untuk pergi dan membiarkan Ica tenang terlebih dahulu sebelum kembali berbicara dengannya.

__ADS_1


Bersambung!


__ADS_2