
"Dari mana saja kau satu harian ini? " Gael melonggarkan dasinya kemudian duduk sofa. "Aku pergi bertemu dengan kak Tian. Aku sudah memberitahukan kepada Daren sebelum aku pergi." Terang Nia.
"Bagaimana keadaannya? " Gael melepaskan jas yang masih melekat ditubuhnya. "Keadaannya cukup baik. Setidaknya kak Tian sudah bisa tertawa tadi siang. " Jelas Nia membantu Gael melepaskan jasnya.
"Tertawa? "
"Apa yang kalian lakukan? " Sorot mata Gael sudah tidak bersahabat. "Aku hanya berusaha menghiburnya . " Nia bergerak meninggalkan Gael mempersiapkan air mandi untuk Gael.
"Lebih baik aku menghindari pertanyaan yang jika dijawab salah dan jika tidak dijawab lebih salah lagi. " Gumam Nia.
Gael merasa kesal Nia meninggalkannya begitu saja tanpa menjelaskan secara detail apa saja yang dilakukannya bersama dengan Tian. Menunggu Nia keluar dari kamar mandi tetap dengan posisi duduk disofa.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi? " Ucapan Gael kembali membahas hal yang sama sebelumnya.
"Apa? " Nia berpura-pura tidak peka maksud dari pembicaraan Gael. "Apa yang kau lakukan sampai Tian bisa tertawa seperti yang kau katakan barusan. " Cecar Gael tak sabar mendengar penjelasan dari Nia dengan tatapan tajamnya membuat yang ditatap menelan air ludahnya dengan susah payah.
"Aku kan sudah bilang jika aku hanya menghiburnya. " Ucap Nia dengan hati-hati. "Ia aku tau. Tapi yang aku maksud apa yang kau lakukan untuk menghiburnya. "
"Kami hanya membicarakan hal-hal kecil yang pernah kami lakukan dulu sewaktu aku masih tinggal bersama dengan kak Tian. " Jelas Nia.
"Benarkah? "
"Umm." Jawab Nia yang memicu kekesalan Gael.
"Jawab yang benar jika aku sedang bertanya kepada mu. " Suara Gael terdengar datar namun sangat menakutkan bagi Nia. "Apa sih mau mu yang sebenarnya tuan? "
"Aku ingin tau sedekat apa hubungan kalian dulu. " tanya Gael menatap wajah Nia dengan lekat menantikan jawabannya. Namun sorot matanya seperti sedang mengatakan. "Habis kau jika ucapan mu membuat ku kesal. "
__ADS_1
Nia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus memulainya dari mana. "Kenapa diam? " Gael sudah begitu tidak sabar untuk mendengarnya. "Aku.. " Nia menghentikan ucapannya, menggigit bibir bawahnya.
"Ada apa?" Gael kembali mengeluarkan suara datarnya.
"Aku dan kak Tian cukup dekat. Bisa dibilang aku sudah menganggapnya sebagai kakakku. "
"Hanya itu? " Gael menoleh kearah Nia.
"Ha? " Nia berpikir sejenak. "Aku mengingatkan hal kecil namun terasa lucu dan dengan demikian kak Tian terwata dan mulai mengingat kembali hal-hal lucu ketika kami dulu masih bersama. " Nia menjelaskan kembali.
"Aku sangat bersyukur dipertemukan kembali dengan kak Tian. Jujur pertama kali bertemu kembali dengannya aku sangat bahagia bisa memeluknya melepas rindu ku padanya selama ini. " jelas Nia sambil tersenyum dengan ucapannya sendiri. Sementara Gael sudah menatapnya dengan tatapan tidak sukanya.
"Aku tau dan aku melihatnya sendiri. Bagaimana kau memeluknya padahal kau sudah mempunyai suami. " Gael sudah tidak tahan mendengar Nia membicarakan Tian kepadanya.
"Ah, ia aku lupa jika waktu itu tuan juga ada disana dan melihatnya. " Nia belum menyadari jika Gael sudah merasa kesal dengannya. Ingin menceritakan lebih banyak lagi kepada Gael.
"Huh. Tadi dia yang ingin aku menceritakan semuanya sekarang bilang tidak punya waktu. Maunya sebenarnya apa coba? " gerutu Nia dengan suara kecil.
"Jangan mengumpat ku." Teriak Gael dari dalam kamar mandi. "A-apa? " Nia tercengang. Bagaimana ia bisata tahu jika aku sedang mengumpatinya? " Apa dia mendengarnya? ah Tidak mungkin. Gumam Nia.
Di meja makan Nia melirik kearah Gael yang sedari tadi hanya diam saja setelah keluar dari dalam kamar mandi.
"Mau ini? " Nia menyodorkan potongan daging ke depan Gael. Karena tak ada jawaban dari Gael Nia menarik kembali daging tersebut menjauh dari Piring Gael dan meletakkannya kembali keatas meja.
Nia kembali menyuapkan makanannya kedalam mulutnya sambil sesekali melirik Gael yang masih pokus dengan makanannya.
Gael meneguk segelas air putih begitu ia selesai melahap habis makanan dari piringnya. Berdiri dari duduknya membuat Nia menyudahi makan malamnya. Mengikuti Gael berjalan dibelakang menaiki tangga menuju kamar.
__ADS_1
"Ada dengannya? tidak seperti biasanya. Tapi ada untungnya juga sih. Setidaknya aku tidak perlu membuang energi ku lebih bayak karena harus meladeninya menanyakan ini itu."
Begitu masuk kedalam kamar Gael langsung berbaring diatas ranjang. Mendiamkan Nia karena merasa tidak suka jika Nia membicarakan hal yang membuatnya tidak nyaman dan merasa kesal. Lucu bukan? padahal ia yang meminta Nia untuk menceritakannya namun justru ia juga yang tidak terima.
Nia ikut berbaring disamping Gael yang sedang membelakangi nya. "Apa aku berbuat salah? " Gumam Nia menatap punggung Gael.
"Tuan, apa anda sudah tidur? " tanya Nia namun tak ada jawaban dari yang ditanya tersebut. Nia mendongakkan kepalanya mengarah ke Gael untuk memastikan bahwa bahwa Gael sudah memang tidur atau belum.
"Cepat sekali dia tertidur. Tidak seperti biasanya. Tapi ya sudahlah lebih cepat dia tidur maka lebih baik. " Suara batin Nia.
Nia menunjuk-nunjuk punggung Gael dengan jari telunjuknya. Membuat titik-titik seperti sedang menuliskan sesuatu dipunggung Gael.
"Suamiku. " Ucapnya setelah berhasil menuliskan kata tersebut di punggung Gael. "Apa kau sangat lelah sepertinya kau begitu cepat untuk terlelap? " Nia mengulangi gerakan tangannya dipunggung yang masih berlapiskan pakaian yang digunakan oleh Gael.
Nia mendekatkan wajahnya ke punggung Gael. Membenamkan wajahnya disana. Tanpa sadar tangannya bergerak naik keatas badan Gael dan melingkarkan tangan itu disana.
Sejurus kemudian Nia tersadar dengan apa yang dilakukannya. Menjauhkan wajahnya kemudian mengangkat tangannya dari tubuh Gael.
Untung saja dia sudah tidur. Jika tidak bisa habis aku karna sudah berani memeluknya. Gerutu Nia merutuki dirinya sendiri.
Sementara Gael yang sedari tadi berpura-pura tidur membiarkan Nia berbuat sesukanya. Bahkan ia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Nia barusan.
Membuka matanya namun masih tetap dengan posisi membelakangi Nia. "Ternyata diam-diam kau ingin memeluk ku. Tapi aku suka jika kau memeluk ku seperti itu. Berarti itu artinya kau mulai menyukai ku tanpa kau sadari. Dan itulah yang aku inginkan. " Gumam Gael tersenyum tipis sebelum ia kembali menutup matanya dan berusaha untuk benar-benar tertidur menuju alam mimpinya.
Nia kembali memainkan jari telunjuknya dipunggung Gael. Kali ini entah apa lagi yang ia ukir dipunggung itu. Terus memainkan telunjuknya tanpa henti seperti ia mendapat hiburan baru. "Mumpung yang punya punggung tak merasakan sentuhan tangannya."
"Apa kau sudah puas membuat punggung ku sebagai. mainan mu? "
__ADS_1