
Merasa sudah cukup jauh dari mansion Gael meminta Daren menghentikan mobilnya.
"Turun." Ucap Gael kepada Serli.
"Apa? " Serli terkejut sekaligus bingung dengan perubahan sikap Gael.
"Aku bilang turun sekarang juga! " perintah Gael dengan tegas.
"Tapi bagaimana aku pulang? "
"Itu bukan urusan ku. " Ketus Gael.
"Aku tidak mau! " Tolak Serli.
"Kau turun sekarang atau aku yang akan menyeretmu keluar! "bentak Gael.
"Baik, aku turun. " Dengan kesal Serli terpaksa turun dari dalam mobil dan menutup pintu dengan kasar.
"Jalan. " Ucap Gael kepada Daren.
"Kau lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan. Kau tidak bisa memperlakukan ku seperti ini Gael, akan ku pastikan kau akan menjadi milik ku. " Pekik Serli menatap tajam mobil yang ditumpangi Gael hingga jauh dari pandangan matanya.
"Tuan, kenapa anda menurunkan nona Serli ditengah jalan? bukankah tadi tuan sendiri yang mengikinkannya untuk bersama dengan tuan? " Daren merasa penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh tuannya.
"Aku sengaja melakakunnya. Apa kau tak menyadari keberadaan Nia tadi sebelum kita berangkat? " Balik bertanya kepada Daren.
"Ia tuan, saya melihat nyonya Nia ada disana sebelum kita berangkat tadi. " Terang Daren melihat tuannya melalui kaca yang ada di depannya.
"Aku ingin tau apakah dia cemburu melihat ku bersama dengan Serli. " Tersenyum membayangkan wajah Nia yang cemburu kepadanya.
"Tuan, tuan apakah harus dengan cara seperti itu? " Gumam Daren.
Jika Gael sedang tersenyum lain dengan Nia yang merasa hatinya gelisah setelah kepergian Gael. Setelah menyaksikan sendiri Gael dan Serli pergi bersama. Nia lebih banyak diam hanya berbicara jika Mita menanyakan sesuatu. Selebihnya ia memilih diam, pikirannya terus berputar memikirkan kemungkinan yang terjadi antara Gael dan Serli.
"Baru saja aku merasa jika dia mencintai ku. Sikapnya yang tadi malam masih begitu hangat tapi pagi ini ia kembali menyadarkan diriku yang sebenarnya. Bagaimana bisa aku berpikir jika Gael mencintai ku? " Lirih Nia.
"Kau kenapa Nia? " Selidik mama Mita yang tak jelas mendengar ucapan Nia.
Nia mendongakkan kepalanya meihat kearah Mita. "Tidak ada apa-apa mah. " Menutupi perasaan sedihnya.
"Daren apa masih banyak lagi? " bertanya kepada Daren tanpa melihat lawan bicaranya sambil terus menandatangani beberapa berkas yang ada di depannya.
"Tidak terlalu banyak lagi tuan. " Daren mengambil berkas yang sudah diselesaikan oleh Gael dari tangannya.
"Kau ini, kenapa tidak sedari tadi kau menyerahkan ini semua? aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah cemberut Nia. " Pekik Gael menatap tajam sekilas kepada Daren kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Ini. " Gael menyerahkan dokumen terakhir yang sudah ia kerjakan. Beralih menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
"Ayo kita pulang. " Ucap Gael kepada Daren.
__ADS_1
"Baik tuan, silahkan. " Mempersilahkan Gael lebih dulu dan kemudian Daren mengikuti dari belakang tuannya itu.
Daren yang sedari tadi menggerutu didalam hati melihat kelakuan tuannya yang terus memaksanya untuk melajukan mobil secepat mungkin.
"Ayolah Daren, aku sudah tidak sabar untuk melihat Nia. Apakah dia akan marah nanti? " bertanya padanya sendiri.
"Bagaimana menurut mu Daren, apa Nia akan marah padaku begitu aku tiba? "
"Entahlah tuan, saya tidak tau. " Ucap Daren.
"Ah, ia aku lupa jika kau ini jomblo. " Ucap Gael menekan ucapannya diakhir kalimatnya.
"*Setidaknya aku tidak akan merasakan kegilaan seperti yang tuan lakukan saat ini*. " Gumam Daren.
Setelah empat puluh lima menit kemudian, akhirnya mereka tiba di mansion. Mengedarkan pandangan matanya keseluruhan sudut ruang tengah mansion. Mencari sosok Nia disana. "Kau lihat Daren, dia tidak menyambut kepulangan ku. Jelas sudahkan kalau diam sedang marah karena tadi pagi. " Tersenyum puas merasa berhasil dengan rencananya.
"Kau pulanglah sekarang. " Suruh Gael kepada Daren. "Baik tuan. " Ucap Daren membungkukkan badannya hendak pamit. "Kau juga pak Agus kembalilah ketempat mu. "
Clek
Gael membuka pintu kamar.
"Kau sudah pulang? Kenapa pak Agus tidak memberitahu ku? " ujar Nia bersikap biasa saja.
"Apa ini? kenapa dia tidak marah pada ku bahkan wajahnya sedikit pun tidak menunjukkan kemarahan. " Gerutu Gael didalam hati.
"Kau sedang apa? " Tanya Gael kepada Nia yang sedang duduk dimeja rias. "Tidak Ada. " Nia berduri dari duduknya dan membantu Gael melepas jas kantornya.
Seperti biasa Nia menyiapkan air hangat untuk Gael tanpa sedikit pun terlihat marah kepada Gael. Hal itu ternyata membuat Gael kesal dengan rencananya sendiri.
__ADS_1
"*Apa ini kenapa dia tak menyinggung masalah tadi pagi. Padahal jelas-jelas aku melihatnya*. "
"Apa kau tidak ingin menanyakan sesuatu? " tanya Gael begitu keluar dari kamar mandi selesai mempersiapkan air hangat untuknya.
"Tidak, memangnya ada apa? " berbalik bertanya.
"*Kau ini, mengapa tidak marah kepada ku ha? apa kau memang tidak mencintai ku? padahal aku ingin melihat mu meluapkan amarahmu karena cemburu dengan melihat ku pergi bersama dengan wanita lain. Ternyata aku salah mengira tentang mu. Aku pikir kau mencintai ku seperti aku mencintai mu*. "
"Kenapa diam? " Selidik Nia menatap bingung dengan Gael yang terdiam.
"Lupakan. " Ketus Gael kesal.
"*Ada apa dengannya? seharusnya sekarang ini aku yang kesal dengan mu setelah kau pergi bersama wanita itu. Dengan santainya kau seperti tidak ada terjadi sesuatu yang salah dengan mu*. "
Nia menatap Gael lekat sambil berdebat dengan pikirannya sendiri. "Sekarang kenapa kau yang diam? " Ucap Gael.
Nia tersenyum tersadar dari pikirannya. "Apa tidak sebaiknya mandi sekarang? " Ucap Nia dengan hati-hati takut dengan suasana hati Gael yang kurang baik.
Tanpa berbicara apa lagi Gael berdiri dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi. Berhenti sejenak tanpa membalikkan badannya menghadap ke Nia. "Katakan kepada pak Agus jika aku tidak akan turun untuk makan malam. " Kemudian Gael masuk kedalam kamar mandi tanpa menunggu Nia yang hendak berbicara.
"Baiklah. " Ucap Nia sepeninggalan Gael. Turun ke lantai bawah dan mencari pak Agus yang sedang bersiap dimeja makan menghidangkan makan malam untuk penghuni mansion.
"Dimana Gael? " Tanya Mita melihat hanya Nia yang turun sendiri. "Katanya dia tidak turun untuk makan malam mah dan aku diminta menyampaikan ini kepada mu pak Gus. "
"Baik nyonya. " Ucap pak Agus yang sudah mengerti apa maksud dari ucapan tuannya.
Nia menarik kursi untuknya, duduk dan mulai membalikkan piringnya hendak mengisi piring tersebut. "Kau makan malam dikamar saja bersama dengan Gael. " Ucap Mita.
"Tapi mama? " Nia merasa tidak enak hati.
"Sudahlah kau temani suami mu makan malam, mama tidak apa-apa hanya sedikit kesal tau begini mama tidak perlu menunggunya untuk makan malam." Ujar mama Mita.
__ADS_1
Nia pun meletakkan kembali piringnya dan berdiri dari duduknya. "Kalau begitu Nia akan kekamar. " Ucap Nia meninggalkan mama Mita yang disusul oleh pak Agus membawa makan malam untuk tuannya menuju lantai dua.