
"Ada apa tuan? " Pak Agus yang mendengar suara dari luar masuk dan menghampiri tuannya itu. "Keluarlah! " sambil mengibaskan tangannya. "Baik tuan. " Membungkukkan badannya sebelum meninggalkan ruangan itu.
Sementara dikamar Nia sedang menempelkan plester di wajahnya. Menutup bekas luka goresan dari kuku jari tangan Gael. Menatap bayangan dirinya dicermin. Menghembuskan nafasnya berusaha tersenyum kepada dirinya sendiri. Sebelum ia meninggalkan kamar.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya? " Pak Agus yang kebetulan lewat. "Kenapa pak Agus selalu ada di mana-mana? disetiap sudut mansion ini selalu muncul secara misterius. " Gerutu Nia. "Maaf nyonya. " Membungkukkan badannya. "Sudahlah aku tidak membutuhkan apapun saat ini. " Nia hendak melangkah.
"Maaf nyonya. Ada apa dengan wajah anda? " bertanya begitu melihat plester yang menempel di wajah Nia. "Oh ini hanya luka kecil." Tunjuk Nia kemudian pergi begitu saja.
"Apa sedang terjadi sesuatu? " bertanya pada dirinya sendiri. Bingung dengan situasi dimana tuan Gael sedang dalam kondisi tidak baik dan mencoba menghubungkan dengan plester diwajah nyonya nya.
Nia masuk kedalam sebuah ruangan menyalakan lampu begitu membuka pintu. Ruangan yang sepertinya biasa digunakan untuk bersantai penghuni mansion. Didalam terdapat televisi dengan layar besar. Sebuah ruangan yang menyerupai sebuah bioskop. Masuk tanpa menutup kembali pintu ruangan itu.
Nia memilih menenangkan dirinya sendiri didalam sana. Berpikir sejenak antara ingin menonton film atau sebuah drama. "Ah, sepertinya karokean lebih menyenangkan. " Bergumam sendiri.
Cukup lama meluapkan amarahnya didalam ruang kerjanya, kini Gael turun ke lantai bawah. Tujuan sebenarnya menuju dapur untuk mengambil minuman dilemari pendingin. Namun suara musik yang mengalun menghampiri pendengarannya.
Melangkahkan kaki menuju ruangan sumber suara. "Siapa malam begini yang berada diruangan itu? "
Melihat Nia sedang bernyanyi didalam sana.
Dengarlah cinta hati ku remuk redam
jika tak ada kamu menemani aku
Dengarlah cinta ku memanggil namamu
disetiap waktu ku
ku memikirkan kamu
Aku sepi sepi sepi sepi
jika tak ada kamu
Aku mati mati mati mati
jika engkau pergi
Dengarlah kesayangan ku
jangan tinggalkan aku
tak mampu jika ku tanpamu
Dengarlah kesayanganku
hidup mati ku untuk mu
kumohon pertahankan aku
Gael memundurkan langkahnya dari pintu. Menyandarkan punggungnya di dinding ruang itu dari bagian luar. "Ck kau menumpahkan perasaanmu melalui lagu. Apa ini caramu mengatasi masalah? bukankah lebih kau mengatakannya secara langsung kepada ku? Ternyata ucapan mu berbeda dengan hati mu. Bagaimana sebenarnya perasaan mu terhadap ku? " Gumam Gael kemudian ia meninggalkan Nia dengan lirik lagunya.
Keesokan harinya.
Hari menjelang sore, Nia pergi kerumah belakang mansion menemui Halima. "Kau jangan datang kesini. Bagaimana jika pak Agus datang? " ucap Halima mulai panik. "Tenang saja pak Agus tidak akan marah. Aku sudah bertemu dengannya tadi sebelum kesini. " Jelas Nia mencoba menghilangkan rasa panik Halima yang menurutnya sedikit berlebihan.
__ADS_1
"Baguslah jika begitu. " Masih terus sibuk dengan pekerjaannya. "Oya, bagaimana hubungan mu dengan tuan Gael! apakah sudah ada kemajuan? " Halima mulai lagi dengan jiwa keponya yang meronta-ronta.
"Biasa saja. " Jawab Nia acuh.
"Biasa bagaimana? " Menghentikan gerakan tangannya menoleh kearah Nia.
"Kau tak perlu berekspresi seperti itu. " Ketus Nia. Halima membenarkan posisi duduknya menghadap kearah Nia. "Seharusnya kau berusaha mendapatkan cinta tuan Gael bukan malah bersikap acuh seperti ini dan menyembunyikan perasaan mu terhadap tuan Gael. "
"Bagaimana caranya coba? "
"Banyak caranya kau saja yang tak mau memikirkan hal itu. Jika mau cara yang lebih baik yaitu dengan mengandung anak dari tuan Gael. "
"Apa? yang benar saja. Jadi maksud mu aku harus mengandung anak darinya? "
"Ya ialah. " Sebuah jawaban singkat padat dan jelas.
"Jadi maksudmu selama menikah kau dan tuan Gael tidak pernah melakukan hubungan suami istri begitu? "
"Tidak juga. Dia pernah melakukannya sekali tapi itu pun kembali melakukan dengan cara paksa." Terang Nia apa adanya.
"Aku benar-benar tidak percaya. Kalian tinggal di satu kamar tapi tidak melewati malam dengan cara bercinta. jika begitu kapan kau akan mengandung anaknya? "
",Jika yang kau pikirkan itu terjadi tidak akan ada hasilnya juga karena aku memakai alat kontrasepsi pencegah kehamilan. "
"Apa? " Ucap Halima secara bersamaan dengan seseorang yang sedari tadi berada di depan pintu sedang mendengarkan obrolan mereka tanpa sepengetahuan oleh keduanya dan sama terkejutnya dengan Halima pada saat yang bersamaan.
Nia menatap Halima bingung kemudian mengarahkan pandangannya menuju arah pintu dimana asal dari suara selain suara dari Halima.
Deg
__ADS_1
"Mama? " Terkejut dengan apa yang dilihatnya bahkan sama terkejutnya dengan Halima. "Mati aku. Jadi tadi ini yang dimaksud oleh pak Agus tadi.
Plashback
"Anda mau kemana nyonya muda? " Cegah pak Agus yang sudah mengetahui jika Nia akan pergi kerumah belakang.
Menghentikan langkahnya tepat di depan pak Agus. "Aku mau menemui Halima. " Jawabnya santai. "Tapi nyonya, sebaiknya Anda tidak kesana untuk saat ini. Ada hal yang lebih penting dari itu." Pinta pak Agus.
"Aku hanya sebentar. " Nia berlalu begitu saja.
"Tapi nyonya." Ucapan pak Agus terhenti ketika Nia semakin menjauh darinya bahkan Nia sampai berlari melarikan diri. Pak Agus tersadar akan tugasnya untuk menyambut kepulangan dari nyonya Mita. Lebih memilih menyambutnya di depan pintu masuk mansion dan melupakan niat awalnya yang ingin memberitahukan kepada Nia jika nyonya Mita telah kembali.
"Selamat datang kembali nyonya. " Pak Agus membukakan pintu mobil untuk nyonya besar penghuni mansion. Berjalan mengikuti nyonya Mita dari belakang memasuki mansion.
"Dimana Nia? " selidik Mita karena tidak melihat keberadaan menantunya tersebut. "Sepertinya beliau sedang berada dirumah belakang nyonya. " Terang pak Agus.
"Sedang apa dia disana? " mengkerutkan keningnya.
"Nyonya muda mungkin sedang menemui salah satu pelayan yang bernama Halima, nyonya. "
"Untuk apa? " tanya nyonya Mita kembali. "Maaf saya kurang tau nyonya. " Sahut pak Agus menunduk. "Kalau begitu biar saya yang melihatnya kesana. " Beranjak dari tempatnya.
"Maaf nyonya. Biar saya yang akan panggilkan nyonya muda kesini. " Terang pak Agus. "Tidak apa pak. Kau boleh lanjutkan kembali pekerjaan mu. " Perintah Mita.
Dari jarak yang cukup dekat Mita mendengarkan obrolan antara Nia dan pelayan mansion yang bernama Halima. Merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh keduanya, Mita diam-diam mendekati pintu ruangan itu dan mendengarkan semua yang mereka bicarakan tanpa sepengetahuan Nia menantunya itu dan juga Halima.
Awalnya Mita tidak berpikiran yang tidak-tidak karena ia percaya dengan menantunya itu tidak akan membicarakan hal yang tidak penting. Namun begitu hendak pergi meninggalkan tempat itu membiarkan Nia bersama pelayan itu. Langkahnya terhenti begitu sebuah kalimat yang membuatnya terkejut.
Flash on
"Mama.. "
__ADS_1