Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Kedatangan Serli part 2


__ADS_3

"Sial! " Umpat Serli menatap punggung Gael yang sudah melewati pintu. "Aku tidak akan menyerah begitu saja kali ini Gael. Dan wanita itu yang mengaku sebagai istri mu itu. Tidak mungkin kau mencintai wanita seperti itu. Wanita yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ku. " Gerutu Serli mengepalkan kedua tangannya merasa marah dengan penolakan Gael kepadanya.


Padahal Serli buru-buru pamit dari mansionnya hanya karena ingin menemui Gael dengan langkah cepat untuk menggoda Gael setelah mendengar bahwa Gael sudah menikah pikirannya tidak tenang dengan apa yang didengarnya itu.


Dan ia pikir menemui Gael di kantornya adalah jalan yang tepat untuknya kali ini namun ternyata langkah yang ia ambil kali ini tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkanya.


Merasa tak ada hal lagi yang bisa ia lakukan diruangan itu terpaksa Serli keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal karena gagal dengan rencananya.


"Daren apa dia sudah pergi? " tanya Gael kepada Daren yang sedang mengemudikan mobil.


"Sudah tuan. Menurut Fika nona Serli segera keluar dari ruangan anda begitu kita pergi tadi. " Jelas Daren kepada Gael yang mendapat informasi dari sekretaris tuan Gael.


"Perintahkan kepada semua orang agar tidak memperbolehkan wanita itu berkeliaran di perusahaan ku." Tegas Gael tak ingin dibantah.


"Baik Tuan. " Daren menatap tuannya itu melalui kaca mobil yang ada didepannya.


Di mansion.


Nia yang sebelumnya memanggil Halima ke kamarnya kini keduanya sedang berada didalam kamar menghindari kehadiran pak Agus yang selalu saja muncul tiba-tiba.


"Ada apa? " Tanya Halima yang duduk bermasa dengan Nia disofa yang ada didalam kamar. "Tuan Gael membuang semua pil penunda kehamilan yang aku minum setiap hari. Bagaimana menurut mu, apa aku perlu membeli kembali pil tersebut? jika tidak bagaimana jika suatu saat nanti aku hamil? " Terang Nia menatap Halima.


"Kau ini, untuk apa kau takut jika kau hamil? " Halima balik bertanya. "Is kau ini. Aku tidak ingin hamil anak dari tuan Gael. Bagaimana jika dia meninggalkan ku? " Nia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Tidak mungkin kalau tuan Gael meninggalkan mu Nia. " Terang Halima menatap heran kepada Nia.


"Tapi tuan Gael tidak mencintai ku Halima. " Pekik Nia menatap langit-langit kamar.


"Kalau tuan Gael tidak mencintai mu mana mungkin dia melakukannya dengan mu? " jelas Halima.


"Entahlah. Aku bingung dengannya. Tuan Gael tidak pernah mengatakan jika dia mencintai ku. " Lirih Nia mengatakan kebenarannya bahwa Gael memang tidak pernah menyatakan perasaan nya kepada Nia.


"Tuan Gael memang tidak mengungkap perasaanya kepada mu tapi tuan Gael menyatakan perasaannya dengan caranya sendiri. " Jelas Halima.


"Maksudnya? " Nia memperbaiki posisi duduknya menghadap kepada Halima. "Kau ini. "Halima menunjuk kening Nia. "Memangnya aku kenapa? " Nia belum menyadari maksudnya dari ucapan Halima.

__ADS_1


"Aku pastikan jika tuan Gael sudah jatuh cinta kepada mu Nia. Apa kau tidak menyadari akan hal itu? " Sidik Halima.


Nia menggelengkan kepalanya. "Coba kau pikirkan, jika tuan Gael tidak mencintai mu untuk apa beliau membuang semua pil itu? "


"Tapi tetap saja aku ingin mendengarnya langsung dari mulutnya. "


"Mendengar apa? " Suara Gael mengejutkan keduanya. Halima dengan spontan berdiri dari duduknya dan memundurkan langkahnya menjauh dari Nia. Begitu juga dengan Nia. Ia ikut berdiri mengikuti Halima.


"Maaf tuan. " Halima membungkukkan badannya kepada tuan Gael yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? " Selidik Gael menatap Nia tanpa memperdulikan ucapan Halima yang meminta maaf kepadanya.


"A-aku dan Halima tidak sedang membicarakan hal penting. Aku hanya meminta dia untuk menemani ku karena aku bosan. " Kilah Nia berbohong.


"Benarkah? " Gael duduk disofa tempat Nia duduk sebelumnya.


Nia hanya menganggukkan kepalanya. "Beraninya kau mengatakan itu hal tidak penting menyangkut dengan ku. " Gumam Gael yang sudah mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Nia dan Halima tadi.


"Kau keluar lah. " Suruh Gael kepada Halima yang tak berani mengangkat wajahnya menatap tuan dan nyonya nya itu.


"Baik tuan. " Halima membungkukkan badannya sebelum Meninggalkan kamar itu. Sementara Nia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menatap kepergian Halima.


"Tidak ada. " Jawab Nia singkat.


"Benarkah? " Gael mendekatkan wajahnya kewajah Nia. "Umm. " Nia menganggukkan kepalanya. Gael mencium pipi sebelah kiri Nia kemudian berpindah ke leher jenjang Nia. "Beraninya kau berpikiran seperti itu? apa kau tidak menyadari perasaan ku melalui tindakan ku kepada mu? apa itu kurang jelas bagi mu? " Terus melakukan hal yang ia inginkan dibagian leher Nia.


"Hentikan. " Nia memundurkan kepalanya menjauhi Gael.


"Ada apa? " Gael menatapnya lekat.


"T-tidak apa-apa. " Jawab Nia terbata-bata.


Gael kembali mendekati Nia menggeser sedikit posisi duduknya refleks Nia ikut menggeser duduknya. Gael kembali menggeser duduknya mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Nia.


"Aku bisa terjatuh. " Ucap Nia yang sudah berada di pinggiran sofa. "Makanya jangan bergeser dari ku. " Gael menarik lengan Nia agar lebih dekat kepadanya.

__ADS_1


"A-aku akan siapkan air hangat untuk mu mandi. " Nia sengaja menghindari Gael jika tidak ia akan diserang oleh Gael bila berlama-lama didekatnya.


"Kau ternyata sudah belajar menghindari ku. " Gumam Gael memperhatikan Nia yang hendak masuk kedalam kamar mandi.


"Sudah. " Ucap Nia melihat kearah sofa namun ia tidak menemukan yang ia cari disana. Beralih melihat kearah ranjang, ternyata Gael sudah berbaring disana dengan terlentang.


"Air hangatnya sudah siap. " Nia mendekati Gael.


"Buka. " Suruh Gael.


"Apa? " Nia bingung.


"Bukakan pakaian ku. " Suruh Gael.


"Tapi. "


"Cepatlah. " Suruh Gael mendesak Nia.


Dengan ragu-ragu Nia mengikuti perintah dari Gael namun tidak ada pilihan lain ketika Gael menatapnya tajam. Perlahan membuka kancing kemeja yang dikenakan Gael satu persatu.


Glek


Nia menelan salivanya melihat dada kekar milik Gael. Berusaha tidak memandangi pemandangan itu namun otaknya menginginkan hal itu.


Gael tersenyum merasa berhasil mengerjai istrinya itu. Tangan Nia berhenti ketika semua kancing kemeja itu sudah terbuka.


"Kenapa berhenti? " Seringai dibibir Gael.


"Apa? " Nia merasa bingung antara melanjutkan atau tidak. Perlahan tangannya menyentuh tali pinggang Gael hendak membukakan celana milik Gael. Memalingkan wajahnya kearah lain sementara tangannya tetap melanjutkan membuka celana yang masih melekat ditubuh Gael.


"Sudah. " Ucap Nia begitu selesai. "Belum. " Terang Gael sontak Nia melihat kearah wajah Gael.


Menunjukkan kearah bawahnya dengan gerakan memiringkan kepalanya dan gerakan matanya. "Dasar mesum. " Nia melemparkan pakaian Gael yang ada ditangannya tepat mengenai wajah Gael.


Bukannya marah Gael malah tertawa terbahak-bahak membuat Nia yang sempat ingin keluar dari kamar membalikkan badannya menghadap Gael. "Kau. " Kesal Nia.

__ADS_1


"Bagaimana? apa kau menginginkannya? " mendudukkan badannya diatas ranjang sambil menaik turunkan alisnya menggoda Nia.


Dengan perasaan kesal Nia keluar dari dalam kamar tanpa menghiraukan Gael yang masih tertawa senang sudah berhasil mengerjai Nia.


__ADS_2