
Didalam ruang kerjanya Gael berkutat dengan pekerjaan. Cukup lama ia berada didalam ruangannya. Memijit keningnya kemudian merenggangkan kedua tangannya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi yang ia duduki.
Melirik jam tangannya. Ternyata sudah pukul sebelas malam. Mulai merapikan meja kerjanya sebelum meninggalkan ruanganya.
Gael masuk kedalam kamarnya bersama dengan Nia.
Mendekati Nia yang sudah berada diatas ranjang.
"Ternyata kau sudah tidur. " Gael membetulkan selimut Nia. Memandangi wajah Nia yang sedang tidur merupakan kebiasaan baru bagi Gael. Sudut bibirnya tertarik menampilkan senyumannya.
Untung saja Nia sedang tidur jika ia melihat senyuman itu pasti ia akan terlihat bodoh sejenak didepan Gael yang terpesona dengan senyuman melelehkan jiwanya.
Gael menyelipkan rambut Nia yang sedikit menutupi wajah Nia kebelakang telinganya. Mengecup kening Nia dengan lembut bahkan cukup lama menahan kecupannya disana. "Selamat malam. " Ucap Gael kemudian ia ikut berbaring disamping Nia.
Memiringkan badannya menghadap ke Nia, melingkarkan tangannya memeluk tubuh yang sudah menjadi candu baginya. Tak butuh waktu lama, Gael juga tertidur menyusul Nia memasuki alam mimpi.
Keesokan hari.
"Apa Ini? " Nia yang baru saja membuka matanya ingin merentangkan kedua tangannya namun seluruh tubuhnya terasa berat. Menyentuh sesuatu yang terasa berat diatas perutnya. Sejurus kemudian melihat kebagian yang terasa berat itu.
"Astaga. " Nia menghela nafasnya sebelum menurunkan tangan Gael dari atas perutnya. Kemudian menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang. Belum saja kakinya menyentuh lantai, merasakan tarikan dari belakang tubuhnya hingga ia tertarik dan berada diatas tubuh Gael.
"Mau kemana? "Suara serak khas bangun tidur dari Gael.
"Aku mau.. " Belum sempat Nia menyelesaikan kalimatnya Gael sudah membalikkan badan Nia menghadapnya. Nia tertegun sejenak menatap wajah Gael yang begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan nafas mereka sangat begitu terasa.
Menggelengkan kepalanya setelah beberapa detik berada diatas tubuh Gael dengan posisi berada diatas dada bidang Gael. Menjauhkan kepalanya namun tangan Gael bergerak cepat menahan tengkuk Nia.
"Berikan aku ciuman selamat pagi. " Gael mengedipkan sebelah matanya. "A-apa? " Nia mulai gugup. "Apa aku harus mengulangi kata-katanya ku? " Ujar Gael. "T-tidak. " Ucap Nia terbata-bata.
"Kalau begitu lakukan. " Suruh Gael menantikan sebuah ciuman selamat pagi yang ia maksud. Nia masih saja diam. "Tunggu apa lagi? " Suara Gael benar-benar sudah tidak sabar lagi menunggu.
Cup. Nia menempelkan bibirnya di pipi sebelah kanan Gael. "Sudah. " Ujar Nia dengan wajah merah merona. "Apa itu? Aku ingin kau melakukannya disini?" Tunjuk Gael menempelkan jari telunjuknya dibibirnya.
__ADS_1
Nia memasang wajah meringisnya. Menahan Malu sekaligus bertahan diposisi yang mendebarkan. Akhirnya Nia melakukan seperti yang diinginkan oleh Gael. Menempelkan bibirnya di bibir tebal milik Gael. Namun dengan cepat ia menarik kepalanya menjauh.
"Sudah. " Ucap Nia bangkit dari posisi sebelumnya. Gael tidak tinggal diam menahan tangan Nia sehingga Nia berhenti dari gerakannya.
"Aku ingin kekamar mandi sekarang. " Ucap Nia dengan memasang wajah memelas agar Gael melepaskannya. "Kau ini. " Gael melepaskan tangannya dengan terpaksa.
Mengusap wajahnya dengan kasar. "Sial sedikit lagi saja. " Gerutu Gael frustasi karena tidak dapat memuaskan bagian bawahnya.
Sementara didalam kamar mandi Nia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi sambil mengelus dadanya. "Selamat. " Pekik Nia.
Nia tersipu malu dengan perlakuan Gael. Dimana tidak seperti biasanya Gael memberikan sebuah ciuman dipipi Nia sebelum ia memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh Daren.
Daren menutup pintu mobil begitu sudah memastikan tuannya itu sudah duduk dengan posisi nyaman dikursi penumpang. Membungkukkan badannya kepada Nia sebelum ia ikut masuk kedalam mobil.
Sejurus kemudian Nia tersadar dengan keberadaan pak Agus yang masih berdiri ditempatnya sebelumnya. Raut wajah Nia seketika berubah menjadi masam dari yang tersenyum seindah mentari pagi.
"Ehem. " Nia berdehem sebelum memulai pembicaraannya dengan pak Agus. "Seperti biasa pak Agus selalu saja muncul mengejutkan ku. " Ucap Nia dengan ekspresi kesalnya.
"Maaf nyonya. Bukankah seharusnya nyonya tidak terkejut dengan keberadaan saya. Kan saya sedari tadi memang sudah berada disini." Jawab pak Agus santai.
__ADS_1
"Ya kan aku pikir pak Agus sudah masuk begitu tuan Gael berangkat. Tapi kenapa masih berada disini? " gerutu Nia tak mau kalah.
"Karena saya menunggu nyonya masuk terlebih dahulu. " Lagi-lagi memberikan jawaban dengan santainya.
"Apa pak Agus sengaja mematai ku? " Sorot mata Nia penuh dengan curiga.
"Untuk apa saya mematai anda nyonya? "
"Ya mana aku tau. Kalau aku tau untuk apa aku bertanya? " Sewot Nia.
"Maaf nyonya, tapi saya tidak ada niat untuk melakukan hal semacam itu. " Terang pak Agus meyakinkan Nia. Padahal jauh dari yang sudah-sudah itulah yang selalu dilakukan olehnya tanpa sepengetahuan penghuni mansion.
"Sudahlah. Berdebat dengan pak Agus yang ada hanya akan membuat ku mati kutu. " Gerutu Nia kemudian pergi meninggalkan pak Agus.
"Kalian berdua sama anehnya. Sudah tau dengan perasaan nya namun terus saja menyangkal perasaan kalian sendiri. Bahkan anak kecil saja tau jika kalian saling jatuh cinta satu sama lainnya. " Gumam pak Agus sepeninggal Nia.
Kemudian ikut masuk kedalam mansion setelah Nia lebih dulu masuk ke mansion dengan rasa kesal karena harus menghadapi pak Agus dan segala kata-katanya.
__ADS_1