Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bunga lily


__ADS_3

Nia mendapatkan pesan dari Pirdo yang menanyakan kabarnya dan obrolan mereka terus berlanjut saling balas-balasan cat satu sama lain.


Ehem


Gael berdehem yang tanpa Nia sadari Gael yang baru turun dari kamarnya ke lantai bawah dimana Nia sedang berdiri di dekat tangga itu dengan kain kecil yang ia letak di pundak sebelah kirinya dan tak lupa kemoceng Nia selipkan di ketiak kanannya sementara tangan dan matanya tertuju pada benda pipih itu. Sesekali Nia tersenyum kemudian kembali fokus lagi entah apa yang dia lakukan itu.


Terlalu asik berbalas pesan dengan Pirdo sampai ia tidak mendegar deheman dari Gael yang membuat empunya deheman terabaikan.


"Ehem! "


Sekali lagi Gael mengulanginya barulah Nia tersentak dan buru-buru Nia menyembunyikan benda pipih yang ditangannya itu kebelakang badannya.


"Tuan.. " Nia membukkukkan badannya dan ingin segera pergi menjauh dari tuannya itu, mulai membalikkan badannya.


"Tunggu! " suara berat Gael menghentikan langkah Nia dengan terpaksa Nia kembali membalikkan badan menghadap tuannya itu.


"Ada apa tua? " Nia tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat Gael.


"Sedang apa? "


"Ha? "


"Kau sedang apa? " Gael mengulangi perkataannya.


"A aku sedang.. " Nia bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan itu seolah menanyakan sedang apa yang ia lakukan ketika sedang mengerjakan tugasnya sebagai pelayan.


"Maaf tuan aku tadi hanya membalas pesan dari teman ku yang menanyakan kabar ku. " Jelas Nia dengan hati-hati takut jika tuannya itu marah atas perbuatannya barusan.


"Yang aku tanya kenapa kau memakai Segaram ini?"


"Ha? " Nia kebingungan.


"Jangan membuat ku dalam masalah! jika mama tau hal ini aku pasti orang yang akan disalahkan dalam hal ini! " Gael berbicara dengan datar.


"Maaf tuan" entah apa yang ada dipikiran Nia hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut saat itu. Sementara Gael sudah berlalu dari hadapan Nia dan terlihat tuan Gael mendekati pak Agus yang sedari berdiri didekat meja makan menyaksikan tuan dan nyonya itu


"Pak Agus.. Urus dia aku tak mau hal ini terdengar sampai ke telinga mama. " Gael memerintah pak Agus dan seperti biasa pak Agus yang selalu mengerti maksud tuannya itu dengan sekali perintah memutuskan menemui Nia.


"Baik Tuan. " Pak Agus menemui Nia yang sudah berada dibelakang mansion menuju rumah belakang tempat para pelayan tinggal.


"Nyonya.. " Panggil Pak Agus.


Nia menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya. "Ia ada apa pak gus. " Nia menatap pak Agus dengan harap cemas. "Apa tuan Gael marah padaku? " Nia mencoba menerka-nerka maksud pak Agus mencarinya.


"Nyonya, sebaiknya anda tidak lagi menggunakan seragam ini dan tak perlu melakukan tugas anda lagi. " Ucap pak Agus serius dengan ucapannya.


"Tapi kenapa pak gus? apa tuan marah pada ku? "Nia mulai tidak tenang.

__ADS_1


"Bukan begitu nyonya tuan tidak ingin nyonya besar mengetahui hal ini dan nantinya tuan Gael tidak mau mendapat masalah dari apa yang anda lakukan saat ini. " Jelas pak Agus.


"Tapi pak gus, tuan Gael sendiri yang menyuruhku untukk embali kekamar ku dan itu berarti.. "


"Maaf nyonya mungkin anda salah menafsirkan maksud ucapan tuan Gael. " Pak Agus masih mencoba agar Nia tau maksud dari ucapannya.


"Trus, apa yang harus aku lakukan? "


"Anda tidak perlu melakukan apa pun nyonya. "


"Yang benar saja, aku tidak melakukan apa pun itu suatu hal yang mustahil pak gus. " Nia tergelak dengan ucapan dari Pak Agus kepadanya.


"Nyonya ini perintah dari tuan Gael jadi tolong anda mengerti posisi saya, jika nyonya tidak mendengarkan perintah tuan maka saya akan terkena imbasnya. "


Sejenak Nia menimang apa yang dikatakan oleh pak Agus ada benarnya. "Baiklah, aku akan melakukan perintahnya agar tidak menyusahkan pak gus. " Lirih Nia dengan suara lemah.


"Terima kasih nyonya. " Pak Agus membungkukkan badannya sebelum ia pergi dari hadapan Nia yang masih terlihat tidak bersemangat.


"Kenapa harus aku yang mengalami ini? "gumam Nia dalam hati kemudian ia menarik nafasnya dalam sambil menatap punggung pak Agus yang semaki menjauh darinya.




Semenjak saat itu Nia tidak pernah lagi menggunakan seragam yang digunakan para pelayan lainnya dan pak Agus juga tidak memperbolehkan lagi Nia melakukan tugasnya seperti sebelumnya. Diawal-awal Nia merasa bosan tidak melakukan apa pun sehingga menimbulkan kekhawatiran dari pak Agus merasa kasihan akan nyonya nya yang selalu terlihat murung dan menghabiskan waktu hanya untuk melamun.




"Pak Abdul sedang apa? " Nia ikut berjongkok mensejajarkan dirinya dengan pak Abdul yang sedang mengisi polybag.



"Ini nya mau menanam bunga. " sahut pak Abdul menghentikan sejenak aktivitas nya.



"Boleh aku bantu? "



"Tidak usah nyonya! "



Nia tak menghiraukan larangan dari pak Abdul, Nia ikut mengisi polybag yang ada didepannya. Pak Abdul tidak bisa berbuat apa apa lagi hanya bisa menghela nafasnya.

__ADS_1



"Nyonya saya takut kalau nanti tuan akan marah kepada saya jika nyonya melakukan ini. " Ucap pak Abdul. "Tidak apa pak, tuan Gael tidak akan marah kok! " kekeh Nia.



Dan mulai saat itu setiap hari Nia akan datang ke taman itu, Nia tidak sungkan untuk membantu pekerjaan pak Abdul mulai dari menyirami semua tanaman dan juga hal lainnya.



Pak Agus pun tak pernah melarang Nia untuk hal yang satu ini karna pak Agus tau nyonya itu juga butuh sesuatu menghilangkan rasa bosannya setiap hari.



Nia memandangi bunga-bunga yang ada di taman itu, senyuman dibibirnya terus merekah diwajahnya. Nia yang memang menyukai bunga hingga betah untuk berlama-lama disana.



Ia menyusuri setiap bunga yang sudah tertata rapi disana. Mulai dari bunga mawar, bunga anggrek, dan banyak lagi. Namun ada satu bunga yang paling menarik perhatiannya yaitu bunga lily.



Bunga dengan beberapa jenis warna yang berbeda namun entah kenapa ia seakan lebih tertarik dengan bunga lily yang berwarna kuning yang ada disana.


Nia seakan terhipnotis dengan bunga yang berwarna kuning itu. Nia merasa tertarik dengan bunga yang baru pertama kali ia temui secara langsung dan Nia betah berlama-lama di taman itu, memandangi bunga lily yang sudah memikat hatinya. Tak jarang Nia melupakan waktunya dan menghabiskan waktunya ditaman tersebut.



Terlalu lama Nia duduk di taman tersebut tanpa menyadari hari sudah hampir malam bahkan ia tak menyadari bahwa Gael sudah tiba dirumah.



"Dimana dia? "



Pak. Agus yang sudah tau maksud dari tuannya itu pun segera angkat bicara. "Seperti biasa tuan nyonya sedang berada di taman belakang. " Terang pak Agus.



Gael pun tergerak untuk melihat apa yang sedang dilakukan Nia disana. Dari kejauhan Gael melihat Nia yang sedang duduk pandangannya mengarah kepada bunga-bunga yang ada di taman itu namun tatapan matanya kosong lurus kedepan.



"Kau sedang apa disini? "


__ADS_1


**Bersambung**.


__ADS_2