Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Pernikahan Mauren dan Revan


__ADS_3

Nia tiba bersama Mita mama mertuanya di sebuah ballroom hotel yang sangat mewah milik dad Aska. Dimana akan diadakan pesta pernikahan Mauren dan juga Revan disana.


Nia yang dibalut dengan gaun berwarna navi terlihat sangat serasi dengan make up yang ia pakai menambah kecantikannya. Mita memperkenalkan Nia kepada beberapa temannya yang ikut menghadiri acara pernikahan tersebut.


Banyak teman dari Mita yang memuji kecantikan menantunya itu membuat Nia tersipu malu mendapat pujian dari orang-orang yang baru saja ia temui.


Nia yang tak terbiasa menggunakan high heels merasa sakit dibagian kakinya namun ia berusaha menahannya karna merasa tidak enak dengan mertuanya itu jika ia meninggalkan nya dan teman-temannya disana.


Dari kejauhan Gael ternyata sedari tadi memperhatikan istrinya yang terlihat cantik dari biasanya. Berbeda jauh dengan penampilan Nia sehari-hari yang tak menggunakan make up di wajahnya.


Gael dan Nia datang secara terpisah, dimana Gael memang yang tak ingin datang bersama dengannya dengan alasan bahwa ada hal yang harus ia selesaikan sebelum menghadiri acara tersebut. Dan meminta mama Mita untuk datang bersama dengan Nia.


Nia mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi agak menjauh dari mama mertuanya yang masih sibuk dengan para tamu undangan yang lainnya. Menghela nafasnya kemudian melepas high heelsnya sejenak memberi ruang kebebasan pada telapak kakinya.


Nia menatap Gael yang sedang berdiri bersama dengan rekan bisnisnya disana. "Aku sungguh tak pantas menjadi istri mu! " lirih Nia yang merasa minder berada disana.


Bagaimana tidak suaminya saja harus membuat sebuah alasan agar tidak datang bersama dengannya menghadiri acara itu. Membuat hati Nia sakit menerima kenyataan bahwa sampai kapan pun pernikahannya ini hanya sebuah kebohongan.


Mata Nia sungguh tidak dapat berbohong ketika melihat suaminya itu dikelilingi oleh wanita cantik disana. Pikiran nya berusaha tidak memikirkan hal itu berusaha keras mengalihkan pandangan matanya namun tetap saja hati nya terasa sakit.


"Ada apa dengan ku? sadarlah Nia dia hanya lah tuan mu dan kau pelayannya, ingat itu! " gerutu Nia menyadarkan status nya.


"Nyonya apa anda baik-baik saja? " Daren menghampiri Nia yang melihat nyonya nya itu sepertinya sedang kelelahan.


"Ia aku baik-baik saja! " Terang Nia memakai kembali high heelsnya. "Jika nyonya merasa lelah sebaiknya nyonya istirahat saja sebentar. " Daren mengingatkan nyonya mudanya itu.


"Aku pulang saja, apa boleh? " tanya Nia penuh harap. "Tentu nyonya, silahkan akan aku siapkan mobil untuk mengantarkan nyonya pulang." Terang Daren.

__ADS_1


"Terima kasih. " Ucap Nia dan sebelum melangkahkan kakinya Nia melihat kearah suaminya itu dan menghela nafasnya kasar dan hal itu mengundang perhatian dari Daren yang mengikuti pandangan mata nyonya nya itu.


"Silahkan nyonya! " Daren menghentikan tatapan Nia kepada suaminya itu.


"Ayo!" Nia pun meninggalkan tempat itu bersama dengan Daren.


"Tuan Daren.. Apa kau sudah memberitahu tuan Gael bahwa aku pulang lebih dulu." tanya Nia yang duduk di kursi penumang sementara Daren sedang mengemudikan mobilnya.


"Panggil Daren saja nyonya! " tegas Daren.


"Baiklah Daren. " Nia menuruti Daren.


"Tuan sudah tau nyonya saya mengirimkan pesan kepadanya tadi. " Jelas Daren.


"Oh begitu! " Nia ber oh ria.


Daren hanya menundukkan kepalanya kepada Nia kemudian ia kembali ke hotel dimana acara pernikahan itu masih berlangsung disana.


Malam harinya seperti biasa Nia akan menunggu Gael pulang walaupun ia lebih sering ketiduran ketika sedang menunggu suaminya itu. Namun malam ini Gael pulang lebih cepat dari biasanya.


"Tuan baru tiba? " tanya Nia sekedar menyapa suaminya itu dengan senyuman termanisnya."


Kau kan sudah melihat ku disini tapi kenapa kau harus bertanya lagi? " ketus Gael yang sukses membuat Nia terdiam dari senyuman yang merekah diwajahnya.


"Maaf tuan. " Nia masih berusaha bersabar menghadapi sikap dingin tuannya itu. "Apa tuan mau mandi biar aku siapkan air hangat untuk tuan? " tanya Nia dengan hati-hati.


"Tidak perlu! " Gael menolak dengan suara datar nya. "Tapi tuan, ini sudah malam jadi biar aku siapkan air hangat nya! " kekeh Nia sambil berjalan kearah kamar mandi.

__ADS_1


"Aku bilang tidak ya tidak! " Bentak Gael meninggikan suaranya. "Baiklah kalau begitu. " Pasrah Nia namun dengan cepat otaknya berpikir hal apa lagi yang harus ia lakukan untuk tuannya itu.


"Apa tuan mau makan malam? " tanya Nia asal bicara maksud hatinya ingin mendekatkan diri kepada suaminya itu.


"Apa kau tidak ada pekerjaan lain sedari tadi kau terus saja berbicara membuat aku pusing! " Gael kembali berkata ketus sambil memijit pelipisnya.


"Maaf tuan saya tulisan bermaksud untuk... " Belum sempat Nia meneruskan ucapannya Gael sudah lebih dulu memotong bicaranya.


"Kau diamlah! " kali ini Gael mencoba berbicara dengan nada biasanya.


"Baik tuan. " Nia pun keluar dari kamar itu untuk sambil menitikan air mata yang sedari tadi ia tahan agar tidak tumpah didepan tuan sekaligus suaminya itu.


Namun ketika berada di luar kamar stelah ia. menutup pintu itu kembali tembok yang ia bangun itu runtuh seketika. Nia menyeka air matanya dan memukul dadanya yang terasa sesak mengingat kembali bagaimana Gael tidak perduli kepadanya.


Nia duduk di bangku taman belakang mansion untuk menenangkan suasana hatinya. Disana ia teringat akan sosok pria yang selalu menemaninya dimasa-masa sulitnya. Dimana lima tahun yang lalu ia masih tinggal bersama keluarga tempat ibunya bekerja sebelum ibunya pindah bekeja sebagai pelayan di mansion Atmaja.


"Kak.. Aku sangat merindukan mu? apa kau sekali pun tidak pernah merindukan ku?" Nia berbicara sendiri sambil menatap bintang dilangit namun air matanya terus saja mengalir membasahi wajahnya.


"Aku membutuhkan mu saat ini, aku ingin bersandar dipundak mu walau hanya sebentar saja. " Lirih Nia sambil terisak meratapi nasibnya.


"Kau tau kak kini aku telah menikah tapi aku tidak pernah merasakan bagaimana indahnya sebuah pernikahan. Aku tau pernikahan ini seharus tidak terjadi dan yang bersalah disini adalah aku.


Andai saja waktu itu aku tidak masuk kekamar itu dan andai saja aku tidak membantunya saat itu pasti ini semua tidak akan terjadi. Yang paling membuat aku bersedih adalah aku tidak bisa menjaga kehormatan ku yang seharusnya aku menyerahkannya kepada orang yang mencintai ku. " Lirih Nia berbicara sendiri seolah ia sedang berbicara dengan seseorang meluapkan isi hatinya yang terasa penuh jika hanya menyimpannya untuk dirinya sendiri.


Tanpa sepengetahuan Nia, Gael mendengarkan semua curahan hatinya yang awalnya tak sengaja melihat Nia duduk sendiri di bangku taman itu dan karna penasaran Gael pun diam-diam berdiri dibalik tiang yang tak jauh dari tempat duduk Nia.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2