Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Meminta penjelasan dari Halima


__ADS_3

Nia mengepalkan tangan sambil meninju udara seakan dia sedang melakukan pukulan kepada pak Agus. Menghempaskan tubuhnya di atas ranjang menatap langit-langit kamar.


Seketika teringat sesuatu, bangkit berdiri dari atas ranjang. Karena tadi malam sibuk menghindari Gael. Nia melupakan ponsel barunya.


Mencoba mengingat nomor Pirdo dan menekan nomor untuk melakukan panggilan.


"Kenapa panggilan ku tidak diangkat olehnya? " meletakkan ponselnya diatas ranjang. Kemudian ia keluar dari kamar tujuannya kali ini adalah rumah belakang. Menemui Halima dan menanyakan perihal pindahnya ia dari kamar Halima ketika sedang tidur.


"Halima.. " Panggil Nia membuka pintu kamar Halima namun tak menemukan orang yang dicarinya disana. Sepertinya Nia melupakan jika Halima sedang melakukan tugasnya sebagai pelayan di mansion tuan Gael.


Menutup pintu kamar itu kembali kemudian mencari Halima menuju ruang yang biasanya digunakan untuk menyetrika pakaian penghuni mansion.


"Ternyata kau sedang disini. " Ucap Nia begitu membuka pintu dan menghampiri Halima.


"Ada apa nyonya datang kemari? " ucap Halima menghentikan sejenak aktivitasnya itu menoleh kearah Nia. "Kau kenapa? bukan kah aku sudah pernah bilang bicaralah seperti biasa saja dengan ku. " Nia menghempaskan tubuhnya diatas kursi yang ada di ruangan itu tepat dibelakang Halima.


Halima membalikkan badannya menghadap kearah Nia. "Bagaimana bisa aku berbicara seperti biasanya, aku tidak mau mendapat teguran dari pak Agus lagi hanya karena tidak menjaga sikap dan tutur bicara ku kepada Anda nyonya." Jelas Halima.


"Kau jangan mengada-ada. Seperti pak Agus kekurangan kerjaan saja sampai mengurusi hal begituan. " Terang Nia merasa tak percaya dengan ucapan Halima.


"Tapi memang kebenarannya seperti itu." Ucap Halima.


"Ah, terserahlah kau berbicara apa. Sekarang katakan pada ku apa yang terjadi tadi malam? kenapa aku bisa berada di kamar tuan Gael padahal akun ingat dengan jelas jika aku tidur di kamar mu? " Cecar Nia tak sabar mendengarkan penjelasan Halima sampai ia membetulkan posisi duduknya.


"Apa Anda benar tidak tau jika tuan Gael datang kekamar ku dan membawa anda kembali ke kamarnya. " Jelas Halima.


"Bisa tidak kau berbicara jangan terlalu formal seperti itu?" Nia mengendus kesal dengan cara bicara Halima kepadanya.


"Tidak bisa nyonya. " Ucap Halima lagi membuat Nia tercengang.

__ADS_1


"Kau kenapa? " Nia beranjak dari duduknya menempelkan punggung tangannya di kening Halima. "Tidak panas. " Nia mengkerutkan keningnya. "Apa kau salah minum obat? " Nia kembali duduk ditempat duduknya semula.


"Apa Anda tau nyonya? "


"Tidak." Jawab Nia santai.


"Is, dengar dulu. " Halima ingin menceritakan semuanya kepada Nia.


"Baiklah. Tapi berhenti memanggil ku dengan sebutan nyonya. " Peringat Nia.


"Tapi.. " ucapan Halima terhenti ketika Nia memotong ucapannya.


"Kau memanggilku dengan sebutan nyonya cukup hanya ketika berada didepan tuan Gael. " Suruh Nia. "Tentunya didepan pak Agus juga." Tambah Halima memainkan sebelah matanya. "Ya terserah lah. " Pasrah Nia.


"Sekarang ceritakan semuanya. " Suruh Nia kepada Halima.


"Tadi malam sewaktu kau sudah tertidur, pak Agus datang mencari mu. Setelah melihat dan memastikan jika kau sudah benar tidur seperti apa yang ku katakan sebelumnya, baru ia keluar dari kamar tanpa berkata apapun. Dan kau tau tak lama kemudian tuan Gael datang kekamar ku. Menggendong mu keluar dari kamar ku. Aku bahkan hampir tak percaya tuan Gael datang ke rumah belakang hanya untuk menjemput mu." Jelas Halima


"Lalu apa kata tuan Gael kepada mu! "


"Kau lupa jika tuan Gael tidak akan bertanya hal apa pun kepada para pelayan karna ia hanya ingin mengetahui semuanya dari pak Agus tanpa harus repot bertanya kepada pelayan seperti aku ini." Halima mengendus kesal dengan pertanyaan Nia.


"Ia kau benar aku melupakan hal itu. " Ucap Nia setuju dengan ucapan Halima tadi.


"Aku rasa tuan Gael sudah jatuh cinta kepada mu." Ucap Halima. "Mana mungkin itu terjadi Halima." Nia menyangkal ucapan Halima.


"Aku berkata seperti itu karena aku melihat secara langsung bagaimana tuan Gael menatap mu tadi malam sebelum ia membawa mu keluar dari kamar ku. Dan kau tau setelah itu pak Agus datang kembali menenui ku dan memperingatkan ku agar menjaga jarak dengan mu."


"Benarkah? wah pak Agus keterlakuan. Kenapa harus melarang mu dekat dengan ku? " Kesal Nia.

__ADS_1


"Sepertinya pak Agus hanya tidak ingin tuan Gael tidak merasa nyaman jika kau terlalu dekat dengan ku dan dengan pelayan lainnya." Halima mencoba menjelaskan maksud dari pak Agus.


"Tapi tetap saja kan. " Nia masih tidak terima dengan kelakuan pak Agus.


"Nia, pak Agus hanya menjalankan perintah dan tugasnya sama halnya seperti aku yang melakukan tugas ku di mansion ini. Bukankah memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh pak Agus jika semuanya itu harus ada batasannya. " Jelas Halima.


"Ya, ya. Aku mengerti tapi itu hanya berlaku jika didepan tuan Gael dan nyonya juga pak Agus. Diluar itu kau tetaplah teman ku. " Tegas Nia.


"Baiklah. " Halima setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nia barusan kepadanya.


"Sudah kau jangan terlalu lama disini. Nanti pak Agus datang kemari dan melihat mu disini bisa panjang urusannya. "


"Kau mengusir ku? "


"Ya aku mengusir mu." Halima tertawa keras dan tanpa sadar ternyata gelak tawanya itu terdengar oleh pak Agus yang sedang melintas tak jauh dari ruangan itu.


Nia mendekati Halima dan menggelitikinya sampai Halima terjatuh dari duduknya dan tergeletak di lantai. "Nah kena kau kan. " Nia sudah terus menggelitik Halima sampai Halima meminta ampun.


"Ehem. "


Suara deheman dari pak Agus tidak dihiraukan oleh keduanya yang sedang asik tertawa. Sampai pak Agus mengetuk-ngetuk pintu ruangan itu dengan keras baru keduanya tersadar. Melihat kearah pintu dan dengan gerakan cepat Nia berdiri dan mengulurkan tangannya membantu Halima untuk berdiri.


Maaf pak Gus. Aku hanya bosan dan menemui Halima kesini. Tapi aku tidak mengganggu pekerjaannya. Ya kan Halima." Nia menyenggol lengan Halima dengan sikutnya. "I-ia pak Agus. " Jawab Halima dengan terbata-bata.


Halima menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah pak Agus yang sedang melihatnya dengan tajam. Sementara Nia sudah mulai merasa tidak nyaman dengan sorot tatapan tajam pak Agus kepada Halima.


"Pak Gus. Aku harap Anda tidak memarahi Halima hanya karna hal ini. " Ucap Nia memberanikan diri melindungi temannya itu.


"Baik nyonya. " Pak Agus membungkukkan badannya. "Tapi sebaiknya nyonya tidak berkeliaran disini jika tuan Gael tau beliau bisa saja marah. " Terang pak Agus.

__ADS_1


" Maka dari itu pak Agus tidak perlu menyampaikan kepada tuan Gael akan hal ini." Ucap Nia sepertinya sedang memohon agar pak Agus tidak melaporkan kejadian yang dilihatnya barusan.


"Lagian mana mungkin tuan Gael marah jika aku datang menemui pelayan mansion bukankah sama saja dengan ku yang hanya sebagian pelayan disini? " Nia keluar dari ruangan itu meninggalkan Halima sementara Pak Agus juga keluar mengikuti langkah nyonya nya itu dari belakang.


__ADS_2