Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Episode 75. Daren dijebak


__ADS_3

"Maaf mama tidak tau jika kau sudah pulang." Ucap mama Mita yang memang tidak mengetahui jika Gael telah berada di mansion.


Gael hanya diam tak bereaksi atas ucapan mama Mita, sementara Nia yang menyadari sikap Gael langsung berdiri dari duduknya.


"Mama ada perlu apa? " Nia menanyakan Maksud kedatangan mama Mita.


"Tidak ada, kalian segeralah turun! mama tunggu dibawah kita makan malam bersama. " Pamit Mita tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua segera pergi keluar dari kamar tersebut.


"Kau mandilah aku akan menyusul mama. " Nia berlari mengejar mama Mita keluar dari dalam kamar. Tentunya untuk menghindari Gael yang sedang menginginkan dirinya. Bukan karna tidak ingin berduaan dengan suaminya tersebut namun Nia tau betul jika Gael tidak akan melepaskan dirinya begitu saja dan sebelum itu terjadi lebih baik Nia mengikuti Mita keluar dan menunggu Gael bersama dengan mertuanya itu dibawah.


Sementara Gael hanya bisa menatap kearah pintu kamar melihat Nia berlari meninggalkan dirinya. "Tunggu saja nanti malam aku pastikan kau tidak akan bisa tidur sedetik pun! " Kesal Gael.


"Kenapa kau meninggalkan suami sendirian? " tanya mama Mita begitu Nia berada disampingnya berjalan bersama menuruni tangga. "Tidak apa mah, dia akan mandi dulu baru dia akan menyusul kita dibawah. " Bohong Nia kepada mertuanya.


Setelah makan malam selesai segera Gael pergi meninggalkan Nia dan mama Mita yang masih sibuk dengan cerita mereka berdua yang seakan tidak ada habisnya padahal sepanjang hari mereka sudah bersama namun pembicaraan keduanya tidak ada habisnya.


Sementara ditempat lain kedua orang yang sedang duduk berhadapan sambil menikmati makan malam mereka. Yaitu Daren dan Ica, mereka menikmati makanannya tanpa ada yang berbicara.


Sesekali Ica mencuri pandang kepada Daren takut jika Daren berkata sesuatu tentang masakannya. "Ada apa? " tanya Daren yang menyadari sikap Ica sedari tadi.


"Ti tidak ada! " terlihat sedikit gugup dengan tatapan mata Daren kepadanya.


Daren pun melanjutkan kembali makannya. "Apa kau menyukai masakan ku? " selidik Ica takut-takut.


"Umm, lumayan. " Jawab Daren singkat.


Ica tersenyum mendengar ucapan Daren barusan, walau pun tidak memuji masakannya namun setidaknya Daren menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


"Apa tidak sebaiknya aku kembali saja tinggal bersama dengan tante Sarah? aku merasa kasihan jika dia tinggal sendirian. " Ucap Ica begitu selesai dengan makanannya.


Daren berpikir sejenak sebelum memberi pendapatnya. "Aku rasa sebaiknya tidak. " Tegas Daren.


"Tapi.." Ica tidak jadi meneruskan ucapannya karna Daren sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Untuk apa kau memikirkannya? bukankah dia tidak perduli terhadap mu? " Ucap Daren.


"Bukan begitu. Hanya saja sudah satu minggu lebih aku tinggal bersama mu, apa kata orang nanti. " Keluh Ica menatap Daren sambil menggigit bibir bagian bawahnya merasa tidak enak hati dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


"Sudah, tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan orang lain! " Tegas Daren kemudian meninggalkan Ica dimeja makan.


"Apa besok aku pergi saja dari disini? tapi jika tante Sarah mau menjual ku kembali bagaimana? " Ica bingung sendiri apa yang harus ia lakukan.


Belum sempat Ica beranjak dari duduknya Daren keluar dari kamarnya. "Kau mau kemana? " Tanya Ica yang melihat Daren yang sudah mengganti pakaiannya.


"Aku ada urusan sebentar. " Ucap Daren menatap Ica sejenak kemudian ia pergi begitu saja tanpa memberitahu kemana ia akan pergi. Ica hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa pun lagi.


Gael yang sedari tadi menunggu Nia didalam sudah tak sabar lagi menunggu lebih lama, ia hendak menyusul Nia yang masih berada dibawah dan berniat membawa Nia kedalam kamar secara paksa.


Belum sempat ia membuka pintu kamar ternyata Nia sudah lebih dulu membuka pintu tersebut dari luar kamar.


"Kau sedang apa? " selidik Nia terkejut dengan keberadaan Gael disana. "Kau masih saja bertanya, aku sedari tadi menunggu mu! " Kesal Gael menutup pintu kamar kemudian menarik tubuh Nia.


"Ada apa? " tanya Nia lagi bingung dengan sikap Gael ia berpikir terjadi sesuatu.


"Aku merindukan mu! " bisik Gael ditelinga Nia. "Kau ini? untuk apa kau merindukan ku pada hal setiap hari kita bersama bahkan.. " Ucapan Nia terhenti dengan bibir Gael yang sudah membekap bibir yang sudah ia rindukan itu.


"Umm. " Nia mendorong tubuh Gael menjauh dari nya memberi jarak diantara keduanya. Namun Gael justru kembali mengulangi aksinya. Perlahan ciuman itu semakin menuntut semakin ingin lebih memperdalam ciuman itu dengan menggigit pelan bibir bagian bawah Nia sehingga bibir itu terbuka dengan sendirinya.


Malam itu pun mereka habiskan melepaskan ****** yang sudah satu minggu tidak mereka rasakan. Dan benar saja Gael membuktikan ucapannya tidak membiarkan Nia tertidur sedetik pun.


Ia terus mengulangi dan lagi seakan tidak ada lagi hari esok, sampai pukul tiga dini hari barulah ia menyudahi percintaan mereka, itu pun karena Nia sudah benar-benar tidak berdaya dan memohon kepadanya untuk berhenti.


Gael mencium kedua mata Nia yang sudah tertutup karna kelelahan namun ia masih bisa merasakan ciuman dari Gael sambil terus berucap Aku mencintai mu.


Nia pun tertidur dengan perasaan bahagia mendengar ucapan dari suaminya yang dulu seakan enggan untuk melihatnya namun sekarang keadaannya sudah berubah. Dimana Nia sudah mendapatkan cinta dari Gael.




Daren mengendarai mobilnya menuju apartemen nya setelah menyelesaikan urusannya. Daren melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dengan keringat yang bercucuran di keningnya. Rasa panas menjalar di seluruh tubuhnya, berusaha untuk menahan sesuatu di tubuhnya yang seakan ingin meledak keluar dari dalam tubuhnya.



Daren membuka pintu apartemennya dengan tergesa-gesa segera berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman namun ia terkejut melihat Ica yang juga sedang berada di dapur tengah meneguk minuman nya.

__ADS_1



Daren menatap Ica dengan perasaan ingin memangsa wanita yang sudah lama ia cinta itu. Ica yang menyadari kehadiran Daren menghentikan minumnya. "Kau baru kembali? " Tanya Ica menatap Daren yang terlihat acak-acakan tersebut.



"Apa kau baik-baik saja? " Ica mulai khawatir dengan keadaan Daren yang menyadari ada yang tidak beres dengan Daren.



"Panas! " Daren terlihat gelisah. Ica yang berniat membantu Daren mendekati pria itu. "Minum dulu" Ica memberikan minumannya yang tadi kepada Daren.



Bukannya menerima minuman yang diberikan Ica, Daren malah mencium bibir Ica dengan rakusnya.



Prang


Gelas minuman Ica terjatuh dilantai, Ica tidak tinggal diam, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Daren namun tenaganya kalah kuat dengan Daren.



Disisa tenaganya akhirnya Ica bisa terlepas dari Daren. "Apa yang kau lakukan? " Sorot mata Ica menatap penuh amarah terhadap perlakukan Daren.



Daren tidak menjawab ucapan Ica, ia malah ingin menarik tubuh Ica namun dengan cepat Ica berlari memasuki kamarnya dan sialnya Daren menahan pintu itu dan ikut masuk kedalam kamar yang ditempati Ica.



"Tolong aku kali ini! "



Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2