Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bertemu Pirdo


__ADS_3

"Sudah lama? " tanya Nia ikut duduk di bangku yang ada didepan Pirdo. "Lumayan. " Sahut Pirdo.


"Ada apa kau mengajak ku bertemu dengan mu? "


"Tidak ada! aku hanya merasa bosan seharian berada dirumah besar itu tanpa melakukan apapun. "


"Astaga Nia... Kau mengajak ku untuk bertemu dengan mu hanya karna kau merasa bosan? " Pirdo tak habis pikir dengan jalan pikiran temannya tersebut.


"Ia, memangnya kenapa? " Nia bersikap santai menanggapi ucapan Pirdo barusan.


"Kau pikir aku tidak ada pekerjaan seperti mu sehingga aku bebas kapan saja bisa bertemu dengan mu ha? "


"Sudah lah, aku tau kau tidak sibuk. Lagian tidak ada salahnya kan jika aku ingin bertemu dengan mu? "


"Nia bukan masalah salah atau tidak. Aku meninggalkan pekerjaan ku karena aku pikir sesuatu terjadi padamu dan kau butuh bantuan ku. "


"Aku memang sedang membutuhkan bantuan mu? "


"Apa itu? " Pirdo merasa antusias menunggu ucapan Nia.


"Membutuhkan mu untuk menghilangkan rasa bosan ku! "


"Nia, itu sungguh tidak lucu! " kesal Pirdo karena sedari tadi Nia seperti sedang bercanda dengannya.


"Ia, maaf! kau ini kenapa sih tidak bisa diajak bercanda? " ketus Nia.


"Bukan tidak bisa diajak bercanda Nia! " Elak Pirdo.


"Lantas itu namanya apa ha? " protes Nia tak mau kalah.


"Sudah lah lebik baik kita makan dulu dari pada kita berdebat! " Ucap Pirdo mengalihkan pembicaraan.


"Nah itu tau! " Nia merasa menang dari temanya itu.


"Nia.. Bagaimana dengan tuan Gael? apa dia sudah bisa menerima mu? " cecar Pirdo menghentikan makannya sejenak.


"Belum! " jawab Nia santai tanpa menoleh kearah Pirdo yang sedang menatap nya dengan tatapan iba sementara Nia terus saja sibuk dengan makanannya.

__ADS_1


"Kau bersabarlah, aku yakin suatu saat dia akan bisa menerima mu dan pernikahan kalian dengan seiring berjalan nya waktu. " ucap Pirdo menggenggam tangan kiri Nia yang berada diatas meja.


Nia yang mendapat dukungan dari Pirdo membalas genggaman tangan Pirdo dengan letakkan tangan kanannya diatas tangan Pirdo. Senyum Nia merekah diwajahnya, serasa mendapat tenaga baru untuk menghadapi hidupnya berkat dukungan dari Pirdo yang selalu setia dengannya disetiap masalah yang dihadapi oleh Nia.


"Aku sangat beruntung memiliki teman seperti mu! " Terang Nia membalas tatapan mata Pirdo. Jika orang lain yang melihat adegan itu bisa saja salah mengartikan apa yang sedang terjadi disana.


Dimana kedua sahabat itu saling memberikan sangat satu sama lainnya. Dan benar saja dari kejauhan sepasang mata sedang menatap penuh kemarahan di matanya melihat keduanya yang sedang menautkan tangan mereka.


Namun baik Nia dan Pirdo tidak ada yang menyadari akan hal itu.


Selesai dengan acara makan keduanya. Nia dan Pirdo keluar dari tempat itu namun bukannya segera pulang Nia malah kembali mengajak Pirdo pergi ke taman. Mau tidak mau Pirdo mengiayakan keinginan Nia.


Pirdo yang sudah terlanjur bertemu dengan Nia, akhirnya memutuskan untuk menemani Nia sepanjang hari ini sampai Nia sendiri yang meminta untuk pulang.


Setelah dari taman kini keduanya memasuki sebuah pusat perbelanjaan, walaupun hanya sekedar berkeliling tanpa membeli apa pun keduanya sangat menikmati kegiatan mereka.


Hingga sore hari baru keduanya memutuskan untuk pulang. Dan Nia yang baru tiba di mansion melangkah masuk dengan senyuman dibibirnya tanpa ia sadari ternyata Gael sedang duduk diruang tengah mansion sedang menunggu Nia kembali.


Dengan santainya Nia melangkah masuk melewati ruang tengah mansion tanpa memperhatikan keberadaan Gael disana entah tidak melihat atau karna tidak terbiasa jika Gael berada di mansion pada jam kerjanya.


Bahkan Gael pulang lebih awal dan meminta Daren untuk menyelesaikan pekerjaannya dikantor.


Gael berdehem dan hal itu membuat Nia merasa terkejut dan menghentikan langkah kakinya.


Nia membalikkan badannya menghadap Gael yang sedang duduk di sofa dengan bersedekap dada.


"Dari mana saja kau satu harian ini? " suara dingin Gael seolah membekukan mulut Nia tak bisa mengeluarkan kata-kata nya untuk mengatakan kemana ia seharian ini.


"A-aku.. " Nia bingung harus berkata apa kali ini.


"Aku apa ha? " suara Gael benar-benar terasa berbeda ditelinga Nia.


"Mati aku, pasti pak gus melaporkan ku keluar mansion. " Gumam Nia tak berani menatap kearah Gael yang masih dengan posisi duduknya.


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan barusan? " tatapan Gael sangat sulit diartikan pada saat itu. sementara Nia semakin tidak berani mengangkat wajahnya nya. Satu-satunya cara ampuh yang ia tau yaitu menundukkan kepalanya.


"Aku bertanya kenapa kau tidak menjawab ha?" Gael yang mulai habis kesabarannya mulai bangkit dari duduk nya mendekati Nia yang masih diam mematung.

__ADS_1


"Maaf tuan, aku keluar hanya untuk bertemu dengan teman ku. " Jelas Nia dengan hati-hati.


"Benarkah? " Seringai tak percaya tersirat di bibir Gael.


"Benar tuan."


"Bertemu dengan teman hingga kau mengabaikan pak Agus yang tak memberi mu ijin untuk pergi? "


Sorot mata tajam Gael membuat Nia merasa sesak karna ia hampir lupa untuk bernafas. Ketakutan dengan Gael yang menatap nya tajam dan posisi mereka yang begitu dekat.


"Maaf tuan, aku tak bermaksud untuk.. " Perkataan Nia menggantung di udara begitu Gael memotong ucapan nya.


"Untuk bertemu pria lain dibelakang ku? " Tegas Gael dengan suara datarnya namun terasa sangat menakutkan.


Sejenak Nia mencerna ucapan Gael. "Apa maksudnya Pirdo? tapi bagaimana bisa dia mengetahui aku bertemu dengan Pirdo? " gumam Nia dalam hati.


"Kenapa diam saja ha? bukan kah seharian ini kau banyak bicara dan tertawa bersama pria itu? tapi kenapa kau hanya diam saja ketika aku sedang bertanya kepada mu? " cecar Gael masih dengan gaya coolnya.


"A-aku bisa jelaskan semuanya! " Nia memberanikan untuk menatap wajah Gael.


"Katakan! " ucap Gael menunggu penjelasan dari Nia.


"Dia teman ku! " Terang Nia.


"Semua orang akan berkata seperti apa yang kau katakan barusan jika sudah dalam keadaan terdesak seperti ini. "


"Tapi memang itu kenyataan nya! " Nia membaranikan dirinya untuk menepis ucapan Gael padanya.


"Kenyataan bahwa kau menghabiskan waktu mu seharian ini dan itu yang kau sebut dengan teman! " Gael meninggikan suaranya.


"Tuan, aku tak mengerti dengan mu. Tuan bertanya kepada ku dan aku sudah menjawabnya tapi kenapa tuan tidak percaya dengan apa yang aku katakan?" Terang Nia yang membuat kemarahan Gael semakin memuncak. Sedari tadi Gael mencoba mengendalikan dirinya agar tidak marah namun kali ini ia tidak bisa lagi menahan amarahnya tersebut.


"Ikut aku! "



Hai pembaca setia novel ini. Maaf baru up kembali. Sebenarnya aku ingin meninggalkan lapak ini tapi aku merasa bersalah ketika kalian semua dengan setia menunggu kelanjutan novel ini.

__ADS_1



Semoga kedepannya aku tidak lagi mengulangi pemikiran ku untuk meninggalkan lapak ini.


__ADS_2