
"Ayo turun. " Ucap Gael kepada Nia begitu mereka tiba didepan gedung yang menjulangntinggi itu. Pintu mobil itu dibukakan oleh Daren untuk tuannya itu. "Silahkan tuan. " Ucap Daren.
"Aku menunggu didalam mobil saja. "
"Apa? " Gael berhenti dari gerakan badannya yang hendak turun dari mobil.
"Aku rasa, aku disini saja. " Ucap Nia Takut-takut.
"Turun! " Terdengar suara Gael yang tegas tidak ingin dibantah.
"B-baik. " Jawab Nia terbata-bata menatap Gael turun dari mobil. Begitu Gael turun segera Daren menutup pintu mobil kemudian berputar untuk membukakan pintu mobil untuk Nia. "Silahkan nyonya." Ucap Daren masih berdiri disamping mobil.
Mau tidak mau Nia pun keluar dari dalam mobil dan mengikuti Gael yang sudah menunggunya. Nia berjalan disamping Gael yang diikuti oleh Darendari belakang. Nia takjup akan bangunan yang ada didepan matanya, dan untuk pertama kalinya Nia menginjakkan kaki di AGL Residence.
"Apakah gedung yang menjulang tinggi ini adalah miliknya? Sebenarnya seberapa kaya dia?" Gamam Nia.
Semua Karyawan yang sedang bersantai menunggu jam pulang seketika berhambur mencari kesibukan masing-masing begitu melihat tuan Gael berjalan memasuki gedung itu. Terlihat semua karyawan disana melihat kearah Nia dengan sorot mata tidak suka dan menyimpan banyak pertanyaan dibenak mereka tentang Nia.
Tatapan semua orang membuat Nia merasa sedikit tidak nyaman. Namun tetap berusaha untuk mengabaikan itu. Melangkahkan kakinya terus mengikuti Gael.
"Kau duduklah. " Gael menunjuk sofa yang ada didalam ruangannya. Dengan patuh Nia mengikuti perintah itu. Duduk tanpa banyak pertanyaan.
Sedari tadi Nia hanya terlihat bengong tak tau harus berbuat apa. "Huh, mau sampai kapan aku akan berada disini? menyaksikan mereka yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.Sedangkan aku hanya diam seperti orang bodoh disini." Gerutu Nia membatin.
Sementara Gael sedang sibuk dengan tumpukan kertas diatas meja kerja yang dibantu oleh Daren memisahkan bagian yang sudah diberikan tanda tangan oleh tuannya itu.
"Sudah, apa ada lagi? " Gael meletakkan pena yang baru saja digunakan olehnya. "Tidak ada tuan. Semuanya sudah tidak ada lagi. " Daren terus membereskan beberapa kertas itu.
__ADS_1
Sementara Nia sedari tadi hanya berdiam diri disana tidak melakukan apa pun mulai bernafas lega setelah mendengar pembicaraan di antara keduanya. "Akhirnya selesai juga. " Gumam Nia dalam hati.
Gael melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Yang artinya mereka berada didalam ruangan itu sudah sekitar dua jam. Kemudian menatap Nia yang masih berada disofa.
Gael berdiri dari kursi kebesarannya menuju pintu yang diikuti oleh Daren. "Apa kau masih ingin disini? " Ucap Gael menghentikan langkahnya dan menatap Nia.
"Tentu saja tidak. " Nia ikut berdiri. "Silahkan nyonya. " Daren mengarahkan kedua tangannya. Nia pun mengikuti Gael yang sudah keluar lebih dulu dari nya.
"Daren, apa kita akan langsung pulang? " selidik Nia yang masih bisa didengar oleh Gael. "Kenapa nyonya? " Daren mengerutkan keningnya. "Tidak ada, hanya saja aku bosan sedari tadi tidak kelukan apapun." Terang Nia.
"Bukan kah sama saja nyonya juga tidak akan melakukan apapun jika sudah berada dimansion? "
"Is kau ini. Setidaknya aku masih bisa merebahkan tubuh ku jika berada di mansion. " Ucap Nia meninggikan suaranya.
"Maaf nyonya. " Daren lebih baik mengalah dari nyonya muda nya tersebut.
"Maaf tuan. " Daren membungkukkan sedikit badannya sebelum ikut berjalan mengikuti tuannya itu. "Nyonya kau hampir saja membuat ku terkena masalah." Gumam Daren.
Dimansion.
"Kau boleh pulang. " Suruh Gael kepada Daren ketika sudah berada di ruang tengah mansion. "Baik tuan. Kalau begitu saya permisi. " Pamit Daren.
"Kau mau kemana? " Nia hendak meninggalkan Gael diruang tengah. "Mau kekamar. " Jawab Nia asal dan merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.
"Kau ini bagaimana? bawakan ini." Gael melempar jas nya kearah Nia. Dengan sigap Nia menangkap dan memeluk jas itu didepan dadanya.
"Dasar. " Gerutu Nia pelan.
__ADS_1
Gael berjalan melewati Nia menaiki tangga menuju kamar. Kemudian Nia juga ikut naik ke lantai dua mansion.
"Dimana dia? " Nia tidak melihat keberadaan Gael didalam kamar. "Ah, terserah kau mau melakukan apa. Sekarang aku mau membersihkan tubuh ku lebih dulu yang sudah terasa lengket. " Nia meletakkan jas milik Gael disofa kemudian ia segera menuju kamar mandi.
Sudah hampir larut malam namun Gael belum juga kembali kekamar. Nia yang merasa penasaran keluar dari kamar dan mencari Gael. Tujuan utamanya adalah ruang kerja Gael. Nia membuka pintu ruang kerja Gael dengan perlahan agar tidak mengganggu sang pemiliknya. Dan benar saja Gael sedang berada didalam sana.
Nia menatap Gael yang sedang berada didalam sana. Entah apa yang dilakukannya didalam sana. Nia tidak dapat melihat dengan jelas karena Nia hanya membuka sedikit saja pintu itu.
"Apa yang kau lakukan? apa yang ada ditangan mu? apakah kau sedang memandangi wajah Kiren lagi yang ada di bingkai foto itu? " Gumam Nia menarik nafasnya. Ternyata kau menyembunyikan kesedihan mu didepan semua orang tapi tidak dengan ku. Tanpa aku melihat ini aku tau jika kau sangat bersedih kehilangan Kiren untuk selamanya.
Nia menutup kembali pintu itu, meninggalkan Gael dan memberikan ruang kepada Gael untuk menyendiri.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa merasakan cinta dari seorang tuan Gael. Cepat atau lambat aku akan kembali dimana seharusnya aku berada." Lirih Nia kembali masuk kedalam kamarnya. Lebih tepatnya kamar tuan Gael.
Nia membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan tak perlu berapa lama ia sudah tertidur disana. Mungkin karena lelah seharian ini atau pun lelah dalam menghadapi kehidupannya. Kehidupan sebagai istri dari tuan Gael.
Gael menatap wajah Kiren yang ada didalm foto itu. Menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar. "Aku harap kau tenang di alam baru mu dan aku juga akan memulai hidup ku bersama dengan Nia yang sudah menjadi istri ku saat ini. Walaupun aku belum yakin dengan perasaan ku ini. Tapi setiap berada di dekatnya hatiku menghangat. Bahkan aku melupakan kebencian dan kemarahan ku kepada mu ketika aku bersama dengannya. "
Gael keluar dari dalam ruang kerjanya dan menemui pak Agus yang memang sengaja belum tidur menunggu tuannya itu yang belum makan malam sedari tadi.
"Pak Agus, kau buang ini. jangan sampai Nia melihatnya aku takut dia salah faham dengan itu. "
"Baik tuan. " Pak Agus menerima bingkai foto itu. "Apa tuan mau makan? "
"Tidak. Apa tadi Nia menunggu ku untuk makan malam? "
"Tidak tuan. Saya menyuruh nyonya untuk tidak menunggu anda seperti yang tuan katakan. " Jelas pak Agus.
__ADS_1
"Kau istirahatlah. " Gael meninggalkan pak Agus dan masuk kedalam kamarnya.