Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Perdebatan Ica dan tante Sarah


__ADS_3

"Kenapa kau baru datang? " Gael menatap tajam Daren yang baru tiba sambil mengetuk-etukkan jari telunjuknya di meja kebesarannya.


"Kau tau berapa lama aku sudah menunggu mu? "


"Maaf tuan. "


"Kau ini selalu saja berkata maaf. Sudahlah kita pulang sekarang! " perintah Gael.


"Baik tuan. "Daren kemudian mengikuti langkah kaki Gael meninggalkan ruang kerja milik tuan Gael.


"Kau tau Daren aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nia. Akhir-akhir ini dia begitu menggemaskan." Tersenyum mengingat betapa menggemaskan nya wanita yang sebagai istrinya tersebut.


Daren hanya mendengarkan tuannya itu berbicara sambil melirik sekilas dari kaca spion mobil.


"Kau sungguh berbeda tuan, jika sudah berbicara tentang nyonya muda. "


"Kenapa kau diam saja? apa kau tidak mendengarkan ku sedang berbicara? " Suara datar Gael mengecam Daren yang tak menanggapi perkataan tuannya.


"Maaf tuan. "


"Aku harus menjawab seperti apa tuan? bukan kah perkataan anda tidak memerlukan jawaban dari ku? "


"Jangan hanya berbicara maaf. Cepat kemudikan mobilnya dengan benar agar cepat tiba di mansion." Perintah Gael.


"Baik tuan. "


"Perasaan dari tadi aku sudah mengemudi. Tuan, tuan untung hanya aku yang tau bagaimana tingkah konyol mu akhir-akhir ini."


Tiba dimansion, Gael yang sudah tidak sabar bertemu dengan Nia segera menyuruh Daren untuk pulang tanpa mengikutinya sampai kedalam mansion. Pak Agus yang menyambut tuannya itu. Ikut masuk ke mansion sedangkan Daren segera kembali masuk kedalam mobil dan meninggalkan mansion.


Gael segera menuju kamar begitu pak Agus memberitahunya jika Nia sedang berada didalam kamar. Pak Agus membungkuk kan badannya sebelum permisi dari hadapan tuannya yang sudah berada didepan pintu kamar.


Gael menutup pintu kamar dan menangkap sosok Nia yang sedang tidur disofa. "Apa yang kau lakukan sepanjang hari ini sehingga kau bisa tertidur tanpa terusik dengan kedatangan ku? " berjongkok mensejajarkan dirinya tepat didepan wajah Nia.


Membelai rambut Nia kemudian mengecup pucuk kepala Nia dan meninggalkan Nia tanpa membangunkannya.


Satu jam kemudian Nia terbangun dari tidurnya. Merentangkan kedua tangannya keatas melewati kepalanya sambil menguap.


"Jam berapa ini? " dengan suara khas bangun tidurnya.

__ADS_1


Ketika Nia hendak turun dari sofa, Nia dikejutkan dengan keberadaan Gael yang berdiri tak jauh darinya sedang menatapnya dengan gaya coolnya, memasukkan kedua tangannya dikantong saku celananya.


"Astaga. " Nia mengelus dadanya terkejut dengan kemunculan Gael yang menurutnya tiba-tiba.


"Sedang apa disitu? " tanya Nia ragu-ragu.


"Sedang memperhatikanmu. " Tegas Gael.


"Apa? " Nia mendongakkan wajahnya menatap Gael.


"Kau itu masih saja banyak bertanya. Bukannya menyambutmu pulang kau malah asik tidur. " Ketus Gael berpura-pura kesal kepadanya.


"Aku tidak tau kau mau pulang kapan, dan jangan salahkan aku. Salahkan saja Daren dan pak Agus karna mereka akhir-akhir ini tidak pernah memberitahu ku kau pulang kapan. " Jelas Nia membenarkan dirinya.


"Kau cepatlah bersihkan diri mu! " perintah Gael berjalan melewati Nia. "Aku sudah mandi tadi sebelum aku tertidur. " Terang Nia.


Gael hanya diam saja tak menanggapi ucapan Nia berjalan menuju pintu kamar. Merasa tak dihiraukan Nia pun mengikuti Gael tanpa mengeluarkan suaranya. Menuruni tangga sampai ke meja makan.


"Kalian kenapa lama sekali? " tanya mama Mita yang sudah lebih dulu makan malam yang mengira jika keduanya akan makan malam didalam kamar.


"Tanyakan saja padanya. " Tunjuk Gael melalui tatapan matanya kearah Nia. Sementara Nia yang ditunjuk oleh Gael hanya tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Nai bingung harus mengatakan apa sambil menatap Gael meminta bantuannya. Namun yang ditatap hanya acuh saja sambil mengangkat piringnya kearah Nia meminta diisikan oleh Nia.


"Em, tadi Nia ketiduran mah. " Sahut Nia sambil menerima piring Gael kemudian mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya.


Begitu meletakkan piring Gael, Nia kemudian mengambilkan makanan untuknya. Sementara Mita tidak lagi memperpanjang ucapan Nia barusan memilih untuk melanjutkan makan malamnya.


"Daren, bagaimana pekerjaan mu? " tanya Mita di sela-sela makannya.


"Pekerjaan ku baik mah. "


"Baguslah kalau begitu nak, terlihat dari beberapa hari ini kau selalu pulang tepat waktu. Kalau begitu sesekali ajaklah Nia keluar mungkin dia bosan sepanjang hari berada di rumah. " Suruh Mita kepada putranya itu.


"Nia tidak merasa bosan sama sekali kok mah. " Ucap Nia menanggapi perkataan ibu mertuanya yang merasa tidak enak karena meminta Gael untuk meluangkan waktu bersamanya.


Di lain tempat Daren yang baru saja selesai membersihkan diri memutuskan untuk menemui Ica setelah pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan Ica.


Keluar dari apartemennya menggunakan mobil miliknya sendiri. Tidak menggunakan mobil yang biasa ia gunakan untuk kekantor karena merupakan inventaris dari perusahaan yang dipergunakan khusus untuk kendaraan tuannya Gael.

__ADS_1


Melajukan mobil miliknya menembus jalanan yang mulai lenggang dari kemacetan. Begitu tiba didepan tempat tinggal Ica, Daren sedikit bingung serta gugup harus mengatakan apa jika Ica menanyakan kedatangannya.


Namun baru saja Daren keluar dari mobil, sayup-sayup ia mendengar suara perdebatan dari dalam rumah. Merasa penasaran Daren berjalan mendekat pintu masuk rumah itu.


Mendengarkan semuanya dari balik pintu. Ica yang menolak untuk memberikan uang kepada tantenya. Namun tantenya memaksa Ica agar memberinya uang.


"Tante, aku sudah tidak mempunyai uang lagi, jika tante butuh uang tunggulah sampai aku mendapatkan gaji ku beberapa hari lagi." Ucap Ica


"Tapi aku butuhnya sekarang. " Sarah bersikeras agar mendapatkan uang yang ia inginkan.


"Tolong tante mengertilah sedikit saja kepada ku. Bertahun-tahun aku bekerja dan menghabiskan semua uang ku hanya karena mencukupi keinginan tante yang tidak masuk diakal. "


"Jangan menceramahi ku! "Sarah meninggikan suaranya.


"Kalau begitu jangan juga memaksa ku memberikan uang kepada tante. " Tegas Ica.


Plak


Sarah yang sudah emosi menampar pipi Ica. "Apa ini balasan mu kepada orang yang sudah membesarkan mu sampai seperti saat ini? "


Ica yang terisak memegangi pipinya bekas tamparan dari Sarah. "Aku tidak mau tau besok aku ingin kau memberikan uang kepada ku. " Sarah pergi begitu saja meninggalkan Ica masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamar dengan membandingkan pintu kamar dengan kasar membuat Ica terkejut.


Daren memutuskan untuk pergi, karena tidak ingin Ica merasa tidak nyaman dengan kehadirannya yang tidak tepat waktu. Memilih memberi waktu untuk Ica menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun ketika ia membuka pintu mobilnya Ica juga membuka pintu rumah dan melihat Daren.


"Daren? " Ucap Ica menghentikan pergerakan Daren.


Menoleh kebelakang dan kembali menutup pintu mobilnya. Dengan cepat Ica menghapus air matanya dan mendekati Daren.


"Kau disini? "


"Hum, apa aku mengganggu mu? "


"Tidak. "


"Kalau begitu ikut aku sebentar. " Daren menarik tangan Ica dan membukakan pintu mobil untuk Ica. "Masuklah! "suruhnya.


"Kita mau kemana? "selidik Ica sebelum masuk kedalam mobil.


"Kau ikut saja dulu nanti juga kau akan tau. " Tegas Daren.

__ADS_1


__ADS_2