Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Es balok.


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan tuan Gael?" selidik Pirdo.


Deg


Nia menoleh kearah Pirdo dan kemudian kembali mengalihkan pandangan matanya kearah depan.


Nia pun akhirnya nya menceritakan semua yang terjadi pada malam itu malam dimana ia harus kehilangan kehormatannya.


Pirdo merasa kasihan melihat Nia yang harus mengalami hal itu ditambah lagi Nia yang menceritakan itu sambil menitikan air matanya.


Pirdo menarik bahu Nia menghadap kepadanya dan mengusap air mata yang membasahi wajah cantik Nia. "Kau jangan menangis! bukankah dia sudah mempertanggung jawabkan perbuatan nya padamu. " Ucap Pirdo memeluk tubuh Nia.


Tanpa sepengetahuan Nia, supir yang membawanya ke taman itu sedang mengawasi nya dan melaporkan kejadian yang dilihatnya kepada Daren yang memang menugaskannya untuk mengawasi dan melaporkan apa saja yang dilakukan oleh Nia selama berada di luar mansion.


"Tuan... saya menyuruh supir yang membawa nyonya Nia keluar untuk melaporkan setiap yang dilakukan oleh nyonya Nia kepada saya dan saat ini supir itu mengirimkan pesan bahwa nyonya.. " Ucapan Daren terhenti ketika Gael memotongnya.


"Daren.. Itu tidak penting! sekarang apa jadwal ku selanjutnya? " potong Gael menanyakan pekerjaan nya selanjutnya tanpa ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Daren.


"Jadwal anda selanjutnya bertemu dengan pimpinan CR grup tuan. " Terang Daren memberi tahu kan tuannya itu.


"Baiklah kau siapkan semuanya! " suruh Gael.


"Baik tuan. " Daren pun pergi meninggalkan tuannya itu tanpa sempat memberitahu kan hal tentang nyonya muda nya itu.


Pirdo mengajak Nia untuk berkeliling taman sambil saling mengobrol satu sama lain dan seperti biasa keduanya akan bercanda gurau bersama, tertawa bersama menghilangkan beban pikiran untuk sesaat.


"Nia, apa kau mencintai tuan mu itu sehingga kau mau menikah dengannya? " Pirdo ingin tau perasaan sahabatnya itu.


"Kau ini, bagaimana mungkin aku mencintai tuan Gael sementara aku saja baru bertemu dengannya beberapa hari lalu. Dan aku tau diri juga lah mana berani aku mencintai tuan Gael, aku hanya seorang pelayan di mansion nya. " Terang Nia.


"Baguslah kalau begitu! " Pirdo merasa lega mendengar Jawaban yang keluar dari mulut Nia.


"Memangnya kenapa? " selidik Nia penasaran.


"Jika kau mencintai nya itu hanya akan menyakiti hati mu sendiri dan aku tidak ingin melihat mu bersedih hanya karena kau mencintai pria yang tak seharusnya." Jelas Pirdo.

__ADS_1


"Kau tenang saja aku pasti bisa mengatasi hal itu! " Nia meyakinkan sahabat nya itu dengan tegas.


"Do...Kita pulang yuk! aku diantar supir tadi kesini, kasihan pak supir nya nungguin terlalu lama. " Terang Nia merasa tidak enak terlalu lama meninggalkan supirnya itu.


"Cie yang sekarang punya supir... " Ledek Pirdo.


"Supir apaan yang ada aku dikasih supir biar gak bisa kemana-mana! " pekik Nia.


"Ia. ia... Nyonya! " seloroh Pirdo.


"Tok"


Nia menjitak kepala Pirdo merasa kesal sedari tadi sahabatnya itu terus menggodanya.


"Aw... " Rintih Pirdo mengelus jidat nya yang dijitak oleh Nia. "Sakit tau" gerutu Pirdo. "Biarin! " ketus Nia.


"Ya sudah aku mau pulang! " Nia melangkahkan kakinya menjauh dari Pirdo. "Nia tungguin dong! " teriak Pirdo mengejar Nia.


"Kau mau kemana? " selidik Nia yang melihat Pirdo mengikutinya berjalan kearah mobil yang akan ditumpangi oleh Nia.


"Motor mu itu disana! " tunjuk Nia kearah motor sport milik Pirdo yang tak jauh dari mereka.


"A.. Iya aku lupa. " Pekik Pirdo menepuk jidat nya.


"Sudah sana! " suruh Nia kepadanya karena Pirdo masih berdiri ditempatnya.


"Apa kita tidak pulang bersama saja? " tawar Pirdo menghentikan langkah Nia yang hendak membuka pintu mobil.


"Tidak! kau pulang lah. " Nia masih berdiri dedepan pintu mobil itu. "Nia ayolah! " mohon Pirdo padanya.


Nia menutup kembali pintu mobil dan kemudian mendekati Pirdo. "Kau itu jangan bercanda aku bisa terkena masalah jika terlambat untuk pulang! " ketua Nia sambil mendorong tubuh Pirdo dari belakang menuju motor milik Pirdo.


Ternyata kejadian itu dilihat oleh Gael yang sedang melintas dijalan tersebut. "Daren bukan kah dia pelayan itu? " tunjuk Gael dengan sorot matanya melihat keluar melalui kaca mobil miliknya.


Daren yang sedang mengemudi ikut melihat dari kaca spion mobilnya. "Ia tuan dia adalah istri tuan. " Ucap Daren dengan menekan kata istri disana.

__ADS_1


"Kau ini! sedang apa dia disini dan siapa. Laki-laki yang bersamanya itu? " tanya Gael kepada Daren.


"Saya tidak tahu tuan. " Ucap Daren yang menang tidak tau siapa yang sedang bersama dengan nyonya muda nya itu.


"Apa sebaiknya kita berhenti tuan? " Daren memberi saran. "Tidak perlu! " jawab Gael dengan tegas. "Baik tuan. " Daren terus mengemudikan mobil itu membawa tuannya menuju tempat yang sudah ditentukan sebelumnya untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.


"Nah, sekarang kau pulang dengan motor mu ini dan aku dengan mobil itu. Oke! dah..." Nia berlari meninggalkan Pirdo kemudian ia masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Jalan pak! " suruh Nia begitu ia duduk dikursi penumpang. "Baik nyonya. " supir itupun membawa nyonya nya untuk kembali ke mansion.


Di mansion


"Nyonya sudah kembali? " sapa pak Agus kepada Nia yang baru saja tiba di mansion dan kini ia sedang berada di paviliun yang ada di belakang mansion berpapasan dengan pak Agus.


"Ia pak gus...Halima nya ada kan pak gus? "


"Nyonya Halima sedang mengerjakan pekerjaannya dan saya harap nyonya tidak mengganggu Halima. " Ucap Pak Agus.


"Aku hanya ingin menemuinya sebentar pak gus bukan untuk mengganggu pekerjaannya. " Gerutu Nia kemudian ia berlalu meninggalkan pak Agus untuk mencari Halima.


"Nyonya anda sebaiknya tidak kesini! " teriak pak Agus namun Nia tidak menghiraukan ucapan pak Agus yang meneriakinya.


"Halima... " Panggil Nia mencari Halima. "Nia kenapa kau kesini? " tanya Halima namun ia sangat merasa senang Nia datang menghampiri nya. "Apa aku sudah tidak boleh menemui mu lagi?" tanya Nia cemberut. "Bukan begitu Nia. " Halima menghentikan pekerjaannya yang sedang menyetrika pakaian tuan dan nyonya nya itu.


"Aku takut terkena masalah jika kau ketahuan datang kemari." Jelas Halima. "Masalah apa? " tanya Nia dengan polosnya. "Astaga Nia, kau ini belum mengenal tuan Gael dia biasanya marah karna istri ini datang kesininhanya untuk menemui pelayan seperti aku ini. " Gerutu Halima.


"Halima... Sudah lah kau tau persis apa yang terjadi, pernikahan kami ini hanya sebuah kesalahan untuk menutupi satu kesalahan lainnya." Lirih Nia menundukkan kepalanya.


"Maaf Nia aku tak bermaksud membuat mu bersedih. " Halima merasa bersalah telah mengatakan ucapanya sebelumnya.


"Tidak apa! Lagian tuan es balok itu tidak akan tau aku datang kesini. " Ucap Nia tersenyum bahagia.


"Ehemmm.."


Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2