Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Mengunjungi Fian


__ADS_3

Nia menatap pantulan dirinya dicermin. Mengucir rambutnya tinggi memperlihatkan leher jenjangnya. Ucapan Halima kembali berputar dikepalanya. "Sepertinya tuan Gael sudah jatuh cinta kepada mu. " Nia menarik nafasnya dalam membuangnya secara kasar. "Tidak mungkin kan tuan Gael mencintai ku. " Nia tersenyum mengejek dirinya sendiri.


"Sampaikan pun tuan Gael tidak akan mencintai tau ku. Aku sadar diri wajah jelek ku ini tidak akan mampu memikatnya." Gumam Nia terus memandangi wajahnya dicermin.


Membuka pintu kamar dan turun bersiap menyambut tuan Gael pulang. Mendudukkan dirinya diruang tengah mansion sambil melirik jam dingin yang sudah menunjukkan pukul enam sore. "Sebentar lagi. " Gumamnya. Karena akhir-akhir ini tuan Gael pulang lebih awal dari biasanya. Maka dari itu Nia memilih untuk menunggu diruang tengah mansion agar mengetahui lebih cepat jika tuannya itu sudah tiba.


Memainkan ponselnya sambil menunggu kepulangan tuannya itu. "Jika dipikir-pikir seharian aku tidak melakukan hal apapun yang berguna. " Lirih Nia berhenti dari memainkan ponselnya. Menyanggah dagunya dengan tangannya.


"Anda tidak perlu melakukan apa pun nyonya dengan demikian tuan Gael akan merasa tenang. " Pak Agus tiba-tiba datang dan menyahuti ucapan Nia yang bukan ditujukan kepadanya.


Nia mendesah malas. "Kau lagi, kau lagi. Selalu saja muncul secara tiba-tiba."


Nia tak menanggapi pak Agus memilih untuk kembali memainkan benda pipih itu. "Dari pada harus berdebat dengan mu. " Begitulah kira-kira maksudnya.


Tak lama kemudian akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga. Nia menyambut tuan Gael beserta pak Agus. Mencoba tersenyum kepada Gael namun seperti biasa Gael tak bereaksi apapaun berjalan melewati Nia dan pak Agus.


Nia menggerutu didalam hati. "Sang baginda raja telah pulang sambut lah ia wahai penghuni mansion. " Pak Agus dan Daren menatap Nia seolah sedang berkata. " Masuk sana. Ikuti tuan Gael. "


Nia membantu tuan Gael melepaskan jasnya begitu sudah berada didalam kamar dan memeluk jas tersebut ditangannya. "Apa tuan mau mandi sekarang? " Nia bertanya sambil membungkukkan. badannya mengambil sepatu tuan Gael yang baru saja dilepas olehnya.


"Umm. " Gael melepaskan dasinya. Sementara Nia segera menyiapkan air hangat untuk tuannya.


"Kenapa dia terlihat begitu cantik. " Gumam Gael menatap Nia sampai tak terlihat dibalik pintu kamar mandi.


Setelah selesai menyiapkan air hangat untuk Gael. Nia keluar dari kamar dan bertemu dengan Daren yang baru keluar dari ruang kerja tuan Gael.


"Anda belum pulang? " Nia menghentikan langkahnya. "Ia nyonya. " Daren membungkukkan sedikit badannya.


Tiba-tiba pak Agus datang membawakan secangkir kopi. "Biar aku saja yang bawakan. " Nia mengambil kopi tersebut dari tangan pak Agus.


"Maaf nyonya tapi kopi tersebut bukan untuk tuan Gael. " Ucap Pak Agus.


"Apa? " sentak Nia.


"Kopi itu untuk tuan Daren. " Jelas pak Agus.


"O-oya. Tadi aku pikir ini untuk tuan Gael. " Nia memberikan secangkir kopi tersebut kepada Daren dengan wajah menahan malu.


"Terima kasih nyonya. " Daren menerima kopi tersebut kemudian berbalik kembali masuk ke ruang kerja tuan Gael.


"Kenapa tadi tidak bilang jika itu untuk Daren. " Ucap Nia mengintimidasi pak Agus.


"Lah, saya kan tidak mengatakan bahwa itu untuk tuan Gael. " Ucap pak Agus didalam hati.


"Maaf nyonya. "


"Sudahlah. Oya pak Gus, kenapa Daren belum pulang? "


"Beliau harus mengurus beberapa pekerjaannya nyonya. " Jelas pak Agus.

__ADS_1


"Yang benar saja." Nia merasa tak percaya.


"Maaf nyonya kalau begitu saya permisi. " Pak Agus pergi meninggalkan Nia yang masih berdiri ditempatnya.


"Tadi aku keluar kamar karena apa ya? " Nia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Karena tak menemukan jawabannya akhirnya Nia kembali masuk kedalam kamar.




Di sebuah ruangan Gael menyandarkan kepalanya dibahu Nia. "Jika kak Tian mau menangis menangis lah. "



Nia tau persis bagaimana rasanya kehilangan seseorang. Mencoba menghibur Gael dari rasa sedihnya atas kepergian Kiren untuk selamanya.



Tian tidak lagi menangisi kepergian Kiren. Ia sadar jika ini semua adalah takdir hidup yang harus ia jalani. "Selama menjadi tunangan ku bahkan hingga akhir hidupnya aku tak bisa merebut hatinya. Menjadikan ku seorang didalam hatinya. " Lirih Tian menahan air matanya agar tidak terjun bebas ke pipinya.



"Maaf kak, aku baru mengunjungi mu sekarang. Aku hanya ingin kau tenang lebih dulu dan bisa menerima semuanya. " Jelas Nia merasa tidak enak hati.



"Tidak apa. " Tian menarik kepalanya dari bahu Nia menatap lekat wajah Nia. "Kau masih sama seperti dulu. " Tian berusaha tersenyum walau pun terlihat jelas garis wajahnya penuh dengan kesedihan.




"Tentu saja aku menghawatirkan mu kak. "



"Terima kasih kau sudah menghawatirkan ku. Tapi sekarang aku sudah merasa lebih baik karna kau telah mengunjungi ku. " Tian mengelus kepalas Nia dengan lembut.



Nia tersenyum. "Kak Tian, apa kakak masih ingat bagaimana aku dulu merengek agar kau tidak pergi. "



"Tentu saja aku masih ingat. Bahkan aku ingat dengan jelas bagaimana wajah jelek mu pada waktu itu. " Ejek Tian.



"Is, kenapa malah mengejek ku? " sungut Nia.

__ADS_1



"Bukan begitu tapi memang saat itu kau menangis dan wajah mu terlihat jelek ketika sedang menangis berbeda jika kau tidak sedang menangis. Akan terlihat cantik. " Puji Tian.



"Benarkah aku cantik. " Ucap Nia antusias.



"Ya kau cantik jika dilihat dari lobang sedotan. " Tian tertawa lepas sesudah mengejek Nia. Sementara Nia tersenyum melihat Tian tertawa seperti itu setidaknya kehadirannya sudah memberikan hiburan kepada Tian.



Cukup lama keduanya membahas masa lalu dimana keduanya dulu bersama layaknya seorang kakak dan adik. Saling mengingat bagaimana mereka saling menjaga.



Status Nia sebagai anak dari pelayan di mansion keluarga Tian tidak menjadi penghalang kedekatan keduanya.



"Kak, sudah hampir sore aku pamit pulang dulu. " Nia beranjak dari duduknya meraih tas kecilnya dan menyandangkannya di bahu sebelah kirinya.



"Kau hati-hatilah dijalan. "



"Kak Tian tenang saja aku datang kemari bersama dengan supir. " Terang Nia membuat Tian berpikir sejenak. "Bagaimana Nia bisa bersama dengan supir bukanlah dia hanya sebagai pelayan di mansion Gael. Mengapa Nia mendapat perlakuan yang berbeda? " Gumam Tian mengingat Nia pernah naik ke lantai dua mansion untuk mengganti pakaiannya ketika Tian datang menjemputnya untuk kerumah sakit dulu. Yang berarti Nia menggunakan salah satu kamar disana untuknya.



"Kak Tian kenapa bengong? " Nia menyadarkan lamunan Tian.



"Ah, tidak apa-apa. Ayo aku antar sampai depan. " Nia menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari apartemen Tian.



"Hubungi aku begitu sudah tiba. " Ucap Tian membukakan pintu mobil untuk Nia. "Ia kak. Aku pulang. " Pamit Nia masuk kedalam mobil.



Nia menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya kepada Tian yang dibalas oleh Tian.


__ADS_1


"Ada apa sebenarnya? " Lirih Tian yang masih bingung dan tidak mengetahui hubungan Nia dan Gael yang sudah menikah.


__ADS_2