
"Bagaimana? apa sudah ada kabar siapa dalang dari semua masalah ini? " cecar Gael kepada Daren. "Plat mobil yang mereka gunakan ternyata palsu tuan, mereka sudah menyiapkan semuanya secara rapi. Namun demikian aku sudah mendapat informasi bahwa ini semua ada hubungannya dengan nona Serli. " Jelas Daren.
"Maksud mu, Serli adalah otak dari penculikan Nia? " tanya Gael tak percaya.
"Benar tuan dan saat ini nona Serli sudah tidak berada lagi di negara ini, beliau terbang keluar negeri pagi tadi." Terang Daren memberikan semua informasi yang didapatnya.
"Wanita itu! " Gael mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya menahan amarah namun tak bisa memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berniat mencelakai istrinya.
"Apa kah tuan akan melepaskan wanita itu begitu saja? " Tanya Daren dengan hati-hati karena dia tau betul tuannya itu sedang dalam keadaan marah mengingat wanita itu lolos dengan begitu mudah.
"Biarkan saja dia, kali ini dia bisa lolos dan kita lihat saja sampai kapan ia bertahan di tempat persembunyian nya. " Tegas Gael memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah tersebut.
Bukan karna Gael ingin berbaik hati kepada wanita itu namun ia tau betul Serli tidak akan pernah berani lagi muncul dihadapannya setelah apa yang sudah ia perbuat.
"Tapi tuan, bagaimana jika wanita itu diam-diam merencanakan sesuatu? " Daren mengatakan kekhawatiran nya.
"Dia tidak akan berani lagi melakukan hal itu! " tegas Gael membuat Daren tidak lagi berbicara apa pun dan hanya mengikuti sesuai dengan keinginan tuannya itu.
Sementara Serli yang kini berada di negara Italia, duduk di balkon kamarnya memandang indahnya kota itu di malam hari sambil sedang menerima telpon dari sesorang.
Wajah yang tadi terlihat damai menikmati suasana malam yang indah dengan segelas minuman beralkohol ditangan kanannya. Berubah menjadi sebuah kekesalan di raut wajahnya, entah berita apa yang baru saja ia dapat karena kini dengan tiba-tiba Serli melempar gelas yang ditangannya ke sembarang arah setelah sambungan telpon itu terputus.
"Sial! " Umpat Serli kesal dengan perasaan gelisah. "Aku lupa jika aku sedang berhadapan dengan Gael pewaris keluarga Atmaja yang bisa melakukan apa pun yang ia mau." Serli menghela nafasnya kemudian melanjutkan ucapannya sendiri. "Untuk saat ini aku harap dia tidak mengetahui dimana keberadaan ku. " Harap Serli dengan rasa cemas dihatinya takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Gael terhadapnya.
Orang suruhan Serli ternyata memberikan informasi bahwa Gael sudah mengetahui jika Serli lah yang menjadi dalang penculikan Nia dan memberitahukan kepadanya bahwa Gael tidak tinggal diam.
__ADS_1
Berita itu membuat Serli kesal, rencananya kabur berharap tidak ada yang akan mengetahui bahwa ia lah pelakunya namun ternyata pemikiran nya itu salah besar. Kini Serli memutuskan untuk tinggal. menetap di negara tersebut karna ia sadar betul apa yang sudah ia lakukan adalah kesalahan besar dan tentunya menutup harapannya untuk bisa mendapatkan hati Gael kini pupus sudah.
Kini Serli memilih merelakan orang yang sudah mengisi hatinya itu kepada orang lain dan mulai memikirkan hidupnya kedepan.
Satu minggu berlalu, dan selama itu juga Nia tidak banyak berbicara membuat Gael mencemaskan keadaan Nia.
Seperti tadi pagi ketika Gael hendak berangkat Nia tidak mengatakan apa pun kepadanya bahkan Nia tidak mengantarkan Gael sampai kedepan mansion seperti yang biasa dia lakukan.
Gael bingung dengan perubahan sikap Nia terhadap nya, ingin sekali Gael membicarakan apa yang menjadi penyebab atas perubahan Nia. Namun Gael tidak ingin memaksa Nia dan membiarkannya untuk sementara waktu, namun satu minggu ini juga Gael pusing karna Nia tidak memberikan haknya sebagai suaminya.
Dan malam ini Gael sudah tidak tahan lagi dengan perubahan sikap Nia kepadanya memutuskan untuk memaksa Nia untuk membicara ada apa sebenarnya yang sudah terjadi dengannya.
"Kau sedang apa? " Tanya Gael kepada Nia begitu ia tiba dikamar sepulang dari kantornya. Nia yang sedang berbaring diatas ranjang segera bangkit dan mendudukkan dirinya dipinggiran tempat tidur.
"Kau sudah pulang? " Tanya Nia balik bertanya.
"Ada apa? " selidik Nia menatap Gael sekilas.
"Harusnya aku yang bertanya ada apa dengan mu akhir-akhir ini? " Gael membalikkan pertanyaan darinya.
"Aku? Tidak ada apa-apa dengan ku memangnya kenapa? " Kilah Nia berbohong menutupi apa yang ada didalam hatinya.
"Kau jangan berbohong! " Suara datar Gael tanpa menatap Nia.
Nia menundukkan kepalanya, karena ia tau betul jika Gael tau bahwa dirinya sedang menyembunyikan sesuatu terhadap Gael.
__ADS_1
"Pada hari penculikan itu aku mendengar mereka membicarakan mu. Lebih tepatnya membicarakan pernikahan kita. " Nia menghentikan ucapanya sejenak. Gael menatapnya seolah meminta agar Nia melanjutkan ucapannya.
"Mereka bilang mana mungkin aku bisa bersama dengan mu mengingat aku bukan lah orang yang sederajat dengan keluarga Atmaja dan yang pantas itu seharusnya adalah orang yang menyuruh mereka untuk melakukan hal itu bukan aku." Jelas Nia panjang lebar.
"Lantas? " tanya Gael.
"Apa? " Bingung dengan ucapan Gael.
"Hanya karna itu kau mendiamkan ku? " tanya Gael menatap lekat wajah yang sudah membuat pikirannya tidak tenang akhir-akhir ini.
"Aku pikir ucapan mereka ada benarnya juga. Aku memang tidak pantas menjadi istri mu dan ucapan mereka menyadarkan ku jika bila waktunya tiba maka kita akan berpisah." Nia berkata sambil berusaha menahan air matanya.
"Dengan memberi jarak diantara kita akan mempermudah ku untuk meninggalkan nu dan hati ku tidak akan terluka lebih dalam lagi dari saat ini." Ungkap Nia mengatakan apa yang ada dihatinya saat ini.
"Apa maksud mu? " Selidik Gael.
"Aku takut jika sikap baik mu kepada ku membuat ku jatuh cinta kepada mu dan itu akan menyakitkan ku pada akhirnya jika sudah waktunya kita mengakhiri semua ini." Akhirnya air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah juga dipipi mulusnya.
Gael yang melihat wanitanya itu menangis segera menangkup wajah Nia dengan kedua tangannya dan menghapus air mata itu.
"Apa kau tidak menyadari apa yang aku lakukan pada mu itu bukan hanya karna aku ingin berbuat baik terhadap mu. Itu semua karna aku mencintai mu" Tegas Gael menatap lekat wajah sendu Nia.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu dan takkan aku biarkan jika kau pergi meninggalkan ku!" Terang Gael membawa tubuh Nia kedalam pelukannya.
Cukup lama mereka berdua diposisi itu, Gael mengurai pelukannya dan hendak mencium bibir Nia yang sudah sangat ia rindukan itu namun suara ketukan pintu menghentikan niatnya tersebut yang ternyata adalah mama Mita yang segera masuk setelah mengetuk pintu tanpa menunggu jawaban dari dalam kamar.
__ADS_1
"Sial! " Umpat Gael karna gagal mencium bibir yang sudah satu minggu ini ia rindukan.
Bersambung!