The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter 10 spesial Menari dalam kendali iblis


__ADS_3

“Ayo semuanya bangun kita sudah sampai,” Kak Amara membangunkan kami yang tertidur di dalam mobil. “Ayo turun,” kata Kak Amara setelah melihat kami bangun. Kami tiba di yayasan tepat di jam dua belas malam.


Di sepanjang perjalanan aku tidak tidur, aku memikirkan kata-kata yang di ucapkan oleh Kak Haura kepadaku. Semua kata-katanya selalu berbisik di telingaku. Wajahnya yang penuh dengan ekspresi kemarahan menghantui bayanganku.


“Rin kamu tunggu apa lagi? Ayo buka pintunya,” Friska membuatku sadar dari dunia khayalan.


“Oh iya maaf ya,” kataku lalu membuka pintu pintu mobil dan turun lebih dulu. Aku langsung pergi meninggalkan mereka berlari menuju ke kamar.


Tok tok tok.


Aku mengetuk pintu depan yayasan yang tertutup.


“Dorong aja Rin! Itu gk di kunci kok!” kata Kak Amara dari kejauhan. Kak Amara berjalan dengan teman-teman yang yang terlihat sangat mengantuk, sehingga mereka semua berjalan seperti Zombie.


Krek.


Aku mendorong pintu dan masuk langsung masuk ke dalam.


Tak tak tak.


Aku melangkah menaiki anak tangga dengan perlahan.


Krek.


Aku membuka pintu kamar ku dan masuk kedalam.


Buk.


Aku merebahkan badanku ke kasur, aku menutup wajahku dengan bantal dan menangis meratapi kesalahan. Aku berpikir, Apakah semua yang dikatakan oleh Kak Haura mengenaiku itu benar? Apakah memang aku yang menyebabkan musibah di dalam keluargaku ini? Aku terus menangis dengan berbagai ratapan dan pertanyaan.


Aku merasa ingin menumpahkan semua kesedihan ini dengan orang yang sudah kukenal cukup lama.


“Keyla! Oh iya aku lupa untuk menghubungi untuk memberi tahu kepada Keyla bahwa aku sudah sampai di tujuan,”


Aku mengingat namanya setelah aku berpikir untuk menumpahkan beban hidupku kepada orang yang sudah lama aku kenal.


Aku turun dari kasur dan langsung mengambil handphoneku yang berada di atas meja rias. Aku segera mencari nomor handphone Keyla lalu menghubunginya.


Sisa pulsa yang Anda miliki adalah senilai nol rupiah.

__ADS_1


Ternyata pulsaku telah habis dan aku tidak bisa menghubunginya.


“Harus apa aku sekarang!” aku merasa kesal dan akhirnya aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar di taman semoga cara ini bisa mengurangi rasa sedihku.


Krek.


Aku membuka pintu kamar dan berjalan dengan perlahan agar tidak ada yang mendengar suara langkah kakiku. Sekarang sudah sekitar jam setengah satu malam Tidak ada lagi yang berkeliaran di sini.


Krek.


Aku membuka pintu depan.


“Kamu mau ke mana?” tiba-tiba suara laki-laki terdengar dari belakangku. Aku mengusap air mata sebelum aku berbalik badan.


“Saya minta izin Kak! Saya ingin menenangkan diri di taman,” kataku setelah berbalik badan. Ternyata lelaki itu adalah pengasuh yang menyetir mobil untuk mengantarkan kami ke TKP tadi.


“Perkenalkan! Nama saya Deni Aditya! Kamu bisa memanggil saya sesukamu,” dia mendekat dan mengusap air mataku, dia juga memperkenalkan dirinya kepadaku.


“Boleh kah aku memanggil Kak Aditya? Seperti nama Kakak kandunganku yang ada di rumah sakit tadi!” aku bertanya kepadanya sambil sedikit tersenyum.


“Terserahmu mau memanggilku apa,” jawabnya dengan singkat.


“Bagaimana Kak? Apakah saya boleh izin menenangkan diri di taman?” aku langsung kembali bertanya kembali ke inti.


“Baiklah Kak! Hanya sebentar saja kok,” jawabku sambil memberikan senyuman manis kepadanya. Aku melanjutkan langkahku menuju taman.


“Rin!” Kak Aditya memanggilku.


“Iya Kak ada apa?” aku berhenti dan merespon panggilan darinya tanpa berbalik badan.


“Kenapa kamu tidak lewat pintu belakang saja?” Kak Aditya bertanya kepadaku mengapa aku tidak lewat pintu belakang.


“Aku belum tahu Kak kalau ada pintu belakang untuk menuju taman, Aku ingat kalau mau ke taman harus lewat pintu depan karena kemarin ketika olahraga kami lewat pintu depan,” jawabku dengan detail.


“Oh begitu! Pintu belakang ada di dekat ruang makan,” dia memberitahu aku kalau pintu belakang berada di dekat ruang makan, tetapi aku sangat malas untuk berbalik badan dan masuk kembali ke dalam. Aku memutuskan untuk tetap berjalan.


“Terima kasih Kak! Aku mau lewat sini saja,” jawabku dengan singkat.


Aku sangat sedih dan sedang ingin sendiri. Aku berjalan di jalan kecil yang indah. Jalan ini menuju taman.

__ADS_1


Aku berjalan dengan lampu taman di sekitarku membuat aku merasa sedikit tenang. Aku melangkah dengan sangat perlahan dan menikmati angin malam yang menghembus tubuhku.


Entah mengapa angin yang berhembus seakan merasuki tubuh dan menyuruhku untuk menari. Aku mengikuti permintaan dari sang angin yang berhembus, Aku pun menggerakkan badanku dan menari mengikuti kata hatiku. Gaun hitam yang kukenakan berkibar terhembus oleh angin.


Aku terus menari melepaskan kesedihan yang kurasakan. Aku merasa sangat terhibur dengan cara ini, di sepanjang perjalanan menuju taman aku terus menari.


Pada saat aku sampai di taman, Aku pun berhenti sejenak. Aku merasa sangat tenang dan seolah kesedihan yang kurasakan telah pergi di bawah oleh angin yang berhembus.


Kularutkan ke malam sunyi,


Kusandarkan ke Hari yang hitam,


Ku masih terpaku,


Tlah kupanggil angin malam,


Ku harapkan kan di hempas,


Namun semua sia sia kau telah pergi,


Ketika malam datang,


Ku tak bisa melihatmu,


Ketika pagi datang,


Ku tak bisa menyentuhmu,


Kau telah pergi ...


Memang salahku tak pernah tahu,


Tentang isi hatimu,


Namun sekarang kau tutup mata tuk selamanya …


Aku kembali menari dengan iringan lagu dan musik yang ku nyanyikan. Aku tidak tahu dari mana lagu itu berasal dan mengapa aku bisa menyanyikan lagu itu, Aku terus menari dan menyanyi dengan diiringi musik yang tak jelas dari mana suara musik itu berasal.


Aku terus bernyanyi dan menari hingga aku merasakan sesuatu merasuki tubuhku. Aku merasa tarian dan lagu yang kunyanyikan serta musik yang mengiringi lagu yang sedang kunyanyikan bukanlah atas kendaliku. Aku yakin badanku sedang dikendalikan oleh makhluk halus dan suara musik misterius itu di bawa oleh makhluk itu.

__ADS_1


Aku mulai sadar bahwa aku sedang menari dalam kendali iblis.


Bersambung


__ADS_2