The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.74 Varel


__ADS_3

Setelah memanjat tangga biru, aku keluar dibalik tirai merah, kemudian aku pun menutup pintu tempat aku keluar dan lalu aku berjalan mengendap-endap untuk mengintip kebalik tirai.


“Cek... Cek... Airin, apakah kamu bisa mendengar saya?” tanya seseorang melalui HT—Handy Talkie. Kemudian aku pun mengambil HT tersebut dari dalam kantong rok long dressku.


“Ya, saya dapat mendengar Anda,” jawabku sambil menekan tombol untuk menjawab.


“Baik, Kamu harus berhati-hati karena si iblis itu sedang masuk ke dalam ruangan aula pusat dan dia bilang dia sudah mencium dua aroma kematian tumbalnya. Sekarang iblis itu sedang menuju podium, saya rasa kamu tidak bisa menyelamatkan mereka,” pengawas monitor memberiku himbauan untuk tetap berhati-hati karena si manusia iblis itu sedang berada di ruangan ini katanya.


“Baik! Saya akan berhati-hati, saya pastikan saya bisa menyelamatkan mereka,” jawabku kembali, aku menolak pendapatnya tentang Riana dan Gita yang mungkin tidak bisa kuselamatkan karena sekarang manusia iblis itu sudah melayang menuju podium tempat persembunyian Riana dan Gita.


“Saya hanya meminta kamu agar berhati-hati,” ucap si pengawas mengingatkanku kembali agar aku berhati-hati dalam menyelamatkan kedua temanku.


“Sipp!” jawabku dengan singkat dan kemudian aku pun mengecilkan volume HT untuk berjaga-jaga dari serangan manusia iblis itu.


Setelah itu aku pun kembali mendekatkan tirai merah dan mengintip ke arah podium. Aku masih melihat mereka bersembunyi dibalik podium dan aku juga melihat si manusia iblis itu sudah mulai mendekati podium.

__ADS_1


Aku bingung harus berbuat apa? Untuk menyelamatkan mereka si manusia iblis itu tidak boleh melihat ke arah podium karena tirai merah ini berada di belakang podium. Ketika dia masih melihat ke podium pada saat aku menolong kedua temanku maka otomatis kami akan ketahuan. Aku sangat bingung memikirkan bagaimana caranya mengalihkan pandangan si manusia iblis itu.


“Hai kamu manusia iblis! Ayo kejar aku kalau bisa!” tiba-tiba Klara hadir di depan pintu masuk dan menganggu si manusia iblis itu. Kemudian si manusia iblis itu pun menoleh ke arah Klara, lalu si manusia iblis itu kesal dan melayang mengejar Klara.


Ini adalah suatu keajaiban, kini aku mendapatkan peluang untuk menyelamatkan Riana dan Gita. Aku keluar dari balik tirai merah dan menghampiri mereka berdua yang bersembunyi dibalik podium.


“Aaaa..” mereka kaget ketika aku menyentuh mereka.


“Hei Riana, Gita, ini aku Airin,” ucapku kepada mereka dan kemudian mereka pun merasa lega ketika mereka melihatku.


“Kak Riana!” ucap Dara yang ternyata dia tidak kembali ke tempat monitor dan bersandar di tembok untuk menunggu kami.


“Hai Dara!” Riana membalas sapaan dari Dara dan kemudian setelah dia sampai di bawah, aku mengoper Gita yang tak berdaya kepadanya.


Setelah itu barulah aku turun untuk ikut mereka kembali ke ruang monitor CCTV, aku ingin mengetahui letak teman-teman yang masih terpisah dari kami melalui sebuah monitor CCTV.

__ADS_1


Sesampainya kami di ruang monitor, Friska pun terlihat sangat bahagia karena Riana dan Gita berhasilku selamatkan. Namun, kebahagiaan Friska larut begitu cepat, dia menunjukkan ke arah monitor, dia menunjukkan kepadaku jasad Varel dan Bima yang sudah menjadi korban tumbal si manusia yang bersekutu dengan iblis itu.


“Aaaaaa!!” seketika emosiku memuncak, rasa marah dan rasa sedih bercampur aduk ketika aku melihat Varel melalui monitor, dia sudah tidak bernyawa lagi.


Aku menangis juga mengamuk dan aku terus marah dan memberontak sembari memaki-maki manusia berjiwa iblis itu. Aku merasa sangat tidak ikhlas dengan apa yang telah di ambil olehnya, dia telah mengambil nyawa Eyang Darmo, teman-temanku dan juga Varel yang kurasa dia lebih dari seorang teman maka dari itu aku merasa sangat kehilangan atas kepergiannya.


“Kami masih bersamamu Rin,” ucap Friska dan Riana yang berusaha menenangkanku. Mereka berdua dan yang lainnya juga terlihat sedih dan berduka, tak terkecuali staf villa merah ini. Sedih yang mereka tunjukkan seakan sama dengan apa yang kurasakan.


Tak tauu lagi harus berkata apa, aku hanya merasa sangat hancur ketika melihat jasadnya.


“Varel...” ucapku dengan duka yang mendalam dan kemudian aku pun merasa dunia terlihat sangat gelap.


Bruk!


Aku terjatuh dan masuk ke dalam dunia yang sangat gelap.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2