The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.30 Daruma San: permainan mistis dari Jepang


__ADS_3

Dua jam sudah kami berkeliling menikmati keindahan pemandangan di kampung Damar. Kami pun merasa sangat puas atas keindahan alam yang ada di kampung ini.


Banyak potret yang kami ambil dari pemandangan-pemandangan indah di sini, kata Key dia mengambil potret bersamaku sebagai kenang-kenangan di desa ini.


Kami pun kemudian pulang ke yayasan Rumah Batin karena senja mulai menerpa.


Tin tin.


Suara klakson bus yayasan terdengar dan kemudian bus itu berhenti, bus itu menghampiri kami.


“Airin ayo Rin! Bawa temanmu naik,” kata Kak Marlina dari jendela bus. Kami pun naik ke bus melalui pintu depan bus dan kemudian kami duduk bersama Kak Marlina.


Mereka baru saja belanja persiapan untuk masak lauk pauk karena persediaan di gudang tinggal sedikit.


“Kamu sahabatnya Airin ya?” tanya Kak Marlina kepada Key.


“Iya kak,” jawab Key dengan tersenyum ramah. Mereka terus bercerita sampai kami tiba kembali di yayasan.


“Airin bantu bawa yang ringan ringan aja ya Kak,” pintaku dan kemudian aku pun mengambil selusin garam.


“Ya udah hati-hati,” jawab kak Marlina yang kemudian turun untuk memanggil anak laki-laki, dia memanggil mereka untuk membantu menurunkan barang-barang dibeli di pasar.


Keyla juga ikut mengambil selusin garam dan kemudian kami berjalan menuruni bus. Aku mengajak Keyla untuk mengantarkan selusin garam tersebut ke gudang yang berada di ruang makan.


Di perjalanan menuju ke ruang makan, kami bertemu dengan empat anak laki-laki yang pastinya mereka adalah Bagas CS.


“Syutt, ada cewek cantik tuh!” bisik Bima kepada ketiga temannya. Tingkah Bima membuat kami berdua berhenti dan melihat ke arah mereka.


“Dasar budak cinta,” kata Bima sambil menyikutnya.


“Eh kalian malah diam di sini! Ayo cepat ke depan! Bantu Kak Aditya!” ucap Kak Marlina yang baru saja datang dari arah dapur dan membuat Bagas cs kaget dan berjalan meninggalkan kami.


“Aduh maaf ya Dek! Mereka memang seperti itu, benarkan Airin!” ucap Kak Marlina dan meminta pendapat kepadaku.


“Iya Key, si Bima memang gitu orangnya,” kataku sambil tersenyum dan kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke gudang.

__ADS_1


Setelah kami selesai meletakkan barang yang tadi kami bawa ke gudang, kami pun duduk di ruang tamu untuk bercerita sejenak dan kemudian aku mengajaknya pergi ke kamarku.


Krek.


Aku membuka pintu kamarku dan mempersilakan Key untuk masuk ke dalam kamar.


“Gak usah segan, anggap aja rumah sendiri!” kataku kepadanya yang terlihat ragu ketika hendak masuk ke dalam kamarku.


“Kamu nginap di sini, kan?” tanyaku kepadanya.


“Emangnya boleh?” tanya Key dengan ragu.


“Eh, kurang tahu juga,” jawabku dengan bingung kerena sebelum aku belum pernah menerima tamu untuk tidur di kamarku.


“Tuhkan lu aja gak tahu, lagi pula aku udah menyewa apartemen yang tidak terlalu jauh dari sini, aku nginap di sana aja,” kata Key sambil tersenyum.


“Jangan Key, sebaiknya kamu menginap di sini saja, aku akan mengatakannya kepada Bu Sofia,” kataku mencegahnya dan kemudian aku pun keluar dari kamar untuk meminta izin untuk membiarkan Key menginap di sini.


Tok tok tok.


Aku mengetuk pintu kamar Bu Sofia.


Krek.


“Ada apa Rin?” tanya Bu Sofia kepadaku.


“Bu, apakah teman saya boleh menginap di sini untuk beberapa hari?” tanyaku kepadanya.


“Oh, temanmu yang dari kota itu ya?” tanya Bu Sofia.


“Iya Bu!” jawabku dengan singkat.


“Boleh kok, tempat ini terbuka untuk siapa saja,” jawab Bu Sofia dengan senyuman, aku merasa sangat senang, kemudian aku kembali ke kamar untuk memberi tahu Key bahwa dia boleh menginap di sini.


Krek.

__ADS_1


Aku membuka pintu kamarku.


“Key, kamu boleh bermalam di sini!” seruku dengan girang.


“Syukurlah,” jawab Key sambil tersenyum.


“Rin! Aku pinjem kamar mandinya dong, aku gerah selesai jalan-jalan tadi, aku pingin mandi,” pinta Key kepadaku sembari mengipas tubuhnya yang terasa gerah.


“Ya-elah Key, gak usah pinjam pinjam kali, pake aja!” ucapku kepadanya.


“Wokkey,” kata Key, lalu membuka tasnya untuk mengambil handuk dan pakaiannya dan kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi. Lalu setelah beberapa lama dia pun selesai mandi.


“Seger banget,” kata Key sambil mengeringkan rambutnya.


“Sekarang aku yang gerah, aku mandi dulu ya Key,” kataku dan kemudian aku masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa handuk dan bajuku.


Kami bercanda dan bercerita setelah aku selesai mandi, sampai waktu makan malam pun tiba.


Kami pun kemudian berjalan menuju ruang makan dan makan bersama-sama temenku yang lainnya.


Teman-temanku dengan ramah menyambut Key di ruang makan. Sembari makan, Key dan teman-temanku yang lainnya bercerita dan saling memperkenalkan diri.


Setelah kami selesai makan di ruang makan, kami pun berkumpul di ruang tamu untuk bercanda, menghilangkan rasa bosan karena tidak ada suatu hal pun yang terpikir untuk mengisi hari libur panjang ini.


Kata Friska, yayasan ini memang tidak menyediakan kegiatan pada saat hari libur panjang, kecuali pelatihan kemampuan mata batin. Itu juga akan dilakukan atas instruksi dari Eyang Darmo saja.


“Aku punya permainan, apakah kalian mau bermain?” tanya Key secara tiba-tiba.


“Permainan apa Key?” tanya Friska kepada Keyla.


“Nama permainannya adalah Daruma San,” jawab Key dengan tatapan wajah yang serius.


Bersambung


Daruma San:

__ADS_1


Permainan mistis yang berasal dari negeri sakura.



__ADS_2