![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Dua jam sudah kami duduk dan menunggu waktu bermain tiba. Aku dan Key terus berjaga sedangkan yang lainnya tertidur di atas karpet aula.
“Teman-teman! Ayo pada bangun! Waktu bermain sudah tiba!” ucap Keyla setelah dia melihat ke arah jam dinding yang jarum panjang dan jarum pendeknya berada tepat di tengah angka dua belas.
Karena suara Key yang terlalu ambisius, taman-teman yang tidur pun terbangun dengan ekspresi kaget bahkan ada yang sampai mengigau.
“Baik teman-teman! Semuanya bangun dan merapatlah!” perintah Key dengan sedikit menguap karena mengantuk. Kemudian kami pun bangun dan merapat sesuai perintah yang diberikan olehnya.
“Sekarang sudah pukul dua belas malam, tepat tengah malam. Sekarang kalian boleh berendam ke dalam bathub kalian masing-masing!” pinta Key dan kemudian tanpa sepatah katapun kami berdiri dan kami berjalan menuju bathub kami masing-masing, sedangkan Key meminjam bathub yang ada di kamar anak-anak yang tidak ikut bermain.
Krek.
Kami masing-masing membuka pintu kamar dan berjalan menuju kamar mandi.
Curr.
Setiap orang menghidupkan keran bathub sampai penuh dan kemudian setelah bathub penuh, kami pun masing-masing masuk ke dalam bathub sesuai arahan yang diberikan oleh Keyla tadi.
Kami membasahi rambut kami sambil mengucapkan. ‘Daruma-san jatuh, Daruma-san jatuh, Daruma-san jatuh.’ Kami mengucapkannya berulang ulang kali, sambil memejamkan mata dan menghadap ke arah keran.
Plup... plup..
Suara gelembung oksigen terdengar keluar dari balik badanku setelah aku dengan terus menerus mengucapkan kata-kata Daruma-san jatuh.
“Hhhh…” suara hembusan napas terdengar lirih dan aku merasakan napas hangat menghampiri leherku.
Aku mematikan keran dan memutuskan untuk tidak melihat kebalik badanku karena aku tidak mau hal buruk menimpaku.
Aku menarik penyumbat bathub dan membiarkan air di dalam bathub tersebut kering.
Kemudian setelah bathub kering aku pun keluar dari dalamnya dan dengan perlahan aku mengendap-endap keluar dari kamar mandi.
“Hi.. Hi Hi Hi..”
Aku tahu suara itu, itu adalah suara hantu bathub yang sering menggangguku. Aku tahu bahwa dia sedang memancingku untuk melihat ke arahnya dengan cara tertawa.
Aku terus mengendap-endap keluar dari kamar mandi dan menghiraukannya seolah aku tidak mendengar apapun.
“Aaaaaa…”
Setan bathub yang berada di belakangku teriak dan air kembali keluar dari keran dan memenuhi bathub sehingga airnya keluar meluap dan merendam hingga mata kaki.
Dor.
Dor.
__ADS_1
Dor.
Aku menggedor pintu kamar mandi yang tiba-tiba terkunci. Aku bertingkah seperti tidak ada sesuatu yang terjadi agar setan tersebut mau pergi meninggalkanku.
Aku terus mencoba untuk membuka pintu dan akhirnya pintu pun dapat kubuka.
Krek.
Aku membuka pintu kamar mandi dan keluar dari dalamnya. Kemudian aku pun melihat ke arah bathub yang kembali normal tanpa genangan air. Setan itu telah pergi meninggalkan kamar mandiku.
Kemudian aku melepaskan pakaian basahku dan menggantinya dengan pakaian tidur lalu aku membuka pintu kamar untuk keluar dan berkumpul di aula.
Krek.
Jdarr.
Tiba-tiba pintu kamar mandi tertutup dengan keras pada saat aku sudah berada di luar kamar.
“Aaaa…” teriakan Friska, Gita, dan Dara terdengar begitu kencang.
Krek.
Riana keluar dari kamarnya setelah mendengar suara jeritan yang juga aku dengar tadi. Riana menghampiriku dan kami pun saling bertatapan bingung dan akhirnya kami memutuskan untuk berpencar.
Aku pergi untuk melihat Gita sedangkan Riana pergi untuk melihat Dara. Kami berlari dengan tergesa-gesa dan masuk ke kamar yang kami tuju.
“Lepaskan dia!” bentakku kepada hantu yang merangkul Gita di dalam bathub.
“Hi Hi Hi…”
“Kalian sudah memanggil kami untuk bermain! Jadi kami akan membawa anak yang tidak mengikuti peraturan permainan bersama kami. “
“Ha ha ha…”
Hantu itu pun membawa Gita masuk tenggelam ke dalam bathub sama seperti dulu ketika hantu bathub membawaku ke alam gaib.
“Jangan!!” teriakku dengan khawatir dan berusaha meraih rambut Gita yang masih terlihat. Aku terus berusaha untuk menariknya hingga berhasil.
Aku menarik rambutnya yang terasa ringan dan aku pun berpikir bahwa hantu itu sudah melepaskan Gita.
“Hi Hi Hi Hi…” tawa seram yang di keluarkan oleh sosok hantu yang membawa Gita tadi.
“Aaaaaa..” teriakku yang merasa sangat kaget ketika menarik rambut yang tadinya ku kira iku adalah rambut Gita.
Ternyata aku menarik rambut sosok menyeramkan tadi dan hanya mengangkat kepalanya. Dia tertawa lepas dan tersenyum lebar kepadaku. Aku pun melempar kepala itu dengan sekuat tenaga dan kemudian aku berlari keluar dari dalam kamar mandi itu.
__ADS_1
Buk.
Aku jatuh menabrak seseorang dan kemudian aku pun melihat ke arahnya
“Aaaa…” aku kembali teriak ketika melihat badan tinggi yang berdiri tanpa kepala. Aku pun kembali berdiri dan berlari memberanikan diri untuk mendorong badan itu.
Krek.
Aku membuka pintu kamar dan keluar dari dalamnya. Aku bersandar sejenak di tembok koridor, menenangkan diri yang sangat merasakan syok.
Krek.
Riana pun keluar sambil menangis dari dalam kamar Dara. Dia melangkah dengan tertatih menghampiriku.
“Dara Rin,” katanya sambil menangis.
“Iya aku sudah tahu,” ucapku yang ikut menangis dan memeluknya. Kami sama-sama tahu apa yang telah terjadi dengan Dara dan Gita. Kami menangis karena kami merasa sangat syok dan khawatir.
“Friska! Friska Rin! Ayo kita lihat keadaannya!” ajak Riana yang tiba-tiba saja teringat Friska. Riana pun menarik tanganku dan mengajakku masuk ke kamar mandi Friska.
“Aaaa,” aku teriak stress menutup kedua telingaku setelah melihat sosok yang merangkul Friska. Sosok itu sangat menyeramkan dan membuatku sangat ketakutan.
“Lepaskan dia,” Riana membentak sosok itu dengan tegas.
“Lepaskan?” tanya sosok itu dengan suara yang menyeramkan.
“Iya! Lepaskan dia!” bentak Friska kembali.
“Tidak semudah itu permainan ini berakhir!” kata sosok itu dan kemudian membawa Friska masuk ke dalam air bathub yang berwarna merah.
Riana pun melompat ke dalam berusaha untuk meraih Friska dari rangkulan sosok tersebut namun tidak ada artinya. Friska telah di bawa pergi oleh sosok itu.
Riana menangis tersedu-sedu di dalam bathub, dia merasa bersalah karena tidak bisa meraih Friska dari rangkulan sosok itu. Begitu juga denganku, aku merasakan darahku mendidih. Dan merasa sangat pusing.
“Hi Hi Hi Hi…”
Tiba-tiba sosok tadi kembali keluar dari dalam bathub dan duduk di belakang Riana.
“Riana! Awas!” kataku dengan syok menunjuk ke arah belakang badannya.
Riana pun melihat kebalik badannya dan sosok itu memegang kepala Riana lalu membenturkannya ke keran dengan cukup kuat kemudian sosok itu pun pergi.
Aku dengan menggigil ketakutan menghampiri Riana yang kepalanya tertunduk di keran.
“Riana!” kataku dengan lirih dan membantunya untuk bangun dan kemudian kami pun berjalan menuju aula.
__ADS_1
Bersambung