![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Aku bangun setelah aku tertidur di alam yang ada Papa dan Mama di sana, aku terbangun di dalam sebuah bathub yang ada di dalam kamar mandi di kamarku. Aku kaget dan kemudian aku pun langsung duduk untuk menghirup udara segar, aku bernapas lega karena akhirnya aku bisa kembali ke alam nyata.
“Tunggu, apakah aku benar-benar sudah kembali ke alam nyata?” pikirku dan kemudian aku pun bangun dan keluar dari dalam bathub.
Krek.
Aku membuka pintu kamar mandiku dan kemudian aku pun melihat ke sekeliling ruangan kamarku untuk memastikan bahwa aku benar-benar sudah kembali ke alam nyata.
Krek.
Aku membuka pintu lemariku untuk mengambil handuk dan kemudian aku pun mengeringkan badanku, lalu aku mengganti baju basahku.
“Apakah teman-teman yang lainnya juga sudah kembali,” ucapku yang tiba-tiba penasaran dan khawatir apakah teman-teman yang lainnya juga sudah kembali ke alam nyata.
Aku keluar dari kamarku dan kemudian aku pun pergi ke kamar Riana untuk memeriksa apakah dia juga sudah kembali ke alam nyata.
Tok tok tok.
“Riana,” aku mengetuk pintu kamar Riana dan kemudian aku pun memanggilnya.
Krek.
Aku membuka pintu kamarnya dan langsung saja aku masuk untuk melihatnya.
“Riana…” aku memanggilnya sambil terus melangkah menuju ke kamar mandinya. “Riana,” aku terus memanggilnya.
Krek.
__ADS_1
Aku membuka pintu kamar mandinya untuk memastikan bahwa dia juga sudah kembali ke alam nyata.
“Riana kamu di mana?” ucapku dengan bingung setelah aku memeriksa kamar mandinya, dia tidak ada di situ. Kemudian aku pun keluar untuk memeriksa yang lainnya.
“Airin,” aku bertemu dengan Friska pada saat aku membuka pintu.
“Ternyata kamu juga sudah kembali ke alam nyata,” ucapku sambil tersenyum dan kemudian dia pun ikut tersenyum dan mengajakku untuk berkumpul di aula, kata Friska semuanya sudah kembali ke alam nyata kecuali Riana, karena mustika merah delimanya belum kembali masuk ke dalam tubuhnya dia tidak bisa kembali ke alam nyata.
Friska juga bilang kalau ombak besar yang menerpa kami tadi adalah upaya Eyang Darmo untuk menyelamatkan kami dari alam yang menyeramkan tadi, ilmu Eyang Sisir Sukmo namanya.
“Lain kali jangan pernah kamu datang ke yayasan ini lagi! Karena ulahmu nyawa anak-anak yayasan hampir saja menghilang,” aku mendengar suara keras Ibu Sofia yang sepertinya sedang memarahi seseorang.
“Ada apa di aula? Mari kita lihat,” seruku kepada Friska dan kemudian aku pun menarik tangannya untuk berlari cepat menuju aula karena aku khawatir yang di marahi oleh ibu Sofia adalah Keyla.
“Maaf Bu, saya tidak tahu dampak dari permainan itu, saya hanya ingin bersenang-senang dengan teman-teman yang ada di yayasan ini,”
“Bersenang-senang kamu bilang? Apakah kamu tahu permainan yang berhubungan dengan alam gaib itu berbahaya!” Ibu Sofia kembali membentak Keyla dengan suara yang sangat kuat.
“Cukup Bu! Jangan marahi dia lagi karena sebenarnya ini semua adalah ulahku!”
Dengan suara nyaring aku masuk ke dalam aula dan mengehentikan amarah Bu Sofia sehingga seluruh mata pun tertuju kepadaku.
“Oh jadi begitu! Saya tidak bisa berhenti memarahinya karena dia bersalah, dan begitu juga denganmu, kamu akan saya hukum karena kamu juga harus ikut bertanggung jawab dalam hal ini,” Ibu Sofia tidak mendengarkanku dan bahkan malah kembali memarahiku.
“Ibu Sofia, saya mohon agar Ibu tidak memarahi Keyla lagi, saya rela menerima hukuman yang lebih besar lagi dari Ibu asalkan Ibu tidak memarahinya lagi,” aku mulai memelas untuk membela Keyla.
“Apa-apaan ini? Saya bukan tipikal orang yang seperti itu, yang bersalah harus menerima konsekuensinya tidak ada yang boleh mewakili kesalahan orang lain,” Ibu Sofia kembali menjawab pembelaanku dengan ketus. “Sekarang berikan mustika merah delimanya kepada Eyang Darmo!” sambung Bu Sofia setelah memarahiku, dia menyuruhku untuk memberikan Mustika Merah Delima kepada Eyang Darmo yang sedang bertapa di atas panggung aula bersama seluruh pengasuh kecuali Bu Sofia.
__ADS_1
“Baik Bu, saya akan mengambilnya di kamar,” jawabku dan kemudian aku pun langsung pergi ke kamar untuk mengambil Mustika Merah Delima untuk kuberikan kepada Eyang Darmo.
Aku seakan kehabisan kata-kata setelah Ibu Sofia menolak pembelaanku dengan sangat tegas. Aku hanya pasrah menerima hukuman darinya nanti.
Krek.
Aku membuka pintu kamarku dan kemudian aku pun mengambil Mustika Merah Delima dari dalam saku baju basahku dan setelah aku mendapatkannya, aku langsung kembali ke aula untuk membersihkan Mustika Merah Delima ini kepada Eyang Darmo.
Aku keluar dari kamar dan kemudian aku pun berjalan melewati koridor, selanjutnya aku menuruni tangga dan akhirnya aku sampai di Aula.
“Ini Mustinya Bu,” ucapku sambil menyodorkan Mustika Merah Delima kepadanya.
“Berikan kepada Eyang Darmo,” Ibu Sofia menepis tanganku, dia terlihat sangat kesal, dengan jutek dia menyuruhku untuk memberikan Mustika Merah Delima ini kepada Eyang Darmo.
Dengan pikiran kosong aku melangkah menuju aula dan pada saat aku sudah sampai di atas aula, aku pun langsung memberikan Mustika Merah Delima ini kepada Eyang Darmo. Para pengasuh dan Eyang Darmo duduk mengitari tiga belas lilin yang di atur rapi seperti lingkaran.
“Ini Eyang,” ucapku sambil menyodorkan Mustika Merah Delima kepadanya.
“Letakkan Mustikanya ke dalam mangkuk emas itu,” ucap Eyang Darmo sambil menunjuk ke arah mangkuk berwarna emas.
Kemudian aku pun melakukan apa yang di katakan oleh Eyang Darmo, aku meletakkan Mustika Merah Delima ke dalam mangkuk emas yang berisi air berwarna hijau.
Setelah aku meletakkan Mustika Merah Delima ke dalam mangkuk emas aku pun langsung berdiri dan kembali berkumpul bersama teman-teman yang lainnya untuk menerima hukuman dari ibu Sofia.
“Bergabunglah dengan mereka,” perintah Bu Sofia ketika aku menghampirinya.
“Baik Bu,” jawabku dengan singkat dan tetap menundukkan pandanganku sambil melangkah mundur untuk bergabung bersama teman-teman yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung