The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.52 " keempat penari itu lagi! "


__ADS_3

Ting tang ting tung.


Suara gamelan semakin jelas terdengar ketika kami sudah berada cukup dekat dari sumber suara. Kami sembunyi di balik pohon untuk mengintip para penari yang sedang menari dengan iringan musik tradisional yang bergerak sendiri.


“Keempat penari itu tidak asing di mataku, tetapi siapa ya?” ujarku setelah melihat keempat penari tersebut lalu berpikir apakah aku pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.


“Aku juga merasakan hal yang sama,” sambung Keyla seakan dia juga pernah bertemu dengan ke empat penari tersebut sebelumnya.


“Benarkah seperti itu?” tanya Varel kepada aku dan Key.


“Iya bener, tetapi aku lupa siapa mereka,”


“Aku juga!” jawabku dengan yakin, kemudian Key menyambung jawabanku yang juga menjawab pertanyaan Varel.


“Bukankah mereka adalah keempat penari yang membawa kita ke singgasana yang menyeramkan tadi?” tanya Varel dengan santai bermaksud bermaksud mengingatkanku bahwa keempat penari itu adalah penari yang membawa kami ke singgasana menyeramkan tadi.


Sejenak aku memikirkan pertanyaan Varel tadi yang bermaksud untuk mengingatkanku bahwa keempat penari itu adalah penari yang sama dengan yang tadi membawa kami ke singgasana. Untuk memastikannya aku pun langsung memperhatikan keempat penari itu.


“Baju, selendang, topeng bahkan sanggulnya sama seperti keempat penari tadi, sepertinya kamu benar Rel!” ucapku setelah sejenak aku mengamati keempat penari tersebut.


“Kalau begitu kita harus menyingkirkan mereka!” seru Varel dengan ambisius dan kemudian dia pun hendak keluar dari balik pohon untuk melakukan tujuannya.


“Tunggu!” aku menahannya yang hampir saja keluar dari balik pohon dan dia juga hampir terlihat oleh keempat penari tersebut yang mana hal itu bisa saja menyebabkan suatu petaka bagi kami.


“Ada apa lagi Rin?” tanya Varel dengan kesal.


“Jangan terlalu berambisi Rel karena masih ada hal yang mengganjal dipikiranku,” jawabku berbisik ke telinganya.


“Hal apa lagi yang mengganjal dipikiranmu Rin? Kebingunganmu tentang siapakah keempat penari itu kan sudah terjawab!” seru Varel dengan kesal.


Aku sedikit bingung harus menjawab apa kepadanya, tetapi secara perlahan aku mencoba untuk menenangkannya dan aku juga sempat bertanya kepadanya.

__ADS_1


“Mengapa kamu sangat berambisi untuk menyingkirkan keempat penari itu?”


“Aku sudah tidak tahan lagi dengan alam yang aneh ini dan aku juga sangat khawatir dengan adikku yang sekarang entah di mana!” jawab Varel dengan lugas dan jelas, kemudian setelah Varel menjawab pertanyaanku aku pun langsung menjelaskan kepadanya bahwa keempat penari tersebut adalah teman-teman kami yang sama-sama berasal dari yayasan Rumah Batin. Dia pun mulai tenang dan berpikir sembari memperhatikan keempat penari itu.


“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” tanya Varel kepada sembari tetap memperhatikan keempat penari tersebut.


“Coba kamu perhatikan penari yang itu! Dari postur tubuhnya terjawab kalau dia itu adalah Friska! Yang itu Dara, kamu bisa mengenalinya dari postur tubuhnya. Kemudian yang itu Gita dan yang itu Klara,” aku menjelaskan satu persatu kepada Varel.


“Kamu benar! Itu adalah teman-teman kita!” seru Varel setelah dia menyadari bahwa keempat penari tersebut adalah teman-teman kami.


Aku pun tersenyum lega setelah tanda tanya yang ada dipikiranku terpecahkan, aku berhasil mengenali teman-teman kami yang menjadi penari bertopeng dengan pengaruh jahat dan karena topeng yang menempel di wajah mereka itulah yang membuat kami kebingungan.


“Kalau begitu mari kita sadarkan mereka!” gumamku dengan sangat berambisi dan kemudian aku pun langsung keluar dari balik pohon untuk menghampiri keempat penari yang ternyata mereka adalah teman temanku.


“Airin tunggu!” Varel menghentikanku dan seketika aku pun menyadari bahwa aku tidak memegang Mustika Merah Delima di tanganku.


“Hi Hi Hi Hi…” keempat penari itu berhenti bernyanyi begitu juga dengan alat-alat musik tradisional yang mengiringi mereka tadi. Mereka berhenti bernyanyi setelah mendengar suara Varel yang memanggilku dengan suara yang cukup besar.


Keempat penari itu pun melihat ke arahku dan membuatku merasa sangat panik, mereka mulai mendekatiku dengan perlahan.


“Ini adalah akhir dari segalanya, kamu akan menjadi penduduk abadi di alam ini!” ucap mereka dengan kompak dan kemudian mereka pun mengulurkan selendangnya ke arahku.


“Tolong!” teriakku meminta tolong sembari berbalik badan agar aku bisa berlari untuk menghindari mereka dengan mudah.


“Airin!” seru Keyla dengan panik dan kemudian dia pun berlari menghampiriku tanpa berpikir panjang.


“Keyla jangan ke sana!” ujar Varel berniat menghentikan Keyla agar dia tidak pergi menghampiriku.


“Hi Hi Hi!”


Varel terlambat, Keyla terus berlari menghampiriku tanpa berpikir panjang karena dia sudah di kuasai oleh perasaan panik yang amat sangat, dia khawatir akan terjadi sesuatu kepadaku sehingga dia lupa dengan keselamatan dirinya.

__ADS_1


“Hi Hi Hi…” suara tawa menyeramkan para penari itu kembali terdengar seiring dengan selendang yang menjuntai panjang melayang melewatiku dan kemudian selendang itu pun melilit Kayla.


“Key!” teriakku sebelum akhirnya aku pun juga terlilit oleh selendang para penari itu.


“Varel! Gunakanlah Mustika Merah Delima itu!” ucapku mengingatkan Varel akan mustika merah delima.


“Baiklah Rin!” jawab Varel dengan singkat dan kemudian dia pun bergegas untuk mencari mustika tersebut di saku celananya. “Nah, dapat!” gumam Varel setelah mendapat mustika merah delima tersebut di dalam saku celananya.


“Saya memerintahkan kalian untuk keluar secara hormat dari tubuh teman-teman saya sebelum saya menghanguskan kalian dengan Mustika Merah Delima ini,” ucap Varel dengan lantang mengancam arwah-arwah jahat untuk keluar dari dalam tubuh taman-taman kami.


“Aaaaaaaa!”


Mereka berteriak seolah takut dengan ancaman yang telah di berikan oleh Varel tadi.


“Ngapuro kanjeng!” ucap keempat arwah itu sebelum mereka meninggalkan tubuh teman-teman kami.


Gubrak.


Aku, Key dan teman-teman yang sempat kerasukan tadi pun terjatuh ke tanah setelah para arwah pergi meninggalkan jasad teman-teman kami.


“Aduh!” rintihku ketika jatuh ke tanah.


“Teman-teman!” ucap Varel dengan khawatir dan kemudian dia pun bergegas menghampiri kami.


“Apakah kamu mengalami luka serius Rin?” tanya Varel dengan panik.


“Tidak Rel, aku hanya merasakan pegal-pegal saja,” jawabku sembari menghampiri Friska dan berusaha untuk menyadarkannya dari pingsan yang biasa di alami oleh orang-orang yang baru saja kerasukan.


“Friska, bangunlah Fris!” ucapku sambil menggoyang-goyangkan badannya.


“Uhuk uhuk,” Friska pun batuk dan dengan perlahan dia pun mulai sadarkan diri.

__ADS_1


“Friska!” ucapku dengan penuh kebahagiaan dan kemudian aku pun memeluknya, sedangkan si Keyla dan si Varel berusaha untuk menyadarkan yang lainnya.


Bersambung


__ADS_2