The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.17 Ada apa dengan Klara?


__ADS_3

“Selamat datang adik-adik,” sambut Kak Marlina kepada kami yang baru saja turun dari bus. “Sekarang kalian ganti baju dan setelah itu kalian makan siang!” pintanya sambil tersenyum.


“Baik Kak,” jawab kami dengan kompak lalu berjalan menuju kamar masing-masing untuk pergi mengganti baju.


Krek.


Aku membuka pintu kamarku.


Dar…


Suara pintu tertutup dengan keras. Aku berbalik badan untuk melihat sumber suara itu dan ternyata suara bantingan pintu itu berasal dari kamar Klara.


“Kak! Kak Klara kepada?” tanya Dara kepada Friska.


Suara bantingan pintu itu membuat langkah kami terhenti ketika kami hendak masuk ke dalam kamar.


“Mungkin dia sedang ingin menyendiri Dek!” awab Friska kepada Dara dan kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar.


“Gita, Dara, Ayo ganti baju kalian!” kataku sambil tersenyum dan masuk ke dalam kamarku.


Aku memutuskan untuk mandi, karena aku merasa sangat gerah dalam perjalanan pulang dari sekolah tadi.


Kemudian aku keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap untuk makan siang.


Krek.


Aku membuka pintu kamarku dan berjalan melewati koridor untuk menuju ke ruang makan.


Tok tok tok.


Aku mengetuk pintu ruang makan seperti biasanya sebelum aku masuk ke dalamnya.


“Masuk Rin!” kata Kak Marlina kepadaku.


“Kok masih sepi ya Kak?” tanyaku kepadanya karena aku melihat ruang makan masih kosong.


“Ya jelas sepi lah Rin! Kan kamu yang terlalu cepat datangnya,” jawab Kak Marlina sambil tertawa.


“Oh gitu ya Kak!” jawabku sambil tersenyum.


“Ngomong-ngomong aku boleh bantuin Kakak masak gak?” tanyaku menawarkan diri kepadanya.


“Oh boleh kok!” jawab Kak Marlina.


“Kak ini bawangnya mau dipotong berapa?” tanyaku kepadanya.


“Oh tiga siung aja Rin,” jawabnya dengan tetap fokus mengerjakan pekerjaannya sendiri.


“Akhirnya selesai juga!” kami menghembuskan napas lega setelah setengah jam kami menyiapkan hidangan untuk teman-teman.


Tok tok tok.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar.


“Masuk!” jawab Kak Marlina mempersilahkan mereka masuk.


“Tumben cepat masaknya, pasti karena dibantu Airin, kan?” tanya Bima dengan usil.


“Gak usah banyak nanya lu! Tinggal makan aja kok repot," jawab Kak Marlina dengan jutek.


“Idih tu mulut kok pedes amat ya?” kata Bima lalu berjalan pergi menuju ruang makan mereka.


“Rin! Gimana Klara?” tanya Bagas kepadaku.


“Kelihatannya dia masih mager deh,” jawabku dengan tatapan serius.


“Emangnya Klara kenapa Rin!” tanya Kak Marlina.


“Syutt..” Bagas memberikan isyarat untuk tidak memberi tahu masalah yang terjadi di sekolah kepada Kak Marlina.


“Oh Klara sedang pms Kak!” jawabku setelah melihat menerima isyarat dari Bagas.


“Oh gitu!” jawab Kak Marlina tanpa memasang kecurigaan kepadaku.


Aku kembali melihat ke arah Bagas dan dia pun memberikan acungan jempol kepadaku. Aku mengangguk dan tersenyum merespon pujiannya.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu kembali terdengar.


“Sekarang makannya udah stand by yah! Kak Marlina hebat,” puji Friska kepada Kak Marlina, dia memuji Kak Marlina karena kali ini makanan sudah stand by di atas meja.


“Berterima kasihlah kepada Airin yang telah membantu Kakak masak,” jawab Kak Marlina sambil tersenyum.


“Siang adik-adik!” sapa Kak Amara yang baru saja masuk bersama pengasuh lainnya.


“Siang Kak!” jawab kami dengan kompak.


“Kok kayak ada yang kurang?” tanya Kak Amara kepada kami setelah melihat ada satu bangku yang kosong.


“Oh itu Klara Kak, dia sedang pms,” jawab Friska dengan cepat.


“Oh gitu! Ya udah kalian makan aja dulu Kakak mau nyusul Klara,” kata Kak Amara sambil tersenyum manis dan kemudian dia meninggalkan kami.


“Ya udah ayo adik-adik di makan hidangan yang sudah Kakak dan Airin sajikan untuk kalian,” pinta Kak Marlina kepada kami.


“Guys kita siap-siap buat kegiatan sore yuk,” ajak Friska kepada kami.


“Yuk,” jawabku dengan singkat lalu mengikuti langkahnya. Begitu juga dengan Dara, Gita, dan Riana dia juga ikut bersama kami untuk kembali ke kamar untuk mengganti baju dan bersiap siap untuk melaksanakan kegiatan sore.


“Eh kalian sudah pada selesai makan ya?” kami bertemu dengan Kak Amara di perjalanan menuju ke kamar.


“Iya nih Kak kita udah pada selesai makan,” jawab Friska sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ya sudah kalian langsung bersiap-siap untuk menunggu di taman ya! Nanti Kakak akan menyusul,” jawab Kak Amara sambil tersenyum dan meninggalkan kami.


Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke kamar untuk bersiap-siap mengikuti kegiatan sore hari seperti biasanya.


“Hiks hiks hiks,” aku mendengar tangis dari kamar Klara.


Tok tok tok.


Aku mengetuk pintu kamarnya dengan pelan dan rasa penasaran. “Ra! Kamu kenapa? Apakah aku boleh masuk?” tanyaku kepadanya.


Krek.


Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan sendirinya dan aku melihat Klara tertidur pulas di kasurnya, lantas dari mana suara tangisan tadi berasal padahal aku yakin kalau suara itu berasal dari kamarnya.


“Airin!” Friska memanggilku dan kemudian dia menarik tanganku, dia membawaku menghindar dari kamar Klara.


“Kenapa sih Friska?” tanyaku dengan kesal.


“Lebih baik kita ceritanya di dalam kamarmu!” jawabnya lalu menarik tangan dan membawaku masuk ke dalam kamar.


“Klara itu ada yang jaga dan yang jaga dia hantunya galak banget! Kamu jangan coba-coba untuk mengetuk pintu kamarnya kalau kamu belum dekat dengan penjaganya,” kata Friska dengan tatapan serius.


“Oh maaf ya aku gak tahu tadi,” jawabku dengan rasa bersalah.


“Iya gak papa kok,” jawab Friska sambil tersenyum.


“Pantesan aja tadi pintunya ke buka sendiri,” kataku lagi.


“Ya itu tuh penjaganya,” jawab Friska. Kemudian aku mengangguk untuk merespon jawabannya.


“Ngomong-ngomong aku masih penasaran dengan Tatik, kenapa ya dia sensi sama anak-anak yayasan Rumah Batin?” tanyaku lagi kepada Friska.


“Oh Tatik! Mereka memang punya geng yang terdiri dari tiga puluh orang dan semua gengnya sangat membenci anak-anak yang tinggal di yayasan Rumah Batin, karena menurutnya anak-anak yang tinggal di sini semuanya aneh,” jawab Friska dengan detail.


“Ya udah aku balik ke kamarku dulu yah! Aku mau siap-siap buat kegiatan sore,” dia pun pergi meninggalkanku.


Aku juga langsung bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan sore, aku mengganti bajuku dan setelah itu aku pergi ke taman.


“Baiklah adik-adik apa semuanya sudah berkumpul?” tanya Kak Amara kepada kami.


“Sudah Kak!” jawab kami dengan semangat.


“Ya sudah kita akan memulai beberapa permainan ya!” serunya kepada kami.


“Eh tunggu dulu Kak,” hentiku setelah menyadari bahwa Klara tidak ada di lapangan.


“Ada apa Airin,” tanya Kak Amara kepadaku.


“Kita kekurangan satu orang lagi,” jawabku.


“Oh iya Klara! Tetapi berhubung dia sedang tidak enak badan biarkan saja dia untuk beristirahat terlebih dahulu,” jelas Kak Amara sambil tersenyum

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2