![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
3 Bulan kemudian.
3 bulan kemudian.
Waktu libur panjang telah tiba. Aku berbaring di atas kasur dan merasa sangat bosan kerena tidak ada kegiatan yang bisa kulakukan.
Aku memikirkan kabar dari kedua orang tuaku yang hilang dalam tragedi kecelakaan pesawat pun tak kunjung sampai ke telingaku.
Kabarnya para SAR telah menghentikan pencarian para korban pesawat dan masih banyak korban yang belum di temukan.
Apa boleh buat, mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari para korban jiwa. Aku harus mengikhlaskan kepergian kedua orang tuaku.
Seminggu lalu Kak Adit dan Kak Haura datang ke yayasan ini untuk berpamitan kepadaku, mereka akan pulang ke kota.
Pada saat mereka datang mengunjungiku, Kak Haura tidak mau bertemu denganku karena dia menganggap aku sebagai biang dari semua petaka.
Sedangkan Kak Adit memberikan nasihat untukku supaya aku bisa menjadi gadis yang tegar lagi, Kak Adit juga bilang suatu hari Kak Haura pasti akan kembali menyayangiku.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu menyadarkan aku dari alam khayalku. “Siapa?” tanyaku kepada sumber suara tersebut.
__ADS_1
“Ini Gita Kak!” jawab seseorang yang mengetuk pintu kamarku tadi.
Aku pun turun dari kasur dan berjalan menghampiri pintu kamar dan membukanya.
“Ada apa Gita?” tanyaku kepadanya.
“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Kakak,” jawabnya dengan polos.
“Siapa dia?” aku kembali bertanya.
“Aku tidak tahu pasti kak, sebaiknya Kakak lihat aja sendiri,” jawab Gita dengan sedikit usil membuatku sedikit tersinggung dan penasaran dengan orang yang ingin bertemu denganku.
Aku berjalan menuruni anak tangga dan akhirnya aku pun sampai di ruang tamu, aku sangat kaget dan syok setelah aku melihat orang itu.
“Keyla!!!!” seruku kemudian berlari menghampirinya. Aku memeluknya sembari melepaskan rasa rindu yang telah terpendam lama.
“Aku gak nyangka, kamu mengunjungiku di hari libur panjang ini!” kataku sambil melepaskan pelukannya. Kami duduk bersama di sofa ruang tamu dan kami pun berbincang-bincang manja.
“Ternyata yayasan Rumah Batin ini besar ya!” kata Keyla sembari melihat lihat ke sekeliling.
“Iya nih,” jawabku dengan singkat.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong kok sepi banget sih? Pada ke mana teman-temanmu?” Key bertanya setelah menyadari kalau keadaan sangat sunyi.
“Mereka semua ada di kamar! Mereka semua boring karena gak ada hiburan,” jelasku dengan santai.
“Kamu ke sini bareng siapa Key? Kok kamu gak ngabarin aku sih!” kami terus berkomunikasi.
“Aku datang ke sini sendirian dan sengaja gak ngabarin kamu karena aku mau kasih surprise ke kamu!” jawab Keyla sambil tersenyum.
“Emangnya kamu gak kesasar?” tanya ku lagi.
“Syukurlah aku sudah mempersiapkan segalanya sebelum datang mengunjungimu ke sini, jadi perjalananku menuju ke yayasan Rumah Batin ini berjalan dengan lancer,” jawab Key dengan detail.
Kami terus berbincang-bincang panjang lebar. Kami bersenda gurau dan akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kampung Damar yang dikelilingi oleh banyaknya pohon cemara dan sungai yang dapat memanjakan mata.
“Kak saya izin mau keluar, mau keliling-keliling,” ucapku meminta izin kepada Kak Kiki yang bekerja sebagai seorang satpam. Kemudian dia mengambil buku catatan izin dan menyuruhku untuk tanda tangan.
“Jangan jauh-jauh ya!” pesan Kak Kiki kepadaku.
“Baik Kak!” jawabku dengan singkat dan kemudian kami pun langsung berjalan jalan menikmati pemandangan indah kampung Damar.
Bersambung
__ADS_1