The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.7 Kedua Kaka ku ditemukan!


__ADS_3

“Apakah korban atas nama Nathan Suhartono, Ajeng Sudrajat, Azka Praditta Julian, dan Haura fivacalista sudah di temukan?” aku di temani oleh Klara dan Friska untuk bertanya kepada seseorang yang mengenakan pakaian SAR.


“Korban sangat banyak, dan saya juga harus kembali untuk ikut serta untuk mencari korban yang lainnya. Ini adalah data dari beberapa orang yang sudah ditemukan, saya mohon maaf karena tidak bisa membacanya untuk Anda,” jawab Bapak yang mengenakan pakaian SAR itu dengan sopan dan tegas. Bapak itu memberikanku selembar kertas yang berisikan data-data sebagian orang yang sudah ditemukan.


“Terimakasih kasih ya, Pak” kataku setelah menerima selembar kertas dari Bapak yang mengenakan pakaian SAR  tadi.


“Terima kasih kembali,” jawab Bapak itu lalu dia meninggalkanku.


Aku, Klara, dan Friska kembali ke bus yayasan untuk bergabung dengan Kak Amara dan yang lainnya.


“Bagaimana? Apakah ada kabar mengenai keluargamu?” tanya Kak Amara kepadaku.


“Aku belum mengetahuinya Kak! Tadi aku bertanya kepada petugas yang mengenakan seragam SAR, dia hanya memberikan ini kepadaku,” jawabku sambil menunjuk selembar kertas.


“Apa itu?” Kak Amara kembali bertanya.


“Ini adalah data-data dari sebagian korban yang sudah di temukan,” aku menjelaskan tentang selembar kertas data tadi kepadanya.


“Kalau begitu mari kita cari keluargamu,” kata Kak Amara dengan raut wajah yang semangat. Aku mengangguk menjawab ajakkan darinya.


Kami membaca data-data itu dengan teliti, kami membaca nama pernama, hingga akhirnya kami pun menemukan dua nama dari keluargaku.


“Azka Praditta Julian dan Haura fivacalista! Syukurlah mereka sudah di temukan,”


Aku merasa sangat bersyukur karena mereka telah di temukan.


“Ayo kita cari nama kedua orang tuaku! Apakah mereka sudah di temukan.”


Aku mengajak teman-teman untuk mencari dua nama lagi, nama kedua orang tuaku.

__ADS_1


“Kayak gak ada deh Kak!” kata Dara dengan cepat setelah aku mengajak mereka tadi.


“Kenapa kamu mengucapkan itu, apakah kamu sudah membaca semua data dengan detail?” tanya Friska kepadanya dengan jutek.


“Aku bahkan sudah membacanya dua kali,” jawab Dara dengan yakinnya.


“Ayo dong! Jangan bertengkar! Bantu aku untuk mencari nama mereka, mungkin saja Dara kurang teliti pada waktu membacanya,”


Aku menghentikan amarah Friska yang diluapkannya kepada Dara dan mengajak mereka untuk mencari nama kedua orang tuaku lagi.


“Wah ternyata nama kedua orang tuamu benar-benar belum ada di data ini! Sabar ya Rin, pasti ada makna yang tersirat di balik musibah yang menimpa keluargamu,” kata Klara setelah berulang kali melihat data untuk mencari nama kedua orang tuaku di selembar kertas.


“Aku ikhlas kok,” jawabku lalu keluar dari mobil dan melangkahkan kakiku ke pesisir pantai.


“Airin, kamu mau ke mana?”


Mereka yang berada di dalam mobil bertanya dengan kompak. Aku tidak menghiraukan mereka, aku tetap melangkah menuju pesisir pantai. Aku pergi menuju pesisir pantai untuk menenangkan diriku sejenak.


Sebenarnya ingin rasanya aku menangis, tetapi air mataku sudah dikuras habis oleh kesedihan yang kurasakan  pada malam kemarin pada saat aku mengetahui kabar yang tidak diinginkan menimpa keluargaku.


“Apakah di kertas itu ada alamat tempat korban jiwa di tampung?” tanya Kak Amara kepada Klara yang sedang memegang selembar kertas data.


“Ada Kak!” jawab Klara dengan singkat.


“Oh ya? Di mana lokasinya?” Kak Amara kembali bertanya kepada Klara.


“Di rumah sakit Kasih Sayang Kak!” Klara memberitahu di mana lokasi para korban pesawat berada.


“Boleh Kakak pinjam kertas itu?” Kak Amara meminta kertas kepada Klara.

__ADS_1


“Tentu saja boleh Kak!” jawab Klara dengan singkat dan sopan. Kak Amara pun membawa kertas itu untuk di tunjukkan kepada pengasuh laki-laki yang sedang bersandar di depan mobil.


“Apakah kamu mengetahui lokasi ini Den?” tanya ke Amara kepada pengasuh laki-laki itu.


“Ya aku tahu,” jawab pengasuh pria itu dengan singkat setelah melihat lokasi yang ditunjukkan oleh selembar kertas yang diberikan Kak Amara kepadanya.


“Kalau begitu aku akan pergi memanggil Airin dan setelah itu kita pergi ke alamat ini,” kata Kak Amara kepada pengasuh laki-laki itu, dan Kak Amara meninggalkannya. Kak Amara pergi ke pesisir pantai untuk memanggilku.


“Sudah lah! Jangan sampai kesedihan membawamu kepada jiwa yang kosong,” suara Kak Amara terdengar dari balik badanku.


“Ayo kita pergi ke rumah sakit Kasih Sayang untuk menjenguk kedua Kakakmu yang sudah ditemukan,” dia menyentuh pundakku dan menghadapkanku ke hadapannya.


“Apakah mereka masih hidup?” tanyaku kepadanya.


“Kaka tidak tahu! Tetapi bagaimanapun keadaan mereka kita harus pergi untuk melihat keadaan mereka,” jawabnya kepadaku lalu dia memegang tanganku dan menuntunku kembali ke dalam mobil.


“Jangan sedih-sedih lagi dong Kak! Nanti Gita ikutan sedih,” Gita memelukku dan mengatakan itu dengan wajah yang polos.


“Iya Kakak gak bakalan sedih lagi kok Git!” jawabku sambil mengusap rambutnya. Dia berhasil membuatku tersenyum.


“Nah gitu dong jangan sedih-sedih lagi ya Rin! Kita kan selalu menemanimu! Kami akan selalu ada untukmu!” Friska juga ikut memelukku.


“Iya itu sangat benar!” kata Klara.


Akhirnya mereka semua ikut memelukku, kecuali pengasuh laki-laki itu. Aku merasa sangat tenang pada saat berada di dalam pelukan mereka. Dengan perlahan kesedihan yang kurasakan menguap dan menghilang di dalam pelukan mereka.


“Baiklah! Semua kembali ke tempat duduknya masing-masing! Kita akan berangkat menuju ke rumah sakit sekarang.”


Pengasuh itu menyuruh mereka untuk kembali ke tempat duduk masing-masing karena mobil akan segera berangkat menuju ke rumah sakit Kasih Sayang. Kami akan pergi untuk melihat keadaan kedua kakakku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2