The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.77 Aku Airin kanyasara, si anak indigo


__ADS_3

Wiiiuuu… Wiiiuuu...


Suara ambulan dan beberapa mobil polisi terdengar menghampiri Villa Merah ini. Aku dengar mereka di panggil oleh staf Villa Merah ini untuk mengurus korban-korban yang sudah tak bernyawa lagi.


Kami tidak akan berurusan dengan pihak polisi karena sebelumnya Ibu pemilik Villa Merah ini sudah mengurus izin untuk pembersihan villanya ini. Ibu pemilik Villa Merah ini juga bilang kepada kami kalau Eyang Darmo sebenarnya sudah tahu bahwa dalam pembersihan villanya ini pasti akan memakan korban dan Eyang Darmo siap bertanggung jawab atas korban jiwa itu.


Namu naas, ternyata Eyang Darmo juga masuk ke dalam daftar korban. Kata Ibu itu, kejadian ini tidak bisa di pungkiri dan kami harus ikhlas melepaskan semua korban jiwa yang dari yayasan Rumah Batin.


Ibu pemilik Villa Merah ini juga merasa bersalah dan meminta maaf. Kemudian Kak Aditya pun berkata. “Ini bukan salah Ibu, kepergian mereka bukanlah salah siapa-siapa. Mereka bahkan sangat senang karena mereka sudah berhasil menjalankan tugas mereka sebagai the indigo,”


Ibu pemilik Villa Merah ini pun terlihat sedikit lebih tenang dan kemudian dia pun berjanji untuk membiayai yayasan Rumah Batin untuk segala hal yang dibutuhkan sebagai penebusan jasa-jasa paranormal yayasan Rumah Batin.


“Terima kasih Bu, itu tidak perlu, kami menjalankan tugas ini dengan sepenuh hati kok Bu,” ujar Kak Amara menolak tawarannya namun Ibu itu memohon kepada Kak Amara untuk menerima pemberiannya, karena jika Kak Amara tidak menerimanya maka Ibu itu akan dihantui oleh rasa bersalah seumur hidupnya.


Mendengar ucapan Ibu pemilik Villa Merah itu pun, Kak Amara langsung merasa iba dan kemudian dia menghampiri kami untuk berdiskusi dan keputusan kami pun pada akhirnya adalah menerima tawaran dari Ibu itu, supaya tidak ada rasa bersalah yang menghantuinya.


Ibu itu merasa tenang dan senang ketika mendengar keputusan kami dan kemudian kami pun diamankan oleh pihak polisi agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan para jurnalis yang hadir untuk menyebarkan berita di luar nalar ini.


Untuk menjaga keamanan kami, Ibu pemilik Villa Merah ini pun menjawab pertanyaan-pertanyaan para jurnalis tentang kejadian di luar nalar. Bahkan Ibu itu juga memberikan beberapa bukti menyeramkan kejadian ini melalui rekaman CCTV. Tentunya itu semua atas izin kami. Kami biarkan video itu menyebar untuk membuktikan bahwa Villa Merah ini sudah aman dari energi jahat dan sudah bisa kembali di kunjungi.


Sebelum kami di bawa pergi diam-diam, kami sempat melihat para jasad yang di bawa oleh para medis. Mereka tidak akan diotopsi karena penyebab kematian mereka sudah jelas. Jasad mereka akan di bawa ke pemakaman terdekat dan proses penguburan mereka akan dilaksanakan di dekat pemakaman itu. Kami tidak bisa ikut serta dalam pelaksanaan pemakaman itu karena kami benar-benar harus beristirahat dari semua kelelahan yang sudah kami dapat selama menghadapi manusia iblis itu.


Kami tetap pulang menggunakan bus yayasan yang ternyata berada jauh dari kawasan Villa Merah dan hutan Sirno. Pihak staf Villa Merah yang memindahkannya sekali lagi itu adalah upaya untuk menyelamatkan kami dari pertanyaan-pertanyaan para jurnalis. Untuk menuju ke bus yayasan, kami di antar oleh mobil polisi dengan sangat rahasia.


“Terima kasih ya Pak,” ucap Kak Aditya kepada polisi yang mengantarkan kami.


“Sama-sama, saya turut berduka cita ya,” jawab polisi itu sambil menepuk-nepuk pundak Kak Aditya dan lalu setelah polisi itu pun berpamitan untuk kembali ke Villa Merah. Kehadiran para polisi itu bukanlah untuk penyelidikan para korban, namu untuk menjaga ke aman Villa Merah agar tidak terjadi kegaduhan para reporter di sana.


“Halo!” ucap Kak Amara sambil meletakkan telepon di telinganya. Dia di telpon oleh pihak Villa Merah yang memberi tahu kalau barang-barang kami akan di antar oleh mereka dengan segera. Kami di suruh pulang duluan karena nanti pihak Villa Merah akan datang mengantarkan barang kami dengan beserta dana-dana dari Ibu pemilik Villa Merah itu.

__ADS_1


Dengan rasa sedih, kami naik ke bus yayasan untuk segera kembali ke yayasan. Tiba-tiba kami semua merasa gelisah pada saat kami ingin meninggalkan kawasan Alas Sirno.


“Kini kita tinggal tersisa enam orang lagi,” ucapku sambil menangis. Kemudian kami duduk di bangku masing-masing karena bus kami akan mulai berjalan.


“Siapa bilang kalian tinggal enam orang?” tiba-tiba suara Verel terdengar meresponku. Aku dan yang lainnya pun heran dan kemudian kami pun melihat ke belakang.


“Kalian…” ucapku dengan banjir air mata, tiba-tiba saja semua bangku bus di penuhi oleh arwah-arwah mereka yang sudah tiada. Kami semua kaget melihat kehadiran mereka.


“Aditya, tunggu apa lagi? Ayo kita pulang,” ucap Eyang Darmo yang duduk di belakang kursiku dan kemudian Kak Aditya terharu dan meneteskan air matanya ketika mendengar perintah dari arwah Eyang Darmo.


“Siap Eyang,” jawab Kak Aditya dengan senyuman dan kemudian dia pun mulai menjalankan mobil, kami akan kembali ke yayasan bersama-sama.


“Teman-teman, kami akan bersama kalian sampai di yayasan dan ketika kita sudah sampai di sana maka kami akan pergi ke alam selanjutnya,” ucap Klara dengan senyuman, dia duduk di kursi sebelah kananku.


“Yahh jangan pergi lagi dong, nanti Gita jadi sedih.,” ucap Gita menolak ucap Klara.


“Iya Gita jangan sedih sedih ya! Gita harus ikhlas dengan kepergian kami supaya kami bisa tenang, suatu saat nanti kita bakalan kumpul bareng lagi kok,” terdengar suara Eyang Darmo menguatkan Gita sehingga akhirnya Gita pun sedikit merasa lebih tenang.


Selagi mereka masih bersama kami, kami pun terus berkomunikasi menghabiskan waktu yang sangat berarti ini bersama arwah mereka yang akan segera pergi ke alam selanjutnya. Mereka banyak sekali memberikan pesan dan nasihat kepada kami yang masih hidup dan kami pun menyimak pesan dan nasehat mereka dengan konsentrasi penuh.


Pokoknya kami menghabiskan waktu berharga ini dengan sangat baik sehingga pada saat kami tiba di yayasan Rumah Batin, kami pun bisa mengikhlaskan kepergian mereka. Sebelumnya kami pergi ke aula terlebih dahulu dan menunggu arwah mereka yang berjalan-jalan melihat sekeliling yayasan Rumah Batin untuk yang terakhir kalinya. Kemudian mereka kembali ke aula untuk berpisah dengan kami.


Mereka pergi dengan menghampiri kami satu persatu dan memberikan pesan kepada kami lalu mereka pun pergi.


“Dada semuanya! Aku gak sabaran nyusul kalian!” ucap Gita dengan girang.


“Eh Gita, jangan ngomong seperti itu,” ucap Riana sambil menutup mulut si Gita dan kemudian mereka pun benar-benar pergi untuk selama-lamanya.


“Huh! Lelahnya! Adik-adik sekarang kalian semua harus beristirahat ya. Pasti kalian lelah,” ucap Kak yang terlihat ceria.

__ADS_1


“Baik Kak,” jawab kami bersamaan dan kemudian kami pun pergi ke kamar masing-masing untuk segera beristirahat. Dan keesokan harinya, kami menjalankan hidup seperti biasa hingga akhirnya waktu sekolah pun telah tiba.


Sebelum berangkat ke sekolah, aku sempat mengetuk semua pintu kamar untuk mengajak teman-teman yang lainnya untuk bersiap-siap ke sekolah namun setelah aku turun aku pun sadar bahwa mereka sudah tiada.


Aku tidak tahu berapa lama waktu untuk mereka hilang dari ingatanku, aku masih suka lupa kalau mereka sebenarnya sudah pergi ke alam selanjutnya. Sebenarnya tak hanya aku yang merasakan itu, Kak Amara dan yang lainnya juga merasakan hal yang sama.


Untuk urusan arwah penasaran di sekolahku dan di sekitar kampung Gantung dapat kami—Aku dan Riana—selesaikan dengan mudah. Kami hanya tinggal memberi tahu kepada para arwah penasaran tersebut bahwa para kolonel yang telah membantai mereka dulu sudah di musnahkan oleh salah satu gadis yang selamat dari para kolonel itu, gadis itu berasal dari desa-desa Jagat Baru, namanya Sri Wahyuni.


Mendengar penjelasan kami berdua mereka pun tidak ragu, dan kemudian mereka pun juga pergi ke alam selanjutnya karena rasa penasaran mereka telah terpecahkan.


Kami berdua juga sempat bertemu dengan tiga Noni-Noni Belanda dan mereka sangat berterima kasih kepada kami. Mereka bertiga menjelaskan bahwa sebenarnya mereka tidak pernah berniat jahat kepada murid-murid sekolahku, mereka hadir hanya untuk melindungi murid yang sedang di hasut oleh arwah penasaran para warga desa jagat baru untuk gantung diri.


Kehadiran mereka akan menyelamatkan murid yang terhasut godaan untuk gantung diri dari para arwah yang matinya di gantung. Kini mereka akan pergi karena mereka sudah tidak perlu lagi menampakkan diri. Mereka tertahan di bumi karena mereka harus menyelamatkan manusia yang dihasut untuk gantung diri dan karena para arwah yang suka menghasut kini sudah tidak ada lagi, mereka bertiga pun bisa pergi meninggalkan bumi ini dan pergi ke alam selanjutnya.


Setelah kejadian-kejadian yang telah kami lewati, kami pun mendapatkan banyak sekali pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan, dan seiring berjalannya waktu kami pun bisa melupakan mereka yang sudah tiada dan hidup normal seperti biasanya.


Huh! Inilah kehidupan, ketika kita mengenal kita harus ikhlas melupakan. Ketika kita berjumpa kita harus siap meninggalkan atau bahkan ditinggalkan.


Waktu terus berjalan dan kita tidak bisa melihat apa yang terjadi di waktu yang akan datang. Walaupun aku anak indigo, bukan berarti aku bisa melihat masa depan. Aku hanya bisa melihat mereka yang tidak semua orang dapat melihatnya dan aku juga bisa mengunjungi masa lalu seseorang.


Aku juga manusia dan pastinya aku tidak sempurna.


Aku hanya bisa berharap apa pun yang terjadi di masa yang akan datang tidak seburuk masa-masa yang sudah aku lalui. Aku harap kerapuhan yang telah aku alami usai dan digantikan dengan cerahnya masa depan.


Aku mengakhiri cerita ini dengan berberat hati namun aku harap, aku bisa melanjutkannya nanti jika Anda hal yang sangat menarik untuk diceritakan.


Aku… Airin Kanyasara mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2