![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Pada saat setibanya kami di aula, hanya Varel dan Bagas yang ada di dalamnya, ini berarti hanya mereka lah yang berhasil melewati permainan Daruma San dan selebihnya telah pergi dibawa oleh sosok penunggu permainan tersebut.
“Bagas! Varel!”
Aku memanggil mereka sambil membatu Riana untuk berjalan.
“Riana!” ucap mereka setelah menoleh ke arah kami berdua. Mereka khawatir melihat keadaan si Riana.
Kemudian Bagas dan Varel datang menghampiri kami dan Bagas membantu Riana berjalan sedangkan Varel membantuku untuk berjalan.
“Aku gak papa kok,” ucapku kepada Varel ketika dia hendak membantuku.
“Udah ayo ikut aja!” ajaknya yang kemudian dia pun mengendongku.
Pikiran romantis tidak sedikitpun terlintas di kepalaku karena kami sedang berada di dalam keadaan genting.
Varel menggendongku menuju tempat yang dituju oleh Bagas yang membawa Riana. Kami duduk bersama-sama di dekat tangga panggung aula.
“Aduh!” rintih Riana yang merasakan sakit di kepalanya yang tadi terbentur ke keran air bathub.
“Pelan-pelan,” ucap Bagas sambil membantu Riana untuk duduk.
Varel juga menurunkanku di tempat yang sama dan kemudian kami pun duduk bersama.
“Kemana yang lainnya? Kok gak pada ngumpul sih,” tanya Bagas dengan polos.
“Iya nih pada ke mana yang lainnya Rin?” sambung Varel bertanya kepadaku.
“Hiks... hiks… hiks…” aku menangis mendengar pertanyaan mereka. Aku takut mereka akan marah kepadaku karena aku lah yang membela Key untuk menyelenggarakan permainan terkutuk ini.
“Kamu kenapa nangis Rin?” tanya Varel dengan penuh perhatian
“Jangan bilang sesuatu yang buruk telah menimpa mereka!” timpa Bagas dengan nada tinggi.
“Bagas jangan bicara dengan nada keras kepadanya!” ucap Riana kepada Bagas.
“Kamu benar! Telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, teman-teman kita yang tidak berkumpul kembali di aula ini telah dibawa pergi ke alam gaib oleh sosok penghuni permainan ini,” jelas Riana dengan detail.
__ADS_1
“Bagaimana bisa?” tanya Bagas dengan kecewa.
“Mereka telah melanggar aturan permainan,” sautku sambil menangis. Bagas melihat ke arahku dan dia kelihatan sangat marah setelah aku menjawabnya tadi.
“Diam! Jangan menangis gadis cengeng!” bentak Bagas kepadaku.
“Maaf!” kataku dengan lirih dan aku sangat merasa bersalah
“Tangisanmu tidak akan mengembalikan semuanya!” bentaknya lagi.
Aku berhenti menangis dan menundukkan pandanganku. Aku merasa sangat bersalah karena aku juga termasuk biang dari kejadian ini.
“Kamu dan temanmu itu adalah penyebab kejadian yang tidak diinginkan ini!” dia terus menerus memarahiku dan kali ini dia menunjukku.
“Bagas jangan seperti itu!” ucap Riana dengan lembut dengan maksud menenangkan Bagas dari amarahnya.
Namun Bagas tidak mendengarkan perkataan Riana, Bagas terus terusan memarahiku dan menyalahkanku
.
Kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat menyayat hati dan aku sangat merasa terpukul dan semakin merasa bersalah.
Riana menampar Bagas karena dia tidak kunjung diam. “Apa yang kamu dapatkan dari makianmu kepadanya? Apakah semuanya akan kembali baik-baik saja dengan memakinya?” bentak Riana kepada Bagas.
Sontak aku dan Varel kaget melihat Riana menampar dan bahkan dia juga memarahi Bagas. Riana yang terkenal pendiam ternyata bisa mengeluarkan amarah sebesar ini.
Bagas pun kemudian bangkit dan pergi meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun.
“Gas kamu mau ke mana?” tanya Varel. Bagas pun berhenti sejenak.
“Mau pergi ke kamar!” jawab Bagas dengan dingin dan kemudian dia pun pergi melanjutkan langkahnya.
“Mau kutemani?” Varel kembali bertanya kepadanya yang sudah selangkah keluar dari pintu Aula.
Bagas berhenti sejenak dan menjawab kalau dia sedang ingin menyendiri dan kemudian dia pun melanjutkan berjalan menuju kamarnya.
“Kamu jangan simpan kata-katanya di dalam hati,” kata Riana sambil menghampiriku dan kemudian dia pun memelukku.
__ADS_1
“Amarahnya tidak bertahan lama kok Rin! Mungkin sebentar lagi dia akan meminta maaf kepadamu,” kata Varel menyambung perkataan Riana yang bermaksud menenangkanku.
“Ini memang salahku kok! Aku akan bertanggung jawab atas kejadian ini,” jawabku dengan tegar.
“Udah Rin! Jangan suka menyalahkan diri! Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama,” ucap Riana sambil tersenyum. Aku juga ikut tersenyum mendengar kata Riana dan melirik ke arah Varel yang juga tersenyum.
Di dalam keadaan genting seperti ini mereka tetap tenang dan tidak mau menyalahkanku.
“Riana! Jidatmu memar dan berdarah,” kata Varel dengan khawatir, dia baru saja menyadari kalau ada luka di jidat Riana.
“Tunggu sebentar ya!” kata Varel dan kemudian dia berjalan menuju ruang yang berada dibalik panggung aula dan tanpa menunggu lama Varel kembali dengan membawa kotak P3k yang berisi obat-obatan.
Dia memberikannya kepadaku dan kemudian dia kembali masuk ke ruangan untuk mengambil kasur ringan untuk tempat berbaring Riana.
Riana berbaring di atas kasur, kemudian aku dan Varel membersihkan lukanya terlebih dahulu dengan menggunakan kapas yang dibasahi oleh alkohol sebelum membalut kepalanya dengan perban.
Setelah kami selesai membalut perban ke kepala Riana, Varel pun kembali menanyakan tentang apakah pelanggaran yang dilakukan oleh teman-teman yang lainnya sehingga mereka bisa dibawa pergi oleh sosok hantu penunggu permainan tersebut.
Aku pun menjawab tidak tahu karena Keyla tidak memberi tahu kalau ada sesuatu yang tidak boleh dilakukan di dalam permainan ini dan aku juga tidak pernah bermain permainan ini sebelumnya.
Akhirnya kami pun memecahkan pertanyaan itu dengan cara mencari handphone Keyla dan ketika kami menemukan handphonenya, kami pun mencari artikel yang di bacanya.
“Nah, ini dia,” aku menemukan artikel tersebut dan aku pun membacakannya.
“Ketika kamu merasakan kehadiran sesuatu dibalik badanmu! Kamu dilarang menoleh ke belakang,”
“Mungkin itu yang mereka lakukan,” timpa Riana dengan yakin.
Kami pun mengangguk dan kemudian kami memutuskan untuk meminta pertolongan kepada para pengasuh.
Tok tok tok.
Kami mengetuk pintu kamar pengasuh namun kami merasa bingung ketika membuka pintu kamar mereka karena mereka tidak berada di dalam kamar mereka masing-masing. Mereka semua entah pergi ke mana kami tidak tahu.
Kemudian kami pun memutuskan untuk beristirahat di kamar yang bersebelahan.
Sebelum tidur, Riana menyalin bajunya yang lembab begitu juga denganku. Bagas pun telah kembali dari kamarnya dan dia tidur di kamar Riana bersama Varel. Sedangkan Riana tidur bersama denganku di kamar.
__ADS_1
Rencananya kami akan memecahkan masalah ini besok pagi. Kami terpaksa memecahkan misteri ini tanpa bantuan dari pengasuh yang hilang secara misterius
Bersambung