![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Hahaha,” tawa kedua anak kecil yang sedang bersuka ria bermain kejar-kejaran di depan seorang ibu paruh baya yang sedang memanggul bakul di pinggang kanannya.
Aku berdiri di bawah pohon besar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari setapak jalan yang dilewati oleh mereka.
“Ibu, tunggu!” seruku memanggilnya dengan maksud untuk ikut bersamanya.
Dia yang mendengar suaraku pun langsung melihat ke arahku dan berhenti sejenak, anaknya juga ikut berhenti dan mendekati Ibunya, mereka melihat diriku dengan raut wajah yang kebingungan.
Aku pun berlari menghampiri mereka dan sesampainya aku di hadapan mereka, sang Ibu pun langsung bertanya kepadaku.
“Nduk, kok kamu main-main di hutan sendirian?” tanya Ibu itu kepadaku dan pertanyaan itu membuatku bingung.
“Apa yang harus ku jawab?” gumamku dengan bingung karena aku tahu bahwa ketika aku masuk ke dalam masa lampau seseorang maka aku akan hidup sebagai orang itu.
“Ya udah gak usah di jawab to Nduk, jadi sekarang apa yang bisa Mbok bantu?” ucap Ibu itu sambil tersenyum ramah.
“Bolehkah saya ikut Ibu? Saya tersesat,” aku menjawab dengan reflek dan sebenarnya aku bingung ingin menjawab apa, tetapi aku tidak tahu mengapa tiba-tiba saja mulutku ini berbicara.
“Oh kamu tersesat ya Nduk? Loh kok nggak ngomong dari tadi! Yo wes ayo ikut Mbok!” Ibu itu menerimaku dengan ramah dan kemudian aku pun mengikutinya.
“Nduk asal mana to? Kok bisa tersesat di hutan belantara seperti ini?” tanya Ibu itu kepadaku dengan logat Jawa membuatku kembali bingung harus menjawab apa.
“Saya dari berasal dari desa Desa Jagat Baru, Bu!” jawabku lagi dengan reflek, aku benar-benar tak terpikirkan untuk menjawab pertanyaan dari Ibu itu dan sebenarnya aku juga tidak tahu harus menjawab apa.
“Oh dari Desa Jagat Baru ya? Sepupu Mbok juga tinggal di sana lo Nduk!” tanggap Ibu itu dengan ramah.
“Desa Jagat Baru? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu,” gumamku sambil berpikir untuk mengingat tentang Desa itu.
“Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa kesasar sampai kemari Nduk? Desa Jagat Baru dengan hutan ini jaraknya sangat jauh loh Nduk!” Ibu yang ramah ini kembali mengajakku berbicara untuk bertanya kepadaku.
“Hiks hiks hiks,” tiba-tiba aku menangis tersedu-sedu, tak tahu kenapa aku menangis, tapi tiba-tiba saja hatiku terasa sangat resah. Hatiku gundah sama seperti waktu aku kehilangan kedua orang tuaku.
“Loh kok malah nangis to Nduk? Maafin Mbok ya, kalau pertanyaan Mbok membuat Nduk sedih,” Ibu itu merasa bersalah karena dia melihatku bersedih karena pertanyaannya.
“Ndak papa Bu,” ucapku sambil berusaha untuk tegar.
__ADS_1
Emosi yang kurasakan saat ini benar-benar di luar dugaan. Sepertinya aku benar-benar menjadi sosok yang merasukiku tadi. Aku menjadi dirinya di masa lampau.
“Yeey! Dewek wis tekan umah Mbok!” seru kedua anak dari Ibu itu dengan gembira ketika kami sudah memasuki pemukiman penduduk. Mereka berdua berseru menggunakan bahasa Jawa yang bisa diartikan ‘Kita sudah sampai di rumah Bu!’ kurang lebih seperti itu.
Hari sudah mulai sore dan warga pun terlihat antusias untuk menyelesaikan pekerjaan mereka di luar rumah.
“Mbak Iki sopo to? Kok raine kaya bar mewek,” seorang Ibu penduduk desa ini menghampiri kami dan bertanya kepada si Ibu yang bersama ku dengan menggunakan bahasa Jawa. ‘Mbak ini siapa? Kok wajahnya seperti baru saja menangis?’ itu adalah arti dari pertanyaan bahasa Jawa yang di ucapkan oleh Ibu yang menghampiri kami tadi.
“Aku be ora ngerti. Miki de’e nyeluki aku neng pinggir dalan sing neng tenga utan, jerene de’e soko Desa Jagat Anyar,” jawab Ibu yang bersamaku kepada Ibu yang menghampiri kami tadi. ‘Saya juga tidak tau, tadi dia memanggil saya di pinggir jalan yang di tengah hutan, katanya dia dari Desa Jagat Baru,’ itu adalah arti dari jawaban Ibu yang bersamaku. Yang awalnya menggunakan bahasa Jawa.
“Oh ngono to Mbak. Yo wes tak bali sek yo!” saut Ibu yang menghampiri kami tadi dan kemudian dia pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya.
Begitu juga kami, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju ke kediaman keluarga Ibu yang bersamaku.
“Oh iya Nduk, Mbok lupa…” ucap Ibu itu di ketika baru satu langkah kami hendak melangkah untuk melanjutkan perjalanan.
“Lupa apa Bu?” tanyaku dengan bingung.
“Mbok lupa bertanya tentang siapa namamu to Nduk?” Ibu itu tersenyum dan menanyakan namaku.
“Oh nama saya Sri Wahyuni, Bu!” jawabku dengan singkat dan kemudian Ibu itu pun mengangguk.
“Nama Mbok Hamidah, kamu panggil Mbok Hamidah aja ya Nduk,” ucap Ibu itu memperkenalkan dirinya kepadaku, aku hanya mengangguk dan tersenyum dan kemudian kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju kediamannya.
“Kita sudah sampai di rumah Mbok , Nduk. Silahkan istirahat dulu di kamar Mbok biar kamu bisa merasa lebih baik lagi. Setelah kamu merasa lebih baik nanti, kamu bisa menceritakan awal mula kenapa kamu bisa tersesat sampai ke tengah hutan tadi,”
Mbok Midah menyuruhku untuk beristirahat agar aku bisa merasa lebih baik lagi sampai aku bisa menceritakan awal mula kenapa aku bisa sampai ke tengah hutan tadi.
“Mbak iku sopo to Mbok?”
Dalam perjalananku menuju ke alam mimpi aku mendengar anak perempuan dari Mbok Midah bertanya dengan bahasa Jawa yang artinya, ‘Siapakah Kakak itu Bu?’ Kakak yang dia maksud itu adalah aku. Mbok Midah pun memperkenalkan aku kepada anaknya dengan secara tidak langsung.
Kemudian aku pun dengan perlahan lenyap pergi ke alam mimpi. Di alam mimpi aku bangun di suatu kebun sayur sayuran. Aku membawa keranjang kosong dan kemudian aku pun tergerak untuk mengambil sayur-sayuran itu.
“Ini lebih dari cukup,” ujarku setelah keranjangku sudah terisi cukup penuh.
__ADS_1
Kemudian aku pun bangkit dan kemudian aku pergi meninggalkan kebun sayuran itu. Aku merasa aku harus bergegas untuk kembali ke Desaku.
Aku berjalan dengan cepat hingga kemudian akhirnya aku sudah cukup dekat dengan kampungku.
“Lepaskan Noni-Noni Belanda itu!” suara orang asing terdengar mengancam. Perasaanku tidak enak dan aku pun memutuskan untuk bersembunyi dan mengendap-endap untuk berjaga-jaga jika perasaanku ini berkata benar.
“Bu’e,” ucapku menangis ketika aku melihat banyak orang yang di gantung mati dan mataku hanya tertuju ke arah seorang Ibu yang rasanya Ibu itu adalah Ibuku.
Aku ingin berteriak tetapi aku melihat ada kolonel Belanda yang sedang menodongkan senapan angin mereka kepada tiga orang pria yang sepertinya mereka hendak membunuh tiga gadis perempuan berkulit putih. Mereka bertiga masing-masing merangkul satu gadis berkulit putih itu dan juga meletakkan senjata tajam di leher gadis itu.
“Mas Parman, Mas Sigit, dan pakde Karto!” ujarku dengan kaget ketika melihat ketiga orang yang menodongkan pisau ke leher wanita berkulit putih itu.
“Aaa!” mereka bertiga teriak setelah melihat ke arah para warga yang sudah tergantung mati.
Dor! Dor!
Kolonel itu pun membidik mereka dan kemudian mereka langsung menembakkan senapan angin tersebut ke kepala tiga pria tadi. Kolonel itu tidak menang, karena dengan bersamaan juga, tiga pria yang di tembak tadi memenggal leher ketiga wanita berkulit putih itu.
“Emmm…” aku kembali ingin teriak dan kemudian aku menutup mulutku dengan kedua tangan agar suar ku tidak di dengar oleh colonel-kolonel itu.
“Aaaaaaa!”
Dor! Dor!
Kolonel-kolonel itu terlihat marah dan kecewa karena mereka tidak dapat menyelamatkan tiga gadis berkulit putih itu. Mereka melampiaskan amarah mereka dengan menembakkan senjata mereka dengan brutal.
Kemudian aku pun merasa bahwa aku harus menyelamatkan diri dari amukan para kolonel itu. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan desa itu.
“Aduh,” aku tidak sengaja menendang batu dan mengeluarkan suara yang cukup keras sehingga terdengar oleh para kolonel itu.
“Siapa di sana?” seru mereka dan kemudian mereka pun terdengar berlari mengejarku. Aku pun terus berlari walaupun kakiku sakit.
Pada akhirnya aku pun tak ada pilihan lain selain melompat ke dalam jurang. Karena mereka tak ada jalan lain, dan aku sudah dikepung oleh para kolonel Belanda itu. Aku pun memutuskan melompat ke jurang sebelum mereka menembakku.
“Aaaaa,” teriakku dengan penuh rasa takut dan emosional.
__ADS_1
“Aw!” perutku membentur ke batang kayu hingga membuatku pingsan dan bersamaan dengan saat itulah aku pun bangkit dari tidurku.
Bersambung