The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.41 Terlanjur tidak sadarkan diri


__ADS_3

“Haaaaa ha haaaa…”


Para patung itu bernyanyi dan kami pun harus berhenti bergerak dan bergaya seperti patung. Ketika patung itu berhenti bernyanyi baru kami melangkah mendekati patung yang kami tuju masing-masing.


Kami terus seperti itu. Kami melangkah dengan sangat perlahan karena harus waspada, sebab kapan patung itu berhenti kami tidak bisa memprediksikan. Intinya dalam permainan ini kami harus sangat berwaspada.


Di dalam permainan ini kami diperbolehkan untuk berkomunikasi, yang masuk ke dalam kategori pelanggaran hanya ketika ada yang bergerak pada saat patung berhenti bernyanyi.


Riana sempat hampir tidak mematung ketika sang patung berhenti bernyanyi, namun ketika dia menyadarinya dia pun segera mematung.


Aku penasaran apa yang akan terjadi jika ada salah satu dari kami yang melanggar peraturan permainan, aku penasaran apa yang dilakukan patung itu kepada seseorang yang melanggar.


Aku dan yang lainnya terus melangkah mendekati patung itu dan akhirnya aku menjadi yang pertama kali mengalungkan Kalungku ke leher patung malaikat. Kurang lebih aku membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mengalungkan Kalungku ke leher salah satu patung malaikat dan seketika patung malaikat yang kukalungkan itu berhenti bernyanyi dan tidak lagi bergerak.


Dan kemudian yang lainnya pun menyusul untuk mengalungkan Kalung leher patung yang lainnya.

__ADS_1


“Huh...” kami masing-masing menghembuskan napas lega setelah berhasil mengalungkan kalung ke leher patung malaikat tersebut.


“Haaaa ha haaa..” tersisa satu lagi patung yang tidak mendapatkan kalung dan tetap bernyanyi.


Kami semua melihat ke arah Bagas yang mana dia akan mengorbankan dirinya agar kami bisa melanjutkan perjalanan kami untuk menyelesaikan permainan yang sangat buruk ini.


Dia akan mengorbankan dirinya untuk patung malaikat yang berdiri di tengah-tengah, di antara ke empat patung lainnya. Patung ini terlihat sangat berbeda dari ke empat patung yang lain. Patung ini terlihat lebih besar dan sedikit lebih indah di bandingkan ke empat patung yang lainnya.


“Apa yang kalian lihat?” tanya Bagas dengan bingung dan kemudian kami pun hanya diam seribu bahasa menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Haaaaa ha haaaa…” patung itu kembali bernyanyi dan dengan cepat mengubah suasana menjadi kembali menegangkan.


“Kini saatnya aku pergi,” ucap Bagas dan kemudian dia beranjak dari tempatnya berlari menuju patung yang berada di tengah-tengah.


Dia berhenti tepat di depan patung malaikat itu dan kemudian patung malaikat itu pun berhenti bernyanyi.

__ADS_1


“Iiii hi hi hi..” patung itu tertawa dan kemudian dia pun mengulurkan kedua tangannya ke arah Bagas. Lalu Bagas pun terbang dengan cepat dan hinggap di pelukan patung itu.


“Bagas!” teriak kami histeris dengan bersamaan ketika Bagas hinggap di pelukan patung malaikat tersebut. Kami refleks memanggilnya dengan diiringi air mata juga.


Keempat kalung yang kami kenakan kepada ke empat patung malaikat pun mengeluarkan cahaya laser dari liontin menuju patung yang berada di tengah-tengah.


Dar...


Semua patung pun tiba tiba meledak dan membuat aku, Riana dan Varel terpental. Kami membentur tembok dan pada saat kami jatuh kembali ke lantai, lantai pun langsung hancur dan kami jatuh bersama kepingan lantai yang hancur masuk ke dalam air.


Karena aku merasa sangat lemas setelah terpental tadi, aku pun langsung pingsan di dalam kolam itu. Aku terlanjur tidak sadarkan diri, sebelum aku bisa keluar dari dalam air yang sangat dalam dan gelap gulita ini. Aku melihat kepingan-kepingan lantai yang berjatuhan di sekitarku sebelum akhirnya mataku terpejam pingsan.


Bersambung......


Ilustrasi Patung malaikat yang berada di posisi tengah

__ADS_1



__ADS_2