![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Hai teman-teman!” Klara menyapa kami berdua yang sedang duduk menceritakan kisah tentang cerita masa lalu dari Riana.
“Cie udah akrab ni ya,” sambung Friska dengan nada usil.
“Nih kita bawain makanan buat kalian berdua,” kata Klara sambil menyuguhkan dua kantung plastik yang berisi makanan ringan.
“Wah terima kasih ya Klara, Friska!” jawabku berterima kasih kepada mereka berdua.
“Sama-sama,” jawab mereka sambil tersenyum.
Kemudian mereka pun duduk bersama kami dan ikut bercerita sambil menunggu jam pelajaran ketiga masuk.
Kring…
Setelah lima belas menit berlalu, bel pun berbunyi. Itu bertanda jam pelajaran ketiga akan dimulai. Murid-murid mulai masuk ke kelas dengan berbondong-bondong lalu mereka duduk di bangku mereka masing-masing.
“Selamat siang anak-anak,” sapa guru laki-laki saat masuk ke dalam kelas.
“Siang Pak,” jawab kami dengan kompak. Kemudian kami pun memulai pelajaran.
“Tunggu sebentar!” guru laki-laki itu melihat ke arah.
“Ada apa Pak?” tanya salah satu murid.
“Kok kaya ada yang berbeda ya? Perasaan si Riana duduk sendiri,” jawab guru laki-laki itu dengan nada yang penuh dengan canda.
“Perkenalkan Pak! Ini teman baru saya pindah dari kota,” Klara berdiri dan memperkenalkan diriku kepada guru laki-laki itu.
“Oh begitu, lebih baik sekarang kamu memperkenalkan dirimu kepada Bapak,” pinta guru laki-laki itu kepadaku dengan senyuman.
“Cukup perkenalkan dirimu di situ saja,” kata guru laki-laki itu kepadaku yang baru saja menggeser bangku dan hendak maju ke depan untuk memperkenalkan diriku.
“Oh baiklah Pak,” jawabku dengan singkat dan kemudian aku memperkenalkan diriku kepadanya dan kemudian kami pun memulai jam pelajaran dengan penuh keceriaan.
Kring...
Bel berbunyi setelah dua jam pelajaran berlalu menandakan waktu pulang telah tiba.
“Riana, Airin, Ayo berkemas-kemas! Kita harus berkumpul di halte sekolah dan berkumpul bersama teman-teman yayasan yang lainnya,” Friska menyuruh kami untuk berkemas-kemas.
“Udah nih,” jawabku setelah berkemas-kemas.
“Kalau kamu Riana? Apakah kamu sudah siap berkemas-kemas?” tanya Friska kepadanya. Riana pun hanya menganggukkan kepalanya untuk memberi tahu kalau dia sudah selesai berkemas.
“Ya sudah yuk kita ke halte,” ajak Klara kepada kami setelah dia tahu kalau kami telah selesai berkemas-kemas.
Kemudian kami pun melangkah menuju ke halte dan di sepanjang perjalanan kami menuju halte, kami berbincang-bincang seperti layaknya gadis gadis SMA yang lainnya.
“Rin kamu beruntung ya!” kata Friska kepadaku dalam perjalanan menuju halte.
__ADS_1
“Beruntung kenapa?” tanyaku kepadanya.
“Kedatanganmu di sekolah ini disambut dengan baik oleh siswa-siswi yang ada di sekolah ini,” jawab Klara dengan nada menyanjungku.
“Ah kalian bisa saja!” jawabku tersipu malu.
“Ehe ehem...”
Suara batuk seseorang terdengar dari belakang kami dan membuat kami penasaran dan kemudian kami pun berbalik badan. Kami melihat tiga wanita yang tinggi.
“Siapa bilang seluruh siswa-siswi di sini menyambut kedatanganmu dengan baik?” kata wanita yang berdiri di tengah.
“Kok kalian ngomong gitu sih,” tanya Klara kepada mereka.
“Diam aneh! Kami tidak bicara denganmu!” jawab Tatik dengan jutek.
“Bacot lu sini lawan gwe!” Klara pun menghantam wajah Tatik.
“Ra! Sabar Ra! Udah!” aku dan Friska berusaha untuk menenangkan emosi Klara yang sedang meluap.
“Woi ada yang berantem nih!”
Suara seorang terdengar dan mengundang siswa-siswi lain menonton perkelahian antara Klara dan Tatik.
Sedangkan aku dan Friska tetap berusaha untuk memisahkan Klara dengan Tatik begitu juga kedua teman dari Tatik, mereka juga berusaha untuk memisahkan Tatik dengan Klara.
Suara laki-laki terdengar berusaha menerobos kerumunan orang-orang yang sedang menonton perkelahian antara Klara dan Tatik.
“Sudah! Sudah!”
Ternyata suara tadi berasal dari Bima dan Bagas, dia berhasil memisahkan pertengkaran antara Klara dan Tatik.
“Bubar! Bubar!” Bima membubarkan kerumunan siswa-siswi yang menonton pertengkaran.
“Wiki rusuh aja ni anak,” jawab kerumunan yang dibubarkan tadi seakan mereka tidak terima.
“Dasar gerombolan manusia aneh! Klara! Gwe tunggu lu di belakang kelas besok! Urusan kita belum kelar!” kata Tatik sebelum meninggalkan kami.
“Kamu apa apaan sih Ra!” tanya Bima kepada Klara dengan nada tinggi.
“Tahu ah,” jawab Klara dengan jutek lalu meninggalkan kami.
“Klara! Tunggu,” kata Friska lalu dia ikut pergi menyusul Klara.
“Riana! Kita susul mereka berdua yuk!” aku menarik tangan Riana dan mengajaknya untuk pergi menyusul Klara dan Friska.
“Maaf Friska, ngomong-ngomong kenapa si Tatik kelihatan sangat membenci kita?” tanyaku kepada Friska setelah aku berhasil menyusulnya.
“Maaf juga ni Rin! Kita bahasnya nanti aja ya!” jawab Friska sambil tersenyum.
__ADS_1
“Oh! Oke deh!” jawabku dengan singkat.
Kami semua sudah berkumpul di halte sekolah dan sekarang kami sedang menunggu bus yayasan datang untuk menjemput kami.
“Oh iya!” seruku setelah aku ingat kalau aku harus mengisi pulsa handphoneku.
“Kenapa Rin?” tanya Bagas kepadaku.
“Di dekat sini ada yang jualan pulsa gak yah? Soalnya aku butuh banget buat tau kabar dari kedua orang tuaku,” jawabku kepadanya.
“Oh gitu! Tulisan aja nomor handphonemu biar aku aja yang beli,” jawab Bagas dengan ramah. Kemudian aku membuka tas untuk mengambil selembar kertas dan pena untuk menuliskan nomor handphoneku.
“Ini nomornya,” aku memberikannya selembar kertas beserta uang untuk membeli pulsa.
“Oh gak usah, Biar aku aja yang belikan untukmu! Simpan saja uangmu untuk kebutuhan yang lainnya,” jawab Bagas kemudian dia mengembalikan uang itu kepadaku.
“Makasih ya! Aku kok jadi gak enakan ya!” aku tersipu malu.
“Tunggu di sini ya!” pesannya kepadaku.
“Oke,” jawabku dengan singkat.
Dia pun pergi menyebrangi jalan, untuk mengisi pulsa handphoneku dengan cuma-cuma. Setelah itu dia kembali dan berkumpul bersama kami di halte sekolah.
“Makasih ya,” ucapku padanya.
“Iya sama-sama,” jawabnya dengan senyuman manis yang membuat hatiku terpanah asmara. Aku merasa rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku bertanya-tanya apakah ini yang di namakan Cinta?
Tin tin…
Suara klakson mobil membuatku tersadar dari khayalan tentang cinta.
Krek.
Pintu bus terbuka.
“Ayo adik-adik naik ke mobil semuanya,” pinta Kak Aditya.
Aku sengaja masuk paling akhir karena aku dan Riana duduk di samping supir, agar tidak menghalangi jalan mereka yang duduk di belakang.
“Bisa gak?” tanya Bagas kepada Gita yang kesulitan untuk naik ke bus.
“Enggak Kak,” jawab Gita dengan singkat kemudian Bagas pun membantu Gita untuk naik ke bus. Entah kenapa aku sangat senang memandanginya.
“Ayo kita naik.”
Riana menarik tangan ku dan mengajakku untuk naik ke bus. Dia kembali menyadarkanku dari khayalan tentang cinta.
Bersambung
__ADS_1