The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.12 Back to school


__ADS_3

“Rin… Rin! Bangun.” Kak Amara membangunkanku yang masih tertidur pulas. “Rin! Apakah kamu sudah bisa berangkat sekolah?” tanya Kak Amara kepadaku dengan lembut.


“Apa? Sekolah?” aku kaget mendengar kata SEKOLAH.


“Iya sekolah! Kamu kok kaget?” Kak Amara bertanya dengan heran.


“Ya kaget lah Kak! Aku pasti siap kalau pergi sekolah, malahan aku pingin banget berangkat sekolah!” aku menjawabnya dengan girang karena aku sangat merindukan pelajaran di sekolah. Sudah hampir sebulan aku tidak masuk sekolah, hingga aku merasa sangat merindukan sekolah.


“Beneran kamu mau berangkat sekolah?” Kak Amara kembali bertanya kepadaku.


“Iya Kak!” jawabku dengan girang dan singkat.


“Apakah kamu sudah tidak berduka lagi?” tanya Kak Amara kepadaku, untuk memastikan bahwa aku sudah tidak berduka lagi.


“Justru dengan sekolah dapat membantuku lalai dari kerapuhan yang sedang kurasakan. Walaupun sebenarnya kerapuhan itu tidak akan hilang! Tapi setidaknya aku bisa melupakannya sejak,” jawabku dengan detail.


“Tadi malam kamu kerasukan, apakah kamu tidak merasakan sesuatu?” tanya Kak Amara lagi untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.


“Aku baik-baik saja Kak!” jawabku dengan singkat.


“Ya sudah, sekarang kamu mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ini seragam SMA untukmu,” akhirnya Kak Amara menyuruhku untuk bersiap-siap dan dia juga memberikanku seragam sekolah yang masih dibungkus di dalam plastik bening.


“Wah seragam sekolah! Terima kasih ya Kak!” Aku sangat senang karena mendapat seragam sekolah yang baru. Aku sangat berterima kasih kepada Kak Amara, aku memeluknya.


“Iya sama-sama!” jawabnya sambil tersenyum.


“Ya sudah Kakak dan kawan-kawan menunggumu di bawah ya!” Kak Amara keluar meninggalkanku.


Setelah Kak Amara pergi, aku langsung bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku mandi dengan terburu-buru, setelah itu aku keluar dari kamar mandi dan langsung mengeringkan badanku dengan handuk. Lalu aku mengenakan seragam sekolah dan mengambil perlengkapan sekolahku yang kubawa dari rumah.


Setelah aku selesai menyiapkan peralatan sekolah, kemudian aku bercermin dan memastikan bahwa aku sudah rapi dan siap untuk berangkat ke sekolah. Aku juga menyisir rambutku agar lebih rapi dan enak untuk di pandang mata.


Krek.


Aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Aku membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu.


Tok tok tok.


Aku mengetuk pintu ruang makan.


“Silahkan masuk,” Kak Marlina merespon ketukan pintu yang diketuk olehku.


Aku masuk ke dalam ruang makan dan kemudian aku duduk di bangku.


“Kak Marlina…” aku memanggilnya, dia sedang menyiapkan makanan untuk anak-anak yayasan.

__ADS_1


“Ya Rin! Ada apa?” Kak Marlina berbalik dan menjawab panggilan dariku tadi.


“Kak Marlina, kok ruang makannya masih sepi sih? Tadikan Kak Amara bilang kalau semuanya udah nunggu di sini,” aku bertanya dengan heran kepada Kak Marlina.


“Kamu yang terlalu cepat siap-siapnya! Tapi sebentar lagi udah pada datang kok,” jawab Kak Marlina sambil melanjutkan menyiapkan makanan untuk anak-anak yayasan.


“Oh gitu ya Kak,” kataku setelah mendengar jawabannya darinya.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuatku dan Kak Marlina melihat ke arah pintu.


“Siapa Kak?” aku bertanya kepada Kak Marlina.


“Paling juga anak-anak cowok,” jawab Kak Marlina dengan singkat.


“Silahkan masuk,” Kak Marlina pun mempersialkan mereka untuk masuk.


Krekk.


“Pagi Kak Marlina!”


Ternyata benar, yang mengetuk pintu tadi adalah anak laki-laki yayasan Rumah Batin ini. Mereka membuka pintu dan menyapa Kak Marlina.


“Eh ada cewek baru tu Gas! Hai cewek!” Salah satu dari mereka menyikut temannya yang sudah aku kenal. Dia menyenggol Bagas Prakoso lalu menggodaku.


“Hai juga,” jawabku dengan ramah dan memberikan senyuman manis kepadanya.


“Udah pada duduk di tempat masing-masing sana!” Kak Marlina menyuruh mereka untuk duduk di tempat mereka. Kak Marlina menyuruh mereka dengan jutek.


“La Kakak Sumo,” jawab Lelaki yang menyapaku tadi, dia jengkel dengan Kak Marlina.


“Apa kamu bilang?” Kak Marlina marah kepada lelaki itu.


“Ayo buruan cabut si Sumo marah!” seru lelaki tadi mengajak teman-temannya untuk ikut lari bersamanya karena Kak Marlina marah.


Semuanya ikut lari bersamanya, kecuali Bagas. Dia tetap berjalan dengan santainya. Aku suka dengan gaya yang di tunjukkan oleh Bagas. Dia terlihat tenang dan sangat cool.


“Kak? Kok setiap orang yang mau masuk harus ketuk pintu terlebih dahulu?” aku bertanya kepada Kak Marlina yang kembali menyiapkan makanan setelah dia marah kepada anak laki-laki yang usil tadi.


“Kakak juga kurang tau Rin, setau Kakak Eyang Darmo yang menyuruh kami agar mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan apa pun itu,” jawab Kak Marlina dengan detail.


“Oh gitu ya Kak,” kataku setelah dia menjawab pertanyaanku tadi.


“Kalau boleh tahu, nama cowok yang usil tadi siapa Kak?” aku kembali bertanya kepadanya, kali ini aku bertanya tentang nama anak laki-laki yang menggodaku tadi.

__ADS_1


“Oh Bima, dia memang gitu sih! Suka usil anaknya,” jawab Kak Marlina dengan singkat.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu kembali terdengar.


“Silahkan masuk,” Kak Marlina mempersembahkan mereka yang mengetuk pintu untuk masuk. Kali ini yang datang adalah para pengasuh dan kelima kawanku.


“Pagi Kak Marlina!” Kelima temanku menyapa Kak Marlina dengan ramah.


“Pagi para bidadariku!” jawab Kak Marlina dengan senyuman.


“Hi Rin! Pagi ini kamu terlihat bahagia ada apa gerangan?” Klara bertanya seolah merayuku.


“Iya nih! Kamu kelihatan cantik hari ini,” Friska ikut memujiku.


“Ah kalian terlalu berlebihan, aku biasa saja kok,” jawabku dengan pipi yang memerah karena mendengar pujian dari mereka.


“Tadi dia barusan di godain sama si Bima,” Kak Marlina menyambung pujian dari mereka.


“Cieee…” kata teman-temanku setelah mendengar pertanyaan dari ka Marlina.


“Apaan sih Kak!” aku merasa malu.


“Sudah-sudah, Makan dulu nanti lanjut bercanda di sekolah aja,” Bu Sofia lewat dan membuat suasana senyap seketika.


Kak Marlina langsung menghidangkan sarapan untuk kami dan setelah itu Gita berdiri untuk kembali memimpin doa sebelum makan setelah berdoa. Kami makan dengan sedikit candaan sampai akhirnya kami naik ke bus sekolah untuk berangkat ke sekolah.


“Ayo buruan!” Kak Aditya menyuruh kami untuk bersegera naik ke dalam bus sekolah.


“Tidak ada yang tertinggal, kan!” tanya Kak Aditya kepada kami, dia memastikan bahwa tidak ada di antara kami yang tertinggal.


“Tidak Kak! Semuanya sudah komplit,” jawab Bima dengan pasti.


“Ya sudah, semuanya duduk di tempat masing-masing karena mobil akan segera berangkat,” Kak Aditya memberikan arahan kepada kami.


“Baik Kak!” jawab kami dengan serentak.


“Are you ready?” tanya Kak Aditya kepada kami.


“We are ready,” jawab kami dengan serentak.


“Oke let’s go to school,” Kak Aditya pun mulai menjalankan mobil dan kami berangkat menuju sekolah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2