The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.62 Ritual pengakhiran


__ADS_3

Tok tok tok.


“Airin kamu sudah bangun?” tanya Kak Marlina kepadaku dari luar kamar.


“Sudah Kak,” jawabku dengan singkat dan kemudian aku pun duduk di kasur.


Kreek.


Kak Marlina masuk dengan membawakan sarapan pagi untukku. Dia menemaniku selama aku menghabiskan makananku dan setelah itu dia pun pergi untuk membawa piring dan gelas bekas aku makan tadi kembali ke ruang makan.


Ngomong-ngomong aku baru saja bangun tidur tepat di pukul tujuh pagi. Sekarang aku merasa lebih baik, walau begitu aku tidak bisa keluar kamar karena ketika aku keluar dari kamar sama dengan aku keluar dari Pagar Sukmo yang melindungiku dari gangguan anak kecil yang menyeramkan itu.


Aku hanya bisa berdiam diri di dalam kamar sehingga aku memiliki energi yang cukup agar aku bisa menjelaskan kepada Kak Amara tentang mimpi apa yang menghantuiku tadi malam.


Selang beberapa waktu kemudian Kak Amara pun datang dan bertanya kepadaku. “Hey Rin! Apakah kamu sudah siap untuk menceritakan tentang mimpimu tadi malam?” dia bertanya sambil tersenyum ramah kepadaku dan kemudian aku pun menarik napas sebelum aku menjawab pertanyaan darinya.


“Sudah Kak,” jawabku dengan singkat dan kemudian aku pun langsung menceritakan kronologi mimpi burukku yang terjadi tadi malam kepada Kak Amara dengan sangat rinci. Setelah aku bercerita baru Kak Amara menjelaskan maksud dari mimpi itu kepadaku.


“Di antara teman-temanmu yang bermain permainan Daruma San hanya kamu yang berhasil mengundangnya. Dia sudah ada di sini cukup lama untuk menunggumu kembali dari alam gaib kemarin. Di dalam mimpimu tadi malam itu dia memberikan pesan buruk kepadamu bahwa permainan berdarahmu dengannya akan segera di mulai. “


Kak Amara menjelaskannya sambil memejamkan mata untuk masuk ke dalem waktu pada saat aku bermain permainan Daruma San.


“Aku tidak bisa Kak, aku gak mau bermain permainan mistis lagi,” bantahku dengan perasaan trauma yang menyayat sikisku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana jadinya kalau aku masuk ke dalam permainan yang menyeramkan seperti itu lagi.


“Jika kamu tidak mau bermain lagi maka kamu harus mengakhirinya,” jelas Kak Amara kepadaku.


“Caranya?” tanyaku kepadanya.

__ADS_1


“Kamu tahu cara memulai permainan ini tetapi kamu tidak tahu cara mengakhirinya?” Kak Amara kembali bertanya kepadaku histeris.


“Sebenarnya aku memang tidak pernah mengetahui permainan mistis itu sebelumnya Kak,” jawabku khawatir, aku berpikir bagaimana nasibku nanti. Apakah aku bisa melewati semua ini.


“Kalau begitu sebentar ya, Kakak browsing di internet dulu,” Kak Amara mengambil handphonenya di dalam saku bajunya dan kemudian dia pun mencari situs tentang permainan Daruma San di internet.


“Nah ini Kakak dapat!” seru Kak Amara yang ketika dia menemukan situs tersebut. Kemudian Kak Amara pun membacanya bersamaku, kami tidak membaca terlalu banyak karena kami hanya ingin mencari cara mengakhiri permainan ini.


“Yang ini Kak cara untuk mengakhiri permainan Daruma San!” seruku kepada Kak Amara ketika menemukan cara untuk mengakhiri permainan Daruma San.


“Untuk mengakhiri permainan ini, pemain harus melihat sosok anak kecil itu dengan sekilas lalu teriak ‘kitte’ yang berati ‘potong’ dalam bahasa Jepang, sang pemain harus mengangkat tangannya seperti tangan orang yang sedang memasang pertahanan karate, kemudian hantu itu akan memegang tangan sang pemain dan menggoyangkannya ke bawah dalam gerakan pemotong seperti chop karate,” kami membacanya dengan bersamaan dan kemudian kami pun berusaha untuk memahami cara tersebut.


Setelah aku mengerti cara untuk mengakhiri permainan tersebut dan siap untuk mengakhiri permainan tersebut aku langsung memberi tahu Kak Amara.


“Kalau memang kamu sudah siap maka kami akan mengosongkan yayasan ini selama kamu melakukan ritual pengakhiran dan menunggu di luar, selesaikan lah permainan ini dengan baik,” ucap Kak Amara kepadaku.


“Kalau begitu mulailah dengan mengawalinya lagi agar kamu tidak usah susah-susah untuk mencari anak itu,” Kak Amara menyuruhku untuk mengawali kembali permainan tersebut agar aku bisa dengan mudah menemukan anak kecil itu.


Aku mengangguk untuk menerima saran darinya. Kemudian Kak Amara pun keluar dari dalam kamarku untuk memberikan instruksi agar tidak ada satu orang pun di dalam yayasan ini kecuali aku. Kemudian aku pun langsung pergi menuju kamar mandi dan melakukan ritual permainan seperti sebelumnya.


Plup plup plup.


Sosok anak kecil itu pun muncul di belakangku dan kemudian aku melihat pundakku dengan maksud untuk melihat sosok anak kecil itu dengan sekilas.


“Tomare!!!” teriakku dan kemudian aku pun berlari dengan cepat untuk keluar kamarku. Darahku mulai kembali mendidih dan aku juga sangat merasa ketakutan.


Tpok tpok tpok.

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki yang basah dari dalam kamarku dan kemudian aku pun langsung pergi menjauh dari pintu kamarku.


Kreek.


Pintu kamarku terbuka dan kemudian sosok iku kembali melangkah keluar dari kamarku, lalu sosok itu berhenti tepat di depan pintu kamar.


Glek.


Aku menelan ludah sebelum aku mengakhiri permainan ini.


“Kitte!” aku berteriak dan menggerakkan tanganku seperti orang yang sedang berada di dalam posisi karate.


“Iaaaa...” sosok itu berteriak dengan logat Jepang dan kemudian dia pun memegang tanganku, dia menggerakkan tanganku untuk memotong tubuhnya dan kemudian dia pun pergi.


Aku terduduk di lantai setelah permainan itu berhasil aku akhiri, aku merasa sangat lega. Kemudian aku pun kembali bangkit untuk pergi ke luar yayasan dan memberi tahu yang lainnya bahwa aku sudah berhasil mengakhiri permainan Daruma San.


“Airin!” seru Friska dan yang lainnya dan kemudian mereka pun berlari menghampiriku.


“Aku berhasil menyelesaikan permainan itu,” dengan bangga aku memberi tahu mereka bahwa aku berhasil mengakhiri permainan Daruma San.


“Syukurlah,” ucap Bu Sofia yang terlihat sedikit lebih tenang dan kemudian yang lainnya pun menghampiriku untuk mengucapkan selamat. Lalu kami pun bersama sama masuk ke dalam yayasan.


“Kalau begitu sekarang kamu mandi dan ganti baju ya Rin, biar gak sakit,” ucap Kak Amara kepadaku.


“Iya Kak,” jawabku dengan singkat, kemudian aku pun langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamarku untuk mandi dan mengganti bajuku.


Huh, hari ini aku sangat lega sekaligus bahagia karena aku bisa menyelesaikan permainan mistis tadi dengan mudah. Mulai sekarang aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak pernah bermain dengan permainan mistis apa pun itu. Aku tidak mau lagi berada di dalam ketakutan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2