![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Kami sudah sampai di tepi danau, aku pun membantu Riana untuk membersihkan darah yang ada di mulutnya.
“Uhuk! Uhuk!” Riana kembali batuk namun kali ini batuknya semakin parah.
Kali ini dia tidak hanya memuntahkan darah, ada benda berkilau yang keluar dari mulutnya bersamaan dengan muntah darahnya.
“Benda apa itu?” ujar Varel yang kemudian meraih benda itu dan mencucinya dengan air danau.
Aku tidak menghiraukannya dan tetap membantu Riana untuk membersihkan darah dari mulutnya.
“Apa yang kamu rasakan saat ini Riana? Apakah kamu merasa lebih baik?” aku bertanya kepadanya setelah aku melihat seluruh darah yang tadinya ada di mulutnya, kini sudah hilang terbawa air danau yang digunakan untuk membersihkan darahnya.
“Iya Rin! Setelah aku membasuh darah dari mulutku, rasa mual yang sangat parah tadi pun menghilang dan kini aku merasa lebih segar,” jawab Riana dengan senyuman manisnya. Dia masih terlihat pucat dan sepertinya dia tidak berdaya untuk melanjutkan rintangan selanjutnya.
“Oh iya Rel, Benda apa yang kamu ambil tadi?” tanyaku kepadanya setelah aku menyadari bahwa tadi Varel mengambil benda yang berkilau dari tepi danau, ya benda itu keluar bersamaan dengan darah yang di muntahkan oleh Riana.
__ADS_1
“Aku tidak tahu Rin! Benda ini terlihat sangat mirip dengan mustika merah delima,” jawab Varel dengan tetap memperhatikan benda yang sedang di pegang olehnya.
“Mustika merah delima? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu!” ujarku sembari mencoba untuk mengingat kembali tentang mustika merah delima. “Oh iya aku ingat!” seruku setelah aku mengingat kembali tentang mustika merah delima.
“Apa yang kamu ketahui tentang mustika merah delima ini?” Varel bertanya kepadaku.
“Mustika ini adalah benda keramat yang biasa digunakan para tetua untuk menghadapi keadaan genting di dunia lain. Mustika merah delima ini biasanya datang di luar dugaan, karena kehadirannya benar-benar misterius,” jelasku dengan detail kepadanya.
“Dari mana kamu bisa mengetahui tentang mustika ini?” Varel kembali bertanya kepadaku.
“Kakekku yang memberitahu aku tentang mustika merah delima itu, kakek juga bilang kepadaku bahwa mustika ini bisa digunakan untuk menghadapi rintangan sulit di dalam dunia lain,” aku kembali menjelaskan tentang mustika merah delima itu dengan raut wajah yang cukup serius.
Tiba-tiba terdengar suara desisan dari balik badanku.
“Jangan kamu lihat ke belakang Rin! Ayo kita pergi saja!” ucap Varel dengan wajah yang tegang dan dia terlihat begitu ketakutan, dia juga melarangku untuk menoleh ke belakang.
__ADS_1
“Ada apa Rel?” tanyaku kepadanya.
“Ayo kita pergi!”
Varel tidak menjawab pertanyaanku dan kemudian dia pun meraih tanganku dan membawaku berlari bersamanya.
“Ada apa sih Rel?” tanyaku kepadanya sambil ikut berlari. Namun karena dia tidak menjawabnya aku pun menoleh ke belakang dengan penuh tanda tanya dan sedikit penasaran.
“Aaaaa!” aku terkejut setelah menoleh ke arah belakang, aku melihat Riana berlari merangkak layaknya biawak.
“Sudah ku bilang jangan lihat ke belakang!” ucap Varel dengan kesal setelah mendengar aku berteriak karena aku telah menoleh ke belakang.
“Kamu tuh buat penasaran! Kenapa kamu gak jawab pas aku tanya?” jawabku dengan kesal karena aku tidak terima gertakan darinya.
“Sudahlah! Sekarang yang lebih penting adalah kita harus bisa menghindar dari Riana!” tegas Varel sambil tetap menggenggam tanganku dan membawaku pergi bersamanya untuk menghindar dari kejaran Riana yang sedang kerasukan.
__ADS_1
Aku terus berlari bersama Varel dan terkadang aku pun menoleh ke belakang untuk melihat gerak-gerik menyeramkan Riana yang sedang kerasukan.
Bersambung