![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat,
Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat.
Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit,
Cit cuwit rame swara ceh-ocehan.
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret,
Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah,
Bagas kuwarasan.
Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.
Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato.
Suara nyanyian itu terdengar bergema dan mengalahkan derasnya suara hujan. Aku tersadar dan tidak tahu sedang berada di mana. Aku terlentang, kemudian aku bangun untuk bersandar ke tembok.
Krek.
Suara pintu terbuka.
“Hi… hi… hi…” wanita mengenakan pakaian putih abu-abu berdiri di depan pintu yang tiba-tiba terbuka. Wanita itu tertawa.
Aku menatap wajahnya dan berusaha untuk mengenali wajahnya yang tertutup rambut.
“Kamu siapa?” tanyaku kepadanya.
“Mereka harus membayarnya!” wanita itu mengangkat pandangannya dan kemudian dia masuk ke tubuhku untuk mengambil alih.
Aku berdiri dan berjalan atas kendali wanita itu, dia mengendalikan diriku berjalan keluar dari kamar mandi dan membawa ke arah yang dia inginkan.
“Eh Airin kamu kok lama banget?” tanya Friska kepadaku. Aku bertemu dengannya dan Riana pada saat aku berjalan menuju arah yang ingin dituju arwah yang mengendalikan tubuhku.
__ADS_1
Aku tidak menghiraukan Friska dan Riana, aku terus berjalan menuju tujuan yang dituju oleh arwah yang mengendalikan diriku.
“Ada yang aneh dari Airin,” kata Riana kepada Friska setelah melihatku yang terus berjalan dan tidak menghiraukan mereka.
“Iya Riana, Kamu benar! Kok dia kelihatan pucat dan pakaiannya juga basah kuyup,” jawab Friska sambil menggigit jari telunjuk. Mereka berfirasat buruk tentangku.
“Aaaa…”
Suara jeritan terdengar nyaring dan membuat Riana dan Friska melihat ke arah sumber suara tersebut yang berasal dari kelas X A.
“Airin,”
Mereka saling menatap satu sama lain dan setelah itu mereka pun bergegas berlari menuju sumber suara yang terdengar sangat kuat.
“Airin,” Riana dan Friska syok melihatku berdiri dengan keadaan pucat dan di sekelilingku ada gerombolan orang jahat yang beberapa menit tadi mereka telah membullyku.
Arwah yang merasuki tubuhku mengundang para arwah penghuni sekolah yang lainnya untuk merasuki mereka yang tadi membullyku.
“Siapa kamu?” tanya Friska kepada arwah yang sedang merasuki tubuhku dengan khawatir.
“Ta lelo lelo,” jawab arwah itu sambil menari. Sedangkan kelas X A mulai ramai di kerumuni oleh orang-orang yang penasaran ingin melihat kesurupan massal.
“Ada apa ini?” tanya Varel dan teman laki-laki yang lainnya kepada Friska.
Guru-guru pun mulai berdatangan dan kelas X A semakin ramai dan padat oleh murid-murid yang penasaran dengan tragedi kesurupan massal.
Sebagian besar dari mereka dikendalikan arwah untuk melakukan kegiatan jahat yang pernah dilakukannya kepada dirinya sendiri. Sedangkan yang selebihnya hanya teriak-teriak tidak jelas.
“Biar kami coba bantu,” tawar anak-anak dari yayasan indigo seperti Riana, Friska, Bagas dan lainnya.
“Silahkan,” jawab salah satu guru perempuan.
Kemudian mereka pun bergerak untuk mengeluarkan para arwah yang merasuki murid-murid.
Mereka berhasil membuat separuh dari murid yang kerasukan tadi sadar. Mereka terus mengobati murid dengan satu persatu hingga tinggal aku yang tersisa.
“Arwah yang merasuki Airin sepertinya sangat kuat,” kata Bagas kepada teman-teman yang lainnya.
“Kita harus menyanyikan lagu tolak bala untuk mengusir arwah itu,” kata Bima memberikan saran.
“Baiklah kita akan mulai di hitung ke empat,” jawab Alex.
__ADS_1
“Baiklah! 1,2,3,4,” lagu tolak bala pun dinyanyikan.
“Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat,
Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat.
Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit,
Cit cuwit rame swara ceh-ocehan.
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret,
Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah,
Bagas kuwarasan.
Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.
Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato.”
Lagu tolak bala sudah dinyanyikan tetapi arwah yang merasuki tubuhku tidak kunjung keluar juga.
“Permisi, apakah kamu bisa keluar dari tubuh ini?” tanya Varel kepada sosok yang sedang bersemayam di dalam tubuhku.
“Anak muda saya ingin memberikan pesan! Dengarkan sebelum saya pergi!” kata sosok yang merasuki tubuhku kepada seluruh murid dan guru yang sedang menontonku.
“Sampaikan lah!” jawab Varel dan kemudian sosok itu pun berpesan kepada seluruh murid dan guru untuk menindaklanjuti para pelaku bullying.
Kemudian, sosok itu pergi meninggalkan tubuhku. Varel menangkapku yang hampir saja terjatuh pada saat sosok tadi keluar dari dalam tubuhku.
Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.
Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato.
Suara akhir dari lagu tolak bala tadi kembali terdengar dan sumbernya tidak diketahui.
__ADS_1
Bersambung