![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Tin... tin…
Klakson bus yayasan berbunyi, menandakan bahwa teman-teman sudah pulang dari sekolah.
“Saatnya aku pergi,” kata Tom kepadaku dan kemudian dia mengajakku untuk kembali ke kamar.
Krek.
Tam membukakan pintu untukku dan mengajakku masuk ke dalam kamar. Kak Amara dan Belia masih berkomunikasi.
“Belia, ini saatnya kita pergi!” Tom menghentikan pembicaraan antara Kak Amara dengan Belia. Belia kemudian melihat ke arah Tom sejenak dan dia pun berpamitan kepada Kak Amara.
“Amara! Aku pamit pergi ya,” kata Belia dengan ramah.
“Baiklah! Sering-sering lah kalian berkunjung ke sini!” jawab Kak Amara sambil memberikan pelukan perpisahan kepada Belia.
“Kalau ada waktu kami pasti akan berkunjung,” jawab Belia sambil tersenyum dan Kak Amara pun merespon jawabannya dengan senyuman dan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Belia mendekatiku dan berbisik. “Sekarang eyang Darmo sudah mengizinkan kami untuk bertemu denganmu, karena kamu telah mengerti makna dari HABIS GELAP TERBITLAH TERANG. Sekarang kamu bisa memanggil kami di kala kamu membutuhkan kami,” bisik Belia dengan detail.
“Terima kasih atas kunjungannya,” jawabku sambil tersenyum.
Kemudian Belia pun mundur tiga langkah dan dia menggandeng tangan Tom. Mereka akan kembali ke tempat mereka.
“Tom maaf ya,” ucap Kak Amara sebelum Tom pergi meninggalkan kami.
“Maaf? Soal apa?” tanya Tom dengan bingung.
“Maaf tadi gwe udah bilang kalau lu itu setan dan lainnya,” kata Kak Amara sambil tertawa kecil.
“Oh santai aja lah! Itu bisa kok,” jawab Tom dengan senyuman manisnya, kemudian dia dan Belia pun melambaikan tangannya kepadaku dan Kak Amara.
“Kami titip Airin ya!” pesan Tom kepada Kak Amara.
“Sampai jumpa Airin dan Amara!” kata Belia sebelum akhirnya mereka pergi menghilang kembali ke tempat mereka.
Tok tok tok.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar.
“Siapa itu?” tanya Kak Amara kepada sumber suara itu.
“Kami kak,” jawab seseorang dari balik pintu. Aku mengenal suara itu, ya benar! Itu adalah suara Friska.
“Silahkan masuk!” Kak Amara mengizinkan mereka masuk ke dalam kamarku.
“Airin!!”
Cara mereka masuk begitu liar dan kali ini mereka datang bersama Tatik dan gengnya.
“Eh ada adik-adik dari SMA Negeri 2 Gantung,” sambut Kak Amara dengan ramah dan sopan.
Kemudian Friska dan yang lainnya menggeleng karpet di lantai kamarku kemudian mempersilahkan Tatik dan teman-temannya duduk.
“Kalian mau minum apa?” tanya Kak Marlina yang ikut hadir bersama mereka tadi.
“Nggak usah repot-repot Kak! Sebentar lagi kami juga harus kembali pulang ke rumah masing-masing. Kami datang ke sini hanya bermaksud untuk meminta maaf kepada Airin dari semua kejahatan yang sudah kami lakukan kepadanya,” jawab salah satu dari mereka dengan detail.
“Belum ada waktu Kak! Mungkin kapan-kapan aja,” jawab Tatik sambil tersenyum. “Kami langsung ke inti aja deh! Rin kami mita maaf ya karena kami sudah membullymu,” kata Tatik mewakili puluhan teman-temannya di mana mereka hanya menundukkan pandangannya seolah menyesali perbuatannya mereka.
“Saya gak pernah marah kok,” jawabku sambil tersenyum.
Mereka sangat senang dan kemudian satu persatu dari mereka berjabatan tangan denganku dan meminta maaf kepadaku.
Kemudian kami berbincang-bincang untuk mendekatkan satu sama lain. Bahkan kami juga sudah mulai bercanda-canda bersama.
Dar.
Pintu kamarku terbuka dengan keras sehingga membuat aku dan yang lainnya kaget. Kami pun melihat ke arah pintu.
“Klara?” kata Kak Amara dengan nada tanya.
“Keluar kalian semua!” Klara teriak dan terlihat sangat marah bahkan depresi. Tatik dan teman-temannya berlari sembunyi di belakang Kak Amara.
“Klara, kamu kenapa?” tanya Kak Amara.
__ADS_1
“Mereka semua adalah keturunan pembunuhan! Usir mereka dari sini!” jawab Klara dengan logat Jawa.
“Ini Ibu ya?” tanya Kak Amara kepada sosok yang merasuki Klara, Kak Amara mengetahui kalau Klara sedang di rasuki hantu pendampingnya karena cara berbicaranya yang menggunakan logat Jawa.
“Iya,” jawab sosok itu dengan singkat.
“Ibu, kedatangan mereka ke sini itu baik Bu! Ibu jangan marah-marah ya! Kasih mereka ketakutan,” jelas Kak Amara kepada sosok yang merasuki tubuh Klara.
“Itu hanya omong kosong belaka! Mereka itu anak-anak yang munafik!” kata sosok itu dengan nada tinggi, dia kelihatan sangat marah.
“Ibu, berikan lah mereka kesempatan untuk berubah,” kataku mengambil alih untuk menenangkan sosok penjaga yang sedang merasuki Klara.
“Aaa…” Klara teriak dan kemudian dia pingsan, sosok itu pergi meninggalkan jasad Klara setelah mendengarkan kata-kataku tadi.
“Gita, tolong kamu panggilan Kakak-Kakak cowok di bawah! Bilang ke mereka tolong angkat Kak Klara, dia pingsan,” perintah Kak Amara kepada Gita.
“Baiklah Kak,” jawab Gita lalu pergi untuk memanggil anak laki-laki.
Sedangkan sembari menunggu anak laki-laki datang, Riana dan Friska mengangkat Klara ke karpet. Aku heran, tadinya aku pikir Klara sudah sembuh dan ikut pergi ke sekolah, ternyata dia masih berada di kamarnya.
“Adik-adik! Maaf ya atas insiden ini,” kata Kak Amara meminta maaf kepada mereka.
“Iya Kak gak papa kok,” jawab mereka dengan ekspresi wajah yang terlihat syok.
Tok tok tok.
Gita datang mengetuk pintu. Dia membawa Bima dan Varel.
“Masuk,” ucap Kak Amara kepada mereka dan kemudian mereka pun mengangkat Klara dan membawanya ke kamarnya dengan di dampingi oleh Riana, Friska dan Dara.
Sedangkan aku, Kak Amara, dan Gita pergi mengantarkan Tatik dan teman-temannya ke bawah. Kami mengantarkan mereka sampai ke bus yayasan. Mereka di antar pulang dengan bus yayasan oleh Kak Aditya.
“Kami pamit ya,” Tatik berpamitan mewakili teman-temannya sebelum dia naik ke dalam bus yayasan.
“Hati-hati,” jawab kami dengan kompak dan kemudian bus yayasan pergi meninggalkan kami.
Bersambung
__ADS_1